Hari sekarang dan hari yang akan datang, sebagai manusia masih sangat awam sekali untuk mengetahui ketentuan akan nasibnya sendiri. Manusia banyak kabur tentang kehakikian hidupnya sendiri, apakah itu persamaan-persamaan yang ada, di dalam pikirannya dan juga perasaannya. Juga perbedaan yang meliputi kehendak yang disebut kemauan antara kemauan yang satu dengan berbagai jenis kemauan-kemauannya yang lain. Manusia kurang meyakini bahwasanya apa yang tengah ia tekuni di dunia ini adalah keseluruhannya itu ada karena sebab-NYA. Mungkin manusia selalu memandang sesuatu itu hanya berpedoman pada hal-hal yang realitas semata. Ia sering keliru, namun jarang sekali akan dapat menemukan penyebab-penyebab yang menimbulkan kekeliruan itu terjadi. Inilah sebabnya mengapa manusia dalam hidupnya jarang dapat mengetahui pribadinya sendiri, juga kadangkala kurang pernah mau terbuka terhadap dirinya sendiri. Artinya kalau kita tanya dalam lubuk hati terdalam : Sudah jujurkah kita pada nurani kita sendiri?
Dapatkah manusia mengetahui siapa sesungguhnya dirinya itu? Atau apakah yang nampak itu sebenarnya diri kita sendiri yang hanya nampak sekadar untuk dapat berpikir, berkata-kata maupun berlaksana sebagaimana mestinya?
Bilamana manusia itu dapat kita beri predikat sebagai sebuah kata “sifat”, maka barangkali dialah “aku”nya. Tetapi sungguh sayang sekali, kalau manusia kurang memahami bahwa lapis terluar dari dirinya sendiri adalah merupakan sifatnya itu sendiri. Catatan ini diturunkan bukanlah berarti untuk memberikan batasan-batasan tentang siapa sesungguhnya manusia secara makro, seperti pertanyaan tersebut di atas, sehingga dapat diketahui siapa sesungguhnya manusia yang sebenarnya itu. Catatan ini hanyalah terbatas pada manusia yang secara realita dapat melahirkan manusia-manusia yang lebih banyak dalam karakter yang sebenarnya penuh akhlak yang benar. Atau mungkin akan lebih tepat kita katakana ia adalah istri dari seorang suami. Sebab dengan gambaran batasan ini, masih ada kemungkinan pula ada jalan untuk mempermudah pengertian konsep mana sesungguhnya yang dinamakan sadwi.
Secara universal manusia ( tanpa terkecuali ) memiliki dua kewajiban yang harus dijunjung demi terjaminnya hubungan yang selaras terhadap penyesuaian diri dengan alam di seklilingnya, yakni:
- Kewajiban hendak menyelaraskan hubungan badan dengan paramatma di dalamnya.
- Kewajiban untuk menyelaraskan hubungan mahluk yang berbeda-beda, yaitu para dewa,pitra,Rsi, manusia juga mahluk-mahluk lainnya.
Kedua kewajiban itu harus dijalankan dengan brata, misalnya tidak dengan sembarangan memakan makanan yang semata-mata dibutuhkan oleh tubuh. Memang manusia yang normal dapat merasakan segala rasa yang ada. Tetapi kalau kita camkan Bhagawadgita XVII syair ke 9 dan 10 bahwa: tidak semua makanan yang mengandung rasa dapat menumbuhkan perasaan, jiwa dan sifat yang baik; seperti misalnya makanan yang terasa pahit, asam, panas,pedas yang memberikan perasaan tidak enak dan cocok untuk disukai langsung oleh orang yang bersifat rajah/bernapsu (ahara rajasayesta, dukha cokamayapradah).
Demikian pula makanan yang terasa hambar, mentah,busuk memang cocok dan sangat disukai oleh orang yang bersifat tamak/malas (bhoyanam tamasapriyam). Lebih-lebih bagi seorang istri atau katakanlah beberapa waktu kemudian ia akan melahirkan putranya, sudah barang tentu jenis makanan yang demikian kurang bermanfaat baginya. Sebab bagaimanapun juga semua rasa itu akan mempengaruhi sifat putrinya yang kelak akan lahir. Selebihnya lagi ibu yang sedang hamil di samping membutuhkan kasih sayang, cinta dari suaminya, cinta akan kebenaran dan kejujuran. Sebab kalau sudah demikian itu berarti bagian dari sukma sarira yang meliputi pikiran seorang istri untuk siap mengemudikan indriyanya.
Sehubungan dengan pikiran dan indriya yang harus dibersihkan, maka terlebih dahulu hendaklah terinci juga untuk memasukkan makanan ke dalam tubuh. Jenis makanan yang cocok adalah makanan yang dapat memberi hidup, kegiatan, kekuatan, kesehatan sebagaimana yang disukai oleh orang satwa (Aharah satwikapriyah).
Dari bunyi sloka 26-28 Manusmrti XI ditekankan bahwa: kehadiran seorang istri di mata suami tak beda dengan Dewi Cri (Dewi Kemakmuran) yang menjadi saktinya Dewa Wisnu, seorang wanita yang menjadi istri dari seorang lelaki sudah barang tentu melangkah dari proses perkawinan yang memiliki tujuan untuk meneruskan keturunan. Ia yang mampu mempunyai anak, kemudian memelihara yang telah lahir itu, maka dialah (wanita) yang menjadi sumbernya.
Kehidupan yang menjadi lingkungan graham ini betul-betul membutuhkan pengabdian, tanggung jawab, kebahagaiaan, surga untuk leluhur maupun diri sendiri.. Semuanya itu memang harus mendapat dukungan dari istri. Jika tidak demikian, segala sesuatunya akan masih nampak kurang sempurna. Dan pada sloka 29 diberi kejelasan sebagai berikut:
Patim, yanabhicarati/mamugha deha sangyata/sabhartriokam apnoti/sadbhih sadhwiti cocyte//
Maksudnya: (wanita) yang (kuat) mengendalikan pikiran, perkataan dan tubuhnya, tidak menyalahgunakan (kehormatan) suami, dia akan mendapatkan alam (akhirat) bersama dengan suaminya dan dia diberi julukan orang budiman “sadwi” (wanita susila).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar