Sajak DG Kumarsana
Dari waktu ke waktu sebuah penampungan pengungsi, yang tak pernah mengkhayalkan hal ini mesti terjadi, suatu peristiwa buruk yang menimpa. Maka karena perang itu, sebuah makar yang telah terencana yang tidak akan pernah mencipta kenyaman rakyat dalam bernegara, sebuah pemberontakan terhadap ketidakpuasan atas kekuasaan, manakala terompet kekerasan telah dibunyikan. Maka kami hanyalah rakyat sipil yang hanya mampu mengeluh, membayangkan sebuah ketakutan dari peristiwa maha pahit yang akan terjadi, melanda jiwa kami. Tak akan ada yang mampu membungkam jerit kedamaian darimana suara hati kami yang sesungguhnya mengutuk kekerasan itu terjadi. Semena-mena teriakan demokrasi. Tuhan hanya sebuah teriakan tak ubah yel yel yang mengatas namakan keadilan. Terbentuk satu kata yang pula membungkam nurani kami semua. Rakyat yang menjadi jelata, karenanya keangkaraan mulai merajalela, kezaliman mulai mewabah sebagai sebuah penyakit terkutuk, tak mampu terhindarkan selaku rakyat sipil yang bernaung di bawah panji panji bendera. Negara yang sakit.
Siapakah yang patut dipersalahkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar