“Bapak punya hotelnya. Kan sudah bapak katakan tadi. Di kawasan wisata Sanur.”
“Beneran nih pak?” Masih Wina seperti tak percaya menatap mata pak Wijaya. Mata lelaki itu mengedik seperti mata berpengalaman menyimpan wibawa.
Mata Wina semakin berbinar menyorot senang tak terkira. Entah nama hotelnya apa, Wina tak terlalu memikirkan lagi, atau memang lupa mengejar dengan pertanyaan itu saking gembiranya. Rasa kegembiraan yang menyentak-nyentak meluap masih tidak lepas dari sifat kekanak-kanakannya.
Sangat berbeda memang kata-kata yang keluar dari seseorang yang berpengaruh. Orang berpengaruh memang terasa wibawanya. Kewibawaan yang muncul dari kata-kata yang keluar sebagai sebuah ucapan demikian berpengaruh. Kata-kata yang dapat diartikan sebagai sebuah perintah yang tidak boleh ditentang. Memang tidak perlu untuk ditentang. Ada kesan hormat pada lelaki ini. Wina mempercayai itu. Sulit dipercaya kalau orang berpengaruh memiliki perhatian demikian besar terhadap dirinya bahkan terkesan bersifat sangat pribadi. Apalagi menyangkut soal statusnya yang belum jelas karena masih dalam keadaan menganggur. Pekerjaan Wina saat ini hanya masih bersifat free lance. Belum ada kepastian.
Lelaki itu disegani sebagai seorang tokoh partai Golkar, sebuah partai berlambang pohon beringin. Partai besar dengan pengaruhnya yang besar dan termasuk salah seorang kepercayaan gubernur. Kata-kata itu pernah diucapkan lelaki itu pada Wina. Betapa meyakinkan janji itu. Wina tidak percaya kalau sebuah janji pekerjaan di sebuah hotel ternyata diawali dengan ‘interview’ gaya seorang pejabat teras seperti pak Wijaya. Dalam sebuah kamar hotel yang jauh dari pantauan orang.
Apakah ini yang dimaksud lelaki itu sebagai sebuah janji? Janji untuk bekerja di sebuah hotel? Memang telah lama sejak dia terjun dalam kegiatan sebagai aktifis di kegiatan kepemudaan yang juga merupakan pendukung kuat dari partai berlambang pohon beringin itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar