Sabtu, 07 Januari 2012

M A T I

cerpen : DG Kumarsana




Kalau aku mati kelak, telah kubayangkan siapa nantinya yang bakal menyesali kematianku. Jasad halusku akan berjalan tertatih-tatih menuju suatu kepekatan musim yang tak terkirakan berbeda dari panas dan dingin, karena batas panas telah menjadi persimpangan dan dingin itu kupikir tak perlu untuk dirasakan lagi, dalam artian, jasad halusku kembali bebas dari himpitan badan kasar yang selama ini dengan sangat angkuh dan demikian beraninya menggendongiku dengan berbagai problema yang terkadang memiliki dampak yang sangat jelek bagi bathinku sendiri.
            Nyatanya yang terlihat jelas sosok badan yang sakit, jantung yang berdenyut lebih cepat dari biasanya, mempengaruhi gerakan darahku, mempengaruhi waktu-waktu mimpi, insomnia kata seorang dokter yang sempat kudatangi, pikiran yang selalu keruh, datangnya tidak secara tiba-tiba bahkan memiliki kelebihan pada lambung yang bertukak penuh. Kupikir inilah kecutnya asam cuka dalam lambung dan berusaha mangkir dari keadaan yang sebenarnya akan kecutnya hidup yang kuhadapi. Sesungguhnya, kawan; jasad kasarku telah reyot dan dangkal oleh pikiran-pikiran duniawi.
            Jasad kasarku telah menjadi proses seperti apa yang pernah kita kutip tentang pernyataan seseorang yang menamakan dirinya si Andy Wahrol yang selanjutnya diikuti oleh si Amir, si Udin, si Ujang dan demikian banyaknya pada akhirnya kukatakan manusia-manusia mesin tumbuh di daratan yang bebas dari suara hati nuraninya sendiri-sendiri. Demikianlah kawan, betapa gerakan begitu terasa lepas dari segala himpitan-himpitan yang senantiasa membelenggu kebebasanku, namun betapa mungkin itu? Akan terjadikah itu dalam proses yang kualami saat ini? Tidak! Betapa tidak menariknya menjadi nurani bermesin.Aku telah menjadi robot, kawan.Nuraniku telah hilang entah kemana, bisikan-bisikan halus tidak kudengar lagi. Akankah aku bebas setelah orang mengisyaratkan kelumpuhanku, setelah orang membicarakan kematianku?
            Namun kali ini aku masih sempat berjalan, walau tidak tertatih-tatih pun tidak mesti berlari dari kejanggalan-kejanggalan pikiranku yang senantiasa terus bergerak menghentakkan aku untuk sekilas menoleh pada perjalanan masing-masing orang yang tak pernah menghentikan kesibukannya. Seperti kebiasaan melanda rasa haus, rasa lapar dan sebuah perjalanan yang menjaga jarak. Aku tahu perasaan itu senantiasa bimbang tatkala melewati segerombolan orang-orang kelaparan, sebuah perjalanan bisu tanpa bersinggungan tegur dan sapa. Sebuah jembatan tua dan hampir remuk tertikam usia tua karena kewalahan akan beban dan waktu yang panjang kuinjak, seperti menginjak keasingan. Dan desir angin tak ubahnya rintihan menggelitik kehampaan akan sesuatu yang tak tergambar jelas dalam ingatan, seperti pernah dikenalkan akan keadaan yang sebenarnya sedang aku tempuh. Sebelumnya, barangkali! Namun entah dimana.
            Ah, ya. Aku ingat. Satu wajah halus seperti tersenyum. Aku mengenalnya. Ya, aku sangat mengenalnya, bahkan lebih dari sekadar perkenalan biasa. Bukankah itu wajah temanku semasa di rantau dahulu yang kabarnya mati tenggelam ketika ingin mencari pekerjaan di tanah asing bersama para TKW gelap lainnya. Ya, aku ingat! Itu kawanku.
            ”Hai, apa kabar?” aku berteriak menggapai. Namun satu suarapun tak keluar. Ia masih tersenyum dan wajahnya pucat, tidak secantik seperti apa yang pernah tergambar dalam masa lalu yang sempat memojokkan aku lewat kenikmatan sekilas.Namun itu hanya kepuasan sekilas yang ternyata menghasilkan suatu penderitaan panjang yang tergambar jelas dimatanya. Kawanku yang paling akrab kukenal dalam setiap kerutinanku, dalam setiap hari-hariku yang sumuk, kini seperti memendam kesakitan. Penderitaannya panjang yang telah menggumpal membentuk darah, menyumpal semua persendian gerahamnya, hingga tidak mampu untuk menceritakan segalanya, sekalipun kepada kawan terdekat. Misalnya: aku. Namun darah itu melambai membentuk tangan-tangan yang mengharapkan suatu belaian lembut, sekalipun tangan lembut yang tak menjanjikan datangnya pertolongan, sekalipun dosa itu pernah datang yang bahkan lebih kusempurnakan lagi bersamanya. Namun aku tetap merasa lebih berdosa lagi. Kusumpal mulutku dengan segala ketakbecusan yang selama ini terasa terlalu menyia-nyiakan harapannya.
            Dan kabar terakhir kawanku datangnya lewat surat walau aku berusaha untuk melupakannya dengan anggapan tak perlu lagi mengingat sesuatu yang tidak memberi arti apa-apa. Aku terhenyak. Suara rintihan itu terdengar lagi, demikian menyayat.
            ”Ya, sebentar, kawan,” aku disini. Aku akan datang menolongmu walau hal itu seharusnya tidak aku lakukan. Semakin berusaha aku mendekat, semakin dihadapkan pada jarak yang sama. Namun aku tetap berusaha. Aku akan puas melakukan sesuatu sampai pada satu tujuan tertentu, entah itu menghasilkan sesuatu buatku atau tidak sekalipun. Aku tidak pernah peduli akan apa yang terjadi nanti. Aku mesti melakukannya. Karenanya aku berusaha menggapai teriakanmu. Peluhku semakin deras mengalir sampai aku tidak tahu sampai dimana kegagalanku bahkan setelah menyadari ini benar-benar gagal dan telah terjadi pada diriku. Aku gagal, kawan.
            Dan badai itu datang, mengamuk menghancurkan segalanya. Perahu kecil itu oleng dan terbalik. Aku menjerit, benar apa yang telah menjadi pratanda kegagalanku tentang dirimu, kawan. Dalam kegelapan mataku, kusaksikan kawanku yang pernah aku temukan dalam hidupku hancur berkeping-keping. Tubuhnya berantakan. Begitukah cerita tentang kematian yang datangnya bagaikan sebuah mimpi?
            Aku menunduk lesu.
            “Bli...........” terdengar suara setengah merdu setengah serak. Ada bayangan tubuh terpantul mendekat. Aku menoleh. Ah, Sariyem, engkau disini. Aksen Balimu jelas, karena engkau pernah belajar membuat banten, membuat peralatan persembahyangan, menata janur dan banyak lagi tentang kegiatan upacara agamaku engkau jalani ketika aku pernah terpikat. Tapi, ah!! Kenapa wajahmu begitu? Tidak seperti apa yang pernah aku kenal sebelumnya.
            Wajah yang dulunya cantik menawan, menjadi idaman setiap lelaki yang pernah menjadi rivalku dalam memperebutkan dirimu. Wajah yang menjadi pujaan setiap orang menjadikan aku kini tak kuat bertahan untuk menatap. Kutatap wajahnya.Ia tersenyum. Giginya hampir tanggal. Keropos, seperti saling berebut mempertontonkan segala  kejelekan yang ada. Bopeng dan lobang-lobang. Penuh guratan luka menyayat-nyayat seluruh tubuhmu.
            ”Kamu bukan Sariyem. Iyem sudah tidak ada dalam hidupku,” aku berusaha menghindar.
            ”Bli, ini aku. Kekasihmu dulu. Duluuuuu sekali, ketika engkau hampir berhasil meminang aku,” suara itu terdengar merintih-rintih. Seperti ingin diakui keberadaannya disana. Tangannya mengembang. Ah! Aku menutup hidung dari celah-celah jari tangannya keluar cairan. Ketiaknya dan di setiap lekuk wajahnya menetes cairan yang menusuk hidung.
            ”Kamu bukan Sariyem. Kamu WTS.” pekikku tajam sambil menatap wajahnya yang nyengir penuh lobang-lobang memuakkan.
            ”Kamu mengobral cinta, bergaya hidup mewah. Kamu lari dari satu tempat ke tempat lain, dari satu laki ke laki lain. Bergantian laki-laki silih berganti datang dalam hidupmu, dalam pelukanmu, karena kamu menyukai itu. Kamu bukan kekasihku, kamu pelacur rendah. Kamu meninggalkan aku dan pergi dengan laki-laki lain, yang lebih kaya karena kamu tahu, aku tidak akan mampu menjamin hidupmu kelak, menjamin kelangsungan masa depanmu. Kamu tidak peduli dan tidak pernah mau tahu bagaimana perasaanku waktu itu. Tahukah kamu, aku hampir bunuh diri karenanya? Sekadar untuk membunuh perasaanku yang sengaja kau tikam di mataku, aku berusaha untuk jinak dengan segala bentuk pelarian yang sesungguhnya juga tidak aku inginkan itu.Dan kamu pengecut. Kamu lebih dahulu meninggalkan aku, bahkan kabar kematianmu dibuat begitu berlebihan dan sangat besar-besaran. Koran ibukota memuat berita kematianmu. Aku sempat membaca karena aku iseng dan ingin tahu kebodohan-kebodohan yang sedang kamu lakukan dan.....astaga! Ternyata ada juga yang lebih bodoh dari apa yang kamu lakukan. Sekali lagi, kebodohanmu membuat koran-koran yang haus berita datang menyerbu mayatmu: Seorang wanita”P” dengan initial ”S” kedapatan mati tertikam belati di hotel X yang megah. Dan aku iri melihat fotomu dilihat orang-orang. Kamu jadi bahan pergunjingan di sana-sini. Dari hidup sampai mati engkau jadi obyek orang-orang. Sensasimu terlalu tinggi di mataku atau memang sengaja engkau tinggi-tinggikan agar aku semakin cemburu padamu. Dan ini makin membuatku sakit hati, hei, perempuan sialan! Kenapa harus kamu yang lebih dahulu mati di saat aku telah mempersiapkan belati buat kematianku? Sungguh! Sekarang baru ingin aku ungkapkan itu. Kamu selalu menyenangi kegagalanku, kamu wanita pengecut, kamu.....”
            ”Stop! Stop! Hentikan omongan bau itu. Semuanya telah terjadi. Tak ada yang perlu disesali lagi,” wanita itu memutuskan pembicaraanku.
            Kupandang ia lekat-lekat. Airmukanya memantulkan wajahku. Kulihat wajahku yang kuyu di matanya. Kaku dan penasaran. Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang bergolak dalam dada, dalam tubuh. Marah, dengki, panas, sakit hati dan semuanya bercampur aduk menjadi satu. Badanku ibarat kawah yang menggelegak, bergelora, kepanasan terkadang bergoyang-goyang dahsyat seperti tak kuasa untuk menahan suatu beban yang maha berat.
            ”Kamulah yang menyebabkan aku begini, hei, laki-laki egois!” ia menuding. Telunjuknya tajam mengarah ke mataku, seperti matanya yang masih tajam dan awas, seperti ketajaman belati yang siap mengiris-iris tubuhku.
            ”Kamu laki-laki egois, laki-laki tak tahu diri. Maunya menang sendiri! Tidak hanya puas memiliki apa yang pernah berarti bahkan sangat kupertahankan dalam hidupku. Kamu ikat kedua tanganku, kakiku, bahkan kamu ikat pula perasaanku yang seharusnya bebas untuk aku miliki. Tidak! Tidak itu saja, malah banyak wanita-wanita yang bertebaran dan berarti dalam hidupmu. Tanpa aku ketahui. Pergaulanmu hanya dibumbui wanita-wanita. Semasa hidupmu, prestasimu hanyalah wanita saja. Aku tahu, kamu hanya berkedok kesibukan.Alasan kantor kamu jadikan tongkat untuk memukul kepalaku, menyodok mataku, membungkam mulutku lalu kamu ikat sesuka hati sampai aku sakit hati dalam kedunguan, ketakberdayaan, ketaktahuan. Belakangan aku mengetahui dari kolegamu di kantor. Siapa yang lebih sakit hidup dalam kebohongan, siapa yang memulai kebohongan itu Siapa?? Seharusnya aku yang iri, bukan kamu. Coba bayangkan, aku sendirian menunggumu sementara yang kutunggu sibuk dengan wanita-wanita lain. Itukah kehebatan kariermu? Salahkah kalau selanjutnya aku sangat mengagungkan emansipasiku? Salahkah itu? Salahkah kalau selanjutnya akupun turut serta sibuk, turut serta berkarier, seperti kariermu itu?” wanita itu nyeroscos di hadapanku. Matanya mendelik-delik, urat di lehernya menonjol keluar, tubuhnya bergetar. Dari mulutnya keluar cairan yang sangat menjijikkan.
            Aku bergetar. Barangkali takut, tapi bau busuk itu menyebabkan kepalaku pening. Pandangan jadi berkunang-kunang. Keringat mulai mengucur. Aku mulai cemas dan kecemasan itu cukup beralasan, kupikir apa yang keluar dari ucapannya akan menjadi busuk buat pendengaranku sebagaimana kebusukan yang pernah terjadi dan aku lakukan padanya dan alasan itu cukup masuk akal karena ia telah mengetahui semuanya seperti apa yang tak terbayang dan tak kuketahui selama ini dan dia benar-benar mengetahuinya. Keringatku kembali mengucur mengetahui hal itu. Kuraba seluruh badan, telinga, leher, hidung, mata dan semua yang dapat aku jamah. Semuanya basah. Aku mulai takut. Sambil menatap matanya, wajahnya dan sekujur tubuhnya, tanpa terasa kakiku mundur setindak demi setindak. Aku takut, jangan-jangan kebusukan itu akan menjalar ke seluruh tubuhku berikut dengan segala bopeng-bopeng di wajahnya.
            ”Kamu takut, Sam?” Wanita itu mengeluarkan suara yang menyeramkan. ”Apa yang kamu takutkan, Sam? Apa? Wajahku? Tubuhku yang bau? Atau kebohongan-kebohonganmu selama ini? Kamu takut disaat kamu harus menghadapi sebuah kematian?”
            ”Tidak! Aku tidak harus mati sekarang,” teriakku kuat-kuat.
            ”Tidak?” Mengapa Sam, mengapa harus takut di saat semua orang akan mengalami ketakutan dan kengerian yang sama tentang kematian? Atau kamu menyukai kebodohan-kebodohanmu seperti yang kamu katakan itu semua tentang kedunguanku selama ini? Semasa hidupku?”
            ”Tidak pernah aku katakan tentang ketakutan yang berarti dalam kematian setiap orang. Yang aku katakan, kamu telah hilang, telah lenyap dari hidupku. Kamu telah mati dalam masalah-masalahmu, Sari. Tapi aku tidak. Aku masih bernapas, masih menghirup masalah-masalah, masih menikmati arti sakit, pingsan, mimpi-mimpi yang buruk, wanita dan kamu tidak. Kamu pengecut yang kamu nikmati semua itu lewat pelarian kematian. Dan satu hal, kematianpun tidak selamanya pernah datang pada setiap orang yang menginginkan hal itu terjadi, walaupun itu semua sudah merupakan ketentuan dari garis kehidupan. Bukan kamu yang menentukan letak kematianku, Sari. Bukan kamu.........”
            ”Bukan aku? He..he..he....! Bagaimana kalau itu terjadi dan aku yang menentukannya?” wanita di depanku berubah menjadi ketakutanku yang sangat menyeramkan, sangat mengerikan.
            Aku menjerit dan lari.
            Kudengar sayup-sayup suara jeritan wanita itu, melengking tinggi, berbaur suara-suara jeritan tangis, suara batuk-batuk, suatu saat terkekeh-kekeh, merintih sekali-sekali ketawa melengking dalam koor yang semrawut. Kadang-kadang tinggi sekali waktu rendah dan mendesah tidak jelas. Suara-suara itu tetap saja mengikuti ketakutanku. Keringatku semakin deras mengucur.
            Di depan kuburan tua, aku dihadang pohon kamboja. Dalam kerindangannya aku menggelosoh dengan badan penat. Kulihat di luar tembok kuburan, orang-orang lalu-lalang, berjalan kaki, naik sepeda, ada deruman knalpot yang memekakkan telinga, lengkingan klakson mobil. Aku duduk sambil menyeka leher yang penuh keringat, sambil menonton kesibukan di depan mataku, sekali-sekali aku menoleh ke belakang dengan perasaan was-was. Entah apa yang terbayang dalam hidupku, entah kejadian malam tadi, siang tadi, aku menjadi lupa waktu. Aku menjadi ragu, berapa jarak perputaran waktu yang tengah berjalan saat ini, saat aku mulai berpikir tentang itu.
            Mungkinkah kealpaan ini disebabkan oleh karena usiaku yang semakin berangkat senja. Aku menjadi lupa akan semua peristiwa yang tergambar dalam peta hidupku atau barangkali aku tidak perlu mengingat semuanya lagi, kelicikan semasa hidup sebelumnya, kesombongan, kemunafikan, kebodohan atau semua itu hanyalah permainan emosiku sendiri?
            ”Coba tengok masa lalumu. Disaat kamu berhenti sejenak, renungkanlah segala sepak terjangmu,” ada bisikan halus menyerupai angin mampir di liang telingaku.
            Aku menoleh. Tidak satupun bisikan berwujud hadir di mataku. Kulihat ke depan masih sibuk dengan lalu-lalang orang-orang yang melintas.Ada yang datang dan pergi. Aku menjadi bingung dan tak mengerti. Aku berteriak sekuat-kuatnya sampai ada yang ingin mendengarkan suaraku, sekalipun sampai harus ada yang ingin mengatakan kegilaanku. Namun mereka semua tetap dengan kerutinannya, dengan perjalanannya masing-masing tanpa memperdulikan aku.
            ”Haiiiiii!!!” Aku kembali berteriak keras-keras. Namun tak seorangpun yang peduli akan teriakanku. Aku tidak yakin akan suaraku, karenanya aku turun ke jalan raya, lagi aku berteriak. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang mendengar suaraku.
            ”hai, katakanlah tentang sebuah kematian yang mengerikan, yang kamu ketahui,” aku menepuk seseorang berjas yang turun dari mobil.
            Ia memandangku lekat-lekat lalu ngeloyor pergi. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sekalipun deheman untuk meremehkan. Aku geleng-geleng memandang perginya laki-laki itu.
            ”Dik, tolong katakan tentang kematian yang mengerikan sebagaimana ketakutan orang-orang yang sedang menghadapinya,” aku menarik tangan seorang gadis belasan tahun yang tengah berjalan dengan tas sekolahnya. Gadis itu hanya memandang saja lalu berlalu dari hadapanku.
            ”Eh, tahu nggak tentang orang mati?” tanyaku pada pekerja di jalan yang bergerombol duduk-duduk beristirahat di bawah pohon.
            Mereka hanya memandang lalu kembali hanyut dalam percakapan dengan teman-teman di sampingnya.
            ”Hei, kamu dengar apa yang aku katakan?”
            Mereka tetap dengan percakapannya masing-masing. Aku mulai panas, jengkel, mual, aku mulai mengumpat-umpat, berteriak-teriak memaki, mengatakan apa saja yang ingin kukatakan. Dan mereka tetap melakukan segala sesuatu tanpa merasa terganggu oleh teriak-teriakkanku. Aku makin jengkel. Aku lari ke sudut kota, berteriak. Aku lari ke jalan raya, berteriak, memaki apa yang aku suka, setidak-tidaknya ada beberapa orang dari sebagian besar orang yang lalu-lalang menoleh dan memperhatikan tingkahku dan aku tidak perlu malu-malu sampai harus memanjat patung besar di tengah-tengah pusat keramaian kota, berharap ada yang menoleh dan mendengar suaraku.
            Tetap tak ada hasil.
            Lagi-lagi aku berteriak bahkan sampai harus menanggalkan baju dan melambai-lambaikan di atas kepala, berharap setidak-tidaknya ada petugas keamanan yang mengangkut aku dan bertanya,” Bapak baik-baik saja” dan aku akan bisa tersenyum senang, tenang lalu menjabat tangannya erat-erat dan......pada kenyataannya aku tetap terpanggang sinar matahari siang berteriak dengan baju berkibar-kibar di atas kepala dengan suara yang kian parau dan tidak ada yang menoleh karena aku dan tidak ada yang tertarik karena tingkahku dan tidak ada kendaraan yang berhenti karena aku dan tidak ada lalulintas yang macet karena aku dan aku mulai merasa capek sendiri dan aku menangis!!
            ”Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!”
            Perlahan-lahan aku turun. Aku ingin menangis di rumah. Tertatih-tatih aku berjalan, terseok-seok menyusuri jalan raya, melangkah menuju arah rumahku sendiri. Beberapa kawan-kawan yang aku kenal, beberapa tetangga yang aku kenal, beberapa teman-teman  penjual rokok dan penjual bakso yang aku kenal, aku lewati begitu saja. Tidak ada tegur sapa. Karena tidak perlu lagi memulai kebodohan yang sama sampai harus berteriak-teriak untuk meyakinkan.Menuju gang rumahku yang sempit kulihat orang-orang menunduk lesu. Beberapa teman akrabku ada yang menangis dan aku memang tidak perlu untuk menyapanya. Kupikir setiba di rumah aku akan dapat beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan-gangguan lagi. Namun memasuki halaman rumahku sendiri, langkahku jadi terhenti. Beberapa orang yang hanya aku kenal mengerubungi rumahku. Aku semakin tidak peduli. Kuserbu rumahku, kulihat semua saudara-saudara, ayah, ibu, adik-adik, paman, saudara ayah, saudara ibu, semuanya menangis. Aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli lagi. Mereka semua tidak memperhatikan kedatanganku. Mereka semua tidak akan bertanya tentang diriku karena akupun tidak akan perlu bertanya lagi tentang diriku.
            Kumasuki kamarku pelan-pelan, tanpa ingin menggangu kesedihan mereka. Tersengat sesuatu yang akrab dengan hidungku, bau busuk yang memuakkan yang sebelumnya sempat aku hirup. Perlahan kubuka pintu kamar tidurku.
            Wanita itu menunggu kehadiranku dengan senyumnya yang khas yang sebelumnya tidak pernah aku miliki. Wajahnya cantik, tidak bopeng-bopeng lagi. Tangannya yang halus melambai padaku. Aku tersenyum.

                                                                                    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar