Sajak : DG Kumarsana
Lewat rintik hujan yang kian merata membaurkan air pada tanah pelosok desa
mata bening itu terlihat tanpa cermin berhamburan : menatap kosong
mata membias dalam kepolosan anak-anak yang belum peduli arti kesedihan
ibu kemana, nak. ibu hilang ditelan malam, jawabnya enteng
sepasang kanak berpasangan tidak memancarkan kebohongan melindungi hatinya
dalam keceriaan jauh melampaui kesedihan
tidak ada yang hilang nak, ujar seseorang seolah menjanjikan ruang kenyamanan
tubuh masih kosong dalam goresan peristiwa, terbentang melompong
mata kanak-kanak tak berupaya menyepikan kerinduan
perlahan mengabaikan kasih sayang, tidak menyisakan sedikitpun kecemasan
akan sesuatu yang hilang dalam keseharian
entah mempertanyakan selaput rahim ibu hanya lintasan
atau hanya melintas
dalam persalinan
atau rahim pernah ragu mengisi kasih sayang dari ketuban dipaksa pecah
pada anak-anak hari ke hari akan belajar menyepikan arti kehadiran
seorang ibu
tak mau bertanya entah kapan akan pulang
menggumpal keraguan menghuni rumah kedamaian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar