Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

CINTA PISANG GORENG



Terlalu sulit membedakan, mana cinta sejati dan manapula sesungguhnya cinta palsu. Aku sering mendengar kata-kata cinta hanya lewat lagu doang, namun bukan menampik kenyataan sesungguhnya dalam hidupku. Kalau membedakan pisang dan singkong memang mudah. Dilihat dari bentuknya sudah jelas. Namun kalau cinta tidak bisa dilihat sebagai pisang ataupun sebagai singkong. Cinta adalah sesuatu yang……….
            “Hahahaha ada ada saja kamu kawan. Mana ada cinta dipandang dari sudut pisang dan singkong segala. Gila kamu!” Erlan mengumpat
            “Iya, kalau pisang goreng pasti ada. Mengunyahnya tidak membutuhkan cinta. Cukup dengan perut yang lapar,” Nyoman ikut-ikutan nyeletuk diikuti ketawanya yang keras.
            Aku lihat kedua teman karibku dengan perasaan aneh. Rasanya apa yang kupikirkan seperti apa yang ada dalam pikirannya. Hebat, wuih bener-bener hebat. Itu artinya perasaan berteman yang mendarah daging sampai merasuk ke dalam pikiran. Hingga sering kerasukan dibuatnya. Kenapa mereka memberi komentar demikian? Ah, ada-ada saja jalan pikiranku.
            “Lho, memangnya kalian tahu apa yang ingin aku omongkan?”
            “Iya jelas tahu dunk!”  Keduanya serempak menjawab seperti dalam sebuah komando
            “Apa?”
            “Hehehe tentang hubunganmu yang lagi kacau dengan Arimbi kan?” Nyoman menjawab.
            “Cerita darimana?” Aku bertanya kaget. Begitu cepatnya berita itu menyebar. Kupikir mereka ini hanya sibuk memikirkan sekolah, sibuk beraktifitas dalam organisasi ataupun sibuk berdemo. Ternyata untuk urusan pribadipun mereka masih peduli. Ini memang benar-benar kawan yang masih memikirkan diriku, mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Tapi, ah, jangan-jangan mereka nanti akan mengolok aku. Ya, bisa saja dengan cara mereka memancing bicara akhirnya aku akan bercerita banyak dalam segala hal mengenai hubunganku dengan Arimbi. Kemudian secara diam-diam mereka menyebar cerita itu ke teman-teman sekolah yang lain. Menebar dalam gossip murahan. Iya mereka akan menceritakan semuanya. Tentu saja. Cerita ini akan menghebohkan kawan-kawan yang lain. Iya pasti demikian, karena kan aku adalah tokoh yang terkenal dan sangat beken. Baru-baru ini aku memerankan tokoh Arjuna dalam sinetron tayangan televisi dengan thema ‘ Arjuna memburu senggeger’ yang dalam cerita itu aku memerankan tokoh Arjuna si buruk rupa. Padahal dalam cerita sesungguhnya Arjuna itu orangnya ganteng, elok rupawan. Kok bisa ya sutradara merubah keadaan yang sesungguhnya? Ah. Aku ganteng kok!
            “Ha..ha..ha, ganteng katamu? Semprul! Kamu itu menang ganteng karena ngetop Jun, “ terdengar tawa khas Nyoman yang membuyarkan lamunanku tentang tokoh Arjuna nan ganteng. Busyet! Temenku ini bisa-bisa aja. Arimbi…..Arimbi….., semudah itukah hatimu berpaling? Padahal sudah sering aku bawa kamu jalan-jalan ke mall, aku bawa kamu berenang di caprio sambil duduk-duduk lesehan maem gurami, aku traktir mack Donald, kau mencicipi oleh-oleh pizza hut setiap aku ngapel ke rumahmu. Oh, hanya gara-gara xenia kau jatuh kepelukan Sekuni. Dasar kamu cewek matre. Matreeeeeee norak! Udah berapa duit aku habiskan buat kamu. Kantongku menipis. Saldo ATMku kian menciut. Engkau, Arimbi? Uh, malah bibirmu kau berikan si Sekuni brengsek itu untuk mengecup sesuka-sukanya. Bahkan mungkin juga engkau ikut menikmati hingga jontor. Dasar wanita murahan!
            “Tenang, Jun. Nanti Arimbi-mu yang sudah diambil orang kita umpan pake senggeger, gimana? Pasti dia akan berpaling lagi padamu. Pasti dia akan kepincut lagi ama sadel Variomu yang benar-benar pinky hehehe. Simple comme bonjour!” Erlan memperbaiki kekalutanku yang tak mampu bersembunyi dari penglihatan mereka berdua. Oh, dasar nasib apes. Mana Vario belum lunas cicilannya.
            “Bah! Senggeger, lagi-lagi senggeger. Masak Arjuna seganteng aku mesti pake ilmu senggeger segala? Nggak-lah!” Aku mengelak dan menolak saran temanku itu. Aku percaya senggeger. Aku percaya ilmu pelet dan aku tahu keampuhannya. Kemarin aja Subadra aku kasi kerlingan mantap sesudahnya habis-habisan ngejar aku. Bahkan sampai ke rumah selalu diikuti. Mau berak aja sampai dia bela-belain untuk setia menunggu ikutan jongkok di depan pintu. Oh, lugunya Subadra. Untung hanya satu punya rahim. Padahal kalau sepuluh rahimnya, mungkin sepuluh kali bermukim janin-janinku yang nakal. Lha, kok bisa? Satu rahimpun cukup menghasilkan sepuluh kepala bayi. Ah, bingung aku kalau memahami soal itu. Padahal dewi Gendari sendiri nggak pernah ngurus berapa rahimnya, anaknya malah seratus. Wow!
            “Tuh, kan! Ngelantur lagi?” Erlan mengagetkan pikiranku yang menerawang.  
            Iya, bener! Aku malah ngelantur. Kok malah larinya ke rahim segala. Padahal aku mengingat bagaimana kesetiaan Subadra menunggu aku berak di WC. Bah! Sesungguhnya yang ingin aku luruskan pikiranku bahwa keluguan Subadra tak beda jauh dengan keluguan Dewi Drupadi yang hingga kini masih setia mendampingiku. Selalu setia mengantarkan aku handuk manakala di kamar mandi kelupaan terlanjur tubuh terguyur air. Dan mereka biasanya berebutan mengantarkan..tok-tok-tok, berulang-ulang mengetok pintu. Seolah-olah kedua-duanya berebutan ingin menerobos masuk kamar mandi…wuihhhh!! Bangga nian rasanya. Padahal aku sudah bosan melihat penampilan, gerak-gerik dan kemanjaan mereka.
            Karena itu aku percaya ilmu itu. Aku sangat mempercayai senggeger. Namun senggeger jaman sekarang cukup dengan mobil Jepang saja sudah mampu membuat cewek-cewek kepincut.
            “Eh, tetanggaku hingga kini rukun-rukun aja. Padahal dulu dia tidak menyangka bakal bisa menyunting wanita secantik itu. Wanita yang menjadi istrinya sekarang. Lihatlah lakinya, mana udah pendek, gemuk dan botak lagi! Uts! Senggeger itu mampu membuat hidupnya bahagia.” Suara Erlan kian berapi-api.
            Aku mengangguk-angguk. Bukan setuju dengan ucapannya. Hanya bingung. Tidak mengerti dan sangat mustahil. Masak sih senggeger yang tidak jelas juntrungnya mampu membuat hidup orang bahagia? Apa nggak kebalik. Jangan-jangan hanya terlihat luarnya saja yang bahagia namun sesungguhnya bagian dalam kehidupannya malah justru amburadul. Ah, kawanku sungguh lucu kata-katanya hari ini.
            “Terus….trus gimana ceritanya?”
            “Cerita apa?”
            “Itu, tentang tetanggamu yang botak itu”
            “Ya, begitulah…..”
            “Begitu bagaimana?”
            “Iya jatuh cinta menikah dan punya anak”
            “Maksudku apakah dalam pernikahan itu mereka bahagia?”
            “Iya bahagia”
            “Apa tidak pernah terjadi pertengkaran?”
            “Pernah.”
            “Terus?”
            “Ya baikan lagi, sama seperti tetanggaku Anton dan istrinya atau mbak Min dan suaminya, ya biasa-biasalah. Dan aku tahu pasangan yang lainpun pasti demikian. Masak mulus-mulus aja jalan perkawinan mereka? Pastilah sekali waktu ada perdebatan, ada ribut mulut kecil-kecilan terus ya terus ada sedikit pertempuran. Itu biasa dalam rumah tangga. Besok dilihat tetangga yang lain, ya biasa-biasa lagi.”
            “Bagaimana dengan yang mempergunakan jalan itu?”
            Arjuna melipat jidatnya. Menatap temannya. Pikirnya, temannya ini lama-lama selain pertanyaannya aneh juga sikapnya seperti menyelidik. Bukan saja membayang-bayanginya, tapi malah lebih jauh lagi. Mengurus orang-orang yang tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Aku yang tidak ada urusan asmara dengannya juga ikut jadi terlibat. Terlibat dalam pembicaraan. Bukan melibatkan asmaranya. Aku juga tidak yakin, apakah temannku ini bisa bermain asmara atau pernah bergelut dengan asmara. Atau malah sebaliknya, seorang pemain asmara yang ulung, yang tengah menyimpan,mempersiapkan dan sewaktu-waktu membentangkan busur asmara kepada setiap pilihan yang dia suka.
            “Membentangkan busur asmara?” Dia berteriak sambil memandang Arjuna kalut.
            Arjuna tidak kaget lagi. Berarti temannya ini memang sang cenayang tangguh. Mampu membaca apa yang tengah dipikirkan.
            “Hmm, kalau begitu coba tolong kamu baca apa yang dipikirkan Arimbi saat ini, kenapa dia malah berpaling dariku,” Arjuna bertanya setelah berpikir sesaat. Bisa juga dimanfaatkan kemahiran dan ketrampilan temannya dalam membaca pikiran orang.
            “Goblok, kamu!”
            Arjuna kaget. Lho, kok bisa goblok gimana sih? Belum sempat merapal mantra, belum terpejam-pejam dalam kontak pikiran sudah asal memaki sembarang aja.
            “Iya, dasar goblok, tidak perlu dibaca pikirannya juga yang pasti Arimbi nggak pernah akan mikirin kamu.” Ujar temannya.
            Wah, ini yang dibaca pikiranku, bukan jalan pikiran Arimbi. Dari tadi dia hanya mampu membaca pikiran Arjuna, jangan-jangan dalam radius sekian kilometer temannya justru tidak mampu membaca pikiran Arimbi yang lagi enak-enak berenang di hutan Dandaka.
            “Yang ada dalam pikiran Arimbi itu hanyalah Bima. Bukan kamu Jun. Kok sejarah mau kau rubah seenaknya. Kamu itu iparnya, Jun. janganlah macam-macam mau merubah sejarah.” Temannya lebih detail menjelaskan.
            “Terus….terus…gimana dengan Sekuni?”
            “Lha, lagi lagi kamu ngomong Sekuni.”
            “Terus pisang goreng itu gimana?” Arjuna semakin bego.
            Teman-temannya pada ngakak ketawa.
            “hei, aku jelaskan ya. Kalau kau yang bawakan pisang goreng, sebaiknya buat kita-kita aja. Percuma. Kau bawakan dia. Pasti akan ditolak mentah mentah.”
            Arjuna menatap Nyoman dan teman-temannya yang lain dalam versi bergantian. Dalam roman tanda Tanya dan pula lewat ekspresi berharap kejelasan.
            “Nggak ngerti?”
            Arjuna menggeleng.
            “Gini aja deh biar simple. Variomu kau tukar dengan Xenia, lalu kau antarkan cewek kau pisang goreng hehehehe, aku jamin.”
            Arjuna manggut-manggut. Baru ngerti. Sekarang pikirannya bercahaya terang. Sekarang dia kagum dan benar-benar salut kalau Nyoman ini memang benar-benar seorang cenayang yang hebat. Berarti kalau dengan Xenia dan pisang goreng…. Jelas tak perlu senggeger. Iya, apa gunanya ilmu pemikat itu kalau ada senggeger buatan Jepang yang jauh lebih ampuh?  Dan tak perlu baca-baca mantra segala, iya nggak? Hehehe benar juga tuh!

Kamis, 28 Maret 2013

SURAT MAYA TIFFANY



Jumat pagi membuka disambut dengan nyanyian. Hidup tanpa lagu memang terasa hambar, sepi dan sunyi mencekam. Sebuah email seseorang yang mengatakan teman masuk ke dalam tubuhku. Terbaca satu sosok nama. Berulangkali kubaca pesan yang seolah ingin meyakinkan sebuah kebenaran peristiwa. Bacalah: seakan mengunyah krupuk di warung sebelah dengan masakannya yang khas, dengan pindang gorengnya yang mengundang asam lambung berhenti menyalak. Seakan kemeriukan suara sel sel di dalam ususpun ikut mencerna membantu tugas lambung yang mungkin rada rada limbung terendam asam cuka berlebih.
            “Pertama saya berterimakasih atas reaksi anda ke email saya, online dengan pesan, yang sudah saya dikirim ke anda. Bagaimana setiap yang disana di Negara anda saya percaya bahwa anda dalam kesehatan yang baik, dan bahwa suasana di sana di Negara anda sangat bagus hari ini? Tambang adalah sedikit hangat di sini di Dakar Senegal, “
            Hangat yang bagaimana, apakah barangkali sehangat hawa menganga tambang yang menyerap tubuh jadi menciut ataukah……
            “hek…cuih……” seorang ibu tua menyemburkan air ludah yang hampir membasahi badan kendaraan ketika kulewati tak seperti bau akik yang di jual sepanjang trotoar dengan sembarangan begitu saja. O, sahabat kukira ini bahwa kesehatan di negaramu tak berbeda jauh dengan negaraku, entah mungkin harga obat TBC disana jauh lebih murah ketimbang memperdagangkan beberapa jenis obat kanker di negaraku oleh seseorang penderita yang pernah mengaku pejabat tinggi provinsi yang ketika melewati masa-masa rawat inap di daerah lain terpaksa harus mengurus surat miskin. Hak si miskin yang digulingkan pada sesungguhnya yang masih mampu membeli parfum mahal, liontin bahkan mengunyah emas mengganjal jantungnya.
            “Nama saya Tiffany dengan waktu yang kurang berharga diberkahi usia, saya (24 years tua) tapi usia tidak penting dalam hubungan yang nyata, jadi saya merasa nyaman dengan usia anda, saya berasal dari Liberia, Afrika barat, 5,2  ft tinggi, cahaya di kulit tungga dan pernah menikah serta saat ini saya berada di sini di Dakar sebagai akibat dari perang sipil yang telah berjuang………”
Beberapa tahun yang lalu?
            “hek…..cuih…” lagi-lagi seorang ibu seolah iseng. Sekarang bemper kendaraan seakan kena cipratan angin. Dari sebuah tiupan menerpa yang sudah berbau air.
            “ Ayahku akhir Dr. Bernard Colly, adalah seorang politikus dan managing director di Monrovia ibukota Liberia sebelum para pemberontak menyerang rumah kami satu pagi dan membunuh ayah dan ibu dengan darah dingin ( industry dan tambang emas). Sekarang,karena saya sedang berbicara dengan anda, saya satu-satunya orang hidup dalam keluarga saya, dan saya berhasil membuat jalan saya untuk dekat dengan Negara Senegal mana saya berangkat sekarang sebagai pengungsi di bawah perawatan seorang pastor pendeta dan saya menggunakan computer untuk mengirim pesan ini kepada anda sekarang”
            “Harap jangan tersinggung untuk pesan yang datang dari saya silahkan, yang hanya bahwa saya don,t tahu apa lagi yang harus dilakukan, karena keadaan saya disini sebagai npengungsi ini memberikan saya perhatian besar, karena itu, saya akan seperti anda untuk mempertimbangkan saya situasi sebagai seorang yatim piatu, dan jenis dengan saya, karena saya meletakkan seluruh kepercayaan saya pada anda dengan ketakutan, meskipun I don,t tahu siapa anda sebelumnya, tetapi saya percaya bahwa anda tidak bisa mengkhianati itu di akhir”
           
            “Saya telah berkomunikasi anda karena situasi yang sulit saya disini di kamp pengungsi, seperti salah satu tinggal di penjara dan saya berharap oleh kasih karunia Tuhan saya akan datang kemari segera its” satu lagu kembali berganti pada liang pendengaranku. Kuatatap berulang kali surat yang tertulis pada badan email.
            “Saya tidak memiliki kerabat yang sekarang saya bisa pergi ke semua keluarga saya lari di tengah-tengah perang- satunya orang yang saya miliki sekarang adalah pendeta (pendeta Michael Tawawa), yang adalah dari pendeta dari DE (KRISTUS JURU SELAMAT MISI) di sini di kamp, ia telah sangat bagus untuk setiap tubuh di kamp, tetapi kita tidak hidup dengan dia, bukan kita meninggalkan di asrama, yang terbagi menjadi dua bagian: satu untuk laki-laki dan yang lainnya untuk betina. Jumlah telp Pendeta adalah (221-774862769). jika anda menelepon dan mengatakan kepadanya bahwa anda ingin berbicara dengan saya (Tiffany) ia akan mengirimkan bagi saya di hostel. Sebagai seorang pengungsi di sini, saya tidak memiliki hak atau hak istimewa untuk hal apapun, baik itu telepon atau apa yang pernah, karena hal itu bertentangan dengan hukum negara ini”
            Saya cinta aku ingin kembali ke studi saya karena saya hanya dihadiri tahun pertama saya sebelum insiden tragis yang memimpin saya untuk hadir dalam situasi ini sekarang terjadi.
Silakan dengarkan ini (silakan itu rahasia, bahkan tidak ada yang tahu tentang hal itu kecuali ayah Pendeta yang tahu tentang itu)
            “hek..cuih…!!” Sayup sayup terdengar suara yang kian menguping pendengaranku,
            Remah kerupuk itu kian mengunyah penglihatanku yang kian suram kalimat-kalimat mati bertubuh tebal akan sebuah berita kematian yang norak, sebuah kematian yang membuat terperdaya.
Mataku pedas
            Saya memiliki pernyataan almarhum ayah saya account dan sertifikat kematian di sini dengan saya, yang saya akan mengirimkan kepada Anda yang terakhir, karena ketika ia masih hidup ia diendapkan beberapa jumlah uang di bank asing terkemuka yang ia gunakan nama saya sebagai keluarga terdekat,dalam jumlah total, adalah $ 6,7 (Enam juta Tujuh Ratus Ribu Dolar AS).
            Jadi saya akan seperti Anda untuk membantu saya mentransfer uang ini ke rekening anda dan dari itu, Anda dapat mengirimkan uang untuk saya untuk mendapatkan dokumen saya bepergian dan tiket udara untuk datang untuk bertemu dengan Anda. Aku terus rahasia ini kepada orang-orang di kamp di sini, satu-satunya orang yang tahu tentang itu, adalah Pendeta karena dia adalah seperti seorang ayah kepada saya. Jadi, saya akan seperti Anda untuk menyimpannya untuk diri sendiri dan jangan menceritakannya kepada siapa pun karena saya takut kehilangan hidup saya dan uang jika orang mendapat tahu tentang hal itu
Ingat saya memberi Anda semua informasi ini karena kepercayaan saya digulingkan pada Anda. Saya suka orang-orang jujur ​​dan pengertian, jujur ​​dan orang yang punya visi, orang-orang pekerja keras dan takut akan Tuhan
            “Hek..cuihhhh…”
            Manakala berhenti pada kata kata Tuhan yang menurut pendengaran saya demikian sakralnya arti sebuah sebutan, mulut saya menganga lebar lebar, boleh bayangkan mulut jerapah yang lagi menganga, selebihnya bayangkanlah ketika dirimu tengah berada di padang sabana nan luas dalam pantulan teriknya mentari di musim kemarau yang selalu membasahi bumi ini dengan cahayanya yang melegam melepuhkan mulut bumi, memerak memberi tanda-tanda hitamnya suasana. Bukan soal ketakutan ketakutan akan Tuhan dalam kebenaran kebenaran sebuah peristiwa yang dikaitkan dengan nurani manusia. Aku barangkali terlalu dangkal akan kata kata cinta dan sesuatu yang mampu merubah jadi pengkhianatan semacam mainan yang mampu merubah mimpi mimpi ataupun membeli mimpi mimpi itu, dan sekali lagi bukan soal angka yang mungkin terlalu fantastis diterjemahkan otakku yang suka berkhianat akan kebenaran . sekalipun kebenaran itu kupaksakan untuk tetap setia bermain-main dalam pikiranku, toh tak akan selamanya akan membuat jera. Namun bagaimanapun pula aku mesti menimang semua itu.
            “Bahasa favorit saya adalah bahasa Inggris dan saya berbicara bahasa Inggris sangat lancar. Sementara itu saya akan seperti anda menelepon saya dan mengatakan saya punya banyak hal untuk memberitahu anda. Ini adalah gambar saya. Saya akan mengirimkan anda lebih di mail berikutnya. Have a nice day dan berpikir tentang saya. Menunggu untuk mendengar dari anda soonest. Salam dalam kasih, lewatkan. Tiffany.”
            Hek cuiiiiiiiiihhhhh…….sekarang warna air benar benar berbuih di tubuh kendaraanku yang kian panas terpanggang matahari lereng gunung Pengsong. Kulihat wajah cantik Tiffany legam seakan terbakar matahari
***
            Semula pagi itu belum turun hujan, bangun tidur langsung duduk menghadap laptop. Bermula membaca sebuah balasan email dari seorang teman di Senegal yang katanya lagi sedang berada dalam pengungsian di Liberia, sebuah pemberontakan di Dakar yang menyebabkan terdampar hingga berdiam di sebuah rumah pengungsian di rumah pengungsian pendeta dari DE, yakni kristus juru selamat misi, dan dalam email sebelumnya dikatakan pula bahwa, dalam pemberontakan itu ayah dan ibunya tewas dibunuh. Ayahnya, dr Bernard Colly adalah seorang politikus dan managing director sebuah perusahaan Monrovia di Liberia. Para pemberontak menyerang rumahnya yang mengakibatkan ke dua orang tuanya tewas. Itu cerita seorang gadis Tiffany berusia 24 tahun yang entah benar atau hanya ngarang-ngarang saja. Dan pada balasan berikutnya dia menyebutkan sebuah bank asing pada bank royal yang bermarkas di Scotlandia dengan lengkap menyebutkan data uang yang tersimpan disana sebesar Enam juta tujuh ratus ribu dollar ,sebuah angka yang demikian fantastis untuk digunakan sebagai sebuah usaha. Bukan tertarik soal nilai uang yang terkandung disana (terlebih dia katakan aku miliki hak 18% dari total nilai, karena membantu Tiffany), namun data data lengkap yang Tiffany cantumkan seolah hanya sebuah rahasia yang dia katakan lebih rinci bahwa hanya aku sendiri yang dia informasikan serta pendeta yang bernama Michael Tawawa yang berada satu kamp dalam pengungsian itu. Bukan satu tempat sebagaimana yang dia kisahkan.
            Dia katakan terpisah antara tempat kamp pengungsi laki-laki dan betina, dalam artian tidak satu atap ataupun hidup bersama pendeta itu. Hanya dia menganggap pendeta itu seakan-akan sebagai ayah kandungnya sendiri. Kemudian selain daripada itu ia juga menyebutkan account ayahnya selaku pemilik uang serta dia ceritakan hibah pada saya dengan masih memiliki sertifikat kematian ayahnya, yang dilimpahkan padanya.
Enam juta tujuh ratus ribu dollar, sebuah angka yang fantastis,..!!!!
            Jadi seolah olah dia atau aku yang akan mengerti seandainya berlaku seperti dia atau sebaliknya dia yang berlaku seperti aku, untuk secara pribadi dan diam diam menyimpan dulu uang itu untuk selanjutnya nanti diharapkan meneruskan kepadanya.
            “Aku mencintai hidupku, aku tak mau kehilangan hidupku”, itu ungkapan awalnya dipertemukan via email lewat suratnya yang bernada sedih, padaku dan uang yang masih disisakan ayahnya itulah sebagai pengantar cita cita yang masih kandas, yang hanya baru setahun belum genap mengecap pendidikan yang sesungguhnya ingin dia lanjutkan dikemudian waktu.
            Lain itu pula mungkin dengan harapan mentransfer uang itu padaku untuk selanjutnya akan mengirimkan padanya sebagai syarat untuk mengurus dokumennya untuk bepergian. Nada yang terkekang terbaca dalam email tersebut. Sebagaimana hukum yang ada disana, seperti yang ia katakan kembali, bahwa mereka yang berada di pengungsian itu tidak memiliki hak, sebagaimana hak hidup untuk menerima telepon, makanya dia secara rinci memberikan nomor telepon pendeta yang bisa aku hubungi barangkali pula akan menyerahkan padanya.
            Sekali lagi, entah benar, entah tidak.
            Namun atas dasar info yang disampaikan untuk secepat mungkin menelepon atau menulis surat pada bank yang dia sebutkan, aku membaca sebuah email pada bank tersebut yang juga secara asal mengirim email sebagaimana yang tercantum dalam surat yang dia ceritakan kembali. Dan mungkin secepatnya akan mendapat balas.
            Mendapat balas dari pihak bank untuk membuktikan kebenaran suatu cerita. Entah sebuah cerita yang mengada ada atau memang benar benar sebuah fakta.
            Namun seandainya ini sebuah kebenaran, sebuah fakta, alangkah menderitanya Tiffany, selain mengalami musibah orangtuanya terbunuh, hilang hdupnya, masa depannya di saat dimana anak anak muda masih harus mengenyam pendidikan, dan bagaimana harus melanjutkan semua cita cita masa depannya yang musnah begitu saja. Aku berpikir barangkali Tuhan memberikan jalan dan satu satunya aku ditunjuk untuk membantunya atas dasar kepercayaan yang dilimpahkan Tiffany kepadaku.
            Dan kututup email itu. Kurebahkan badan letih ini, menutup mata pelan pelan. Sebab besok harus bekerja kembali seperti biasa.

Rabu, 27 Maret 2013

CUCUKU MENULIS PUISI



Satu buah puisi sudah rampung ditulis. Garis kalimat yang demikian rapi. Semula arahnya lebih banyak melintang dan condong ke kiri. Namun atas bimbinganku dia mulai membenahi dengan gaya khas yang selanjutnya ketika beranjak dewasa nanti sudah menjadi karakter tulisan. Dengan melihat sepintas saja gaya bahasanya orang akan mengenal penulisnya. Hari ini Nampak dia tengah duduk santai di ruang belajar, matanya asyik tertuju pada sebuah judul berita Koran.
            “Pekak, coba baca berita ini, “ ujarnya sembari menyodorkan Koran kepadaku. Koran terbitan daerah. Tertulis sebuah judul berita pada halaman 2 : KECEWA PUTUSAN HAKIM, DEWA SUTAMA AJUKAN BANDING. Aku baca tentang kasus hukum seorang mantan guru SDN di sekitar kota ini. Apanya yang aneh. Kupikir semua kasus hukum yang menyangkut rakyat kecil tidak menjadi sorotan yang berarti di mata publik. Karena semua mata saat ini lebih tertuju pada kasus Hambalang, kasus prahara demokrat, kasus daging sapi, kasus banjir Jakarta dan Jokowi sampai melongok-longok ke selokan. Bukan kasus di daerah terpencil, terlebih lagi mengenai kasus pencabulan seorang guru. Kasus ini kurang penting dibaca, menurutku. Kasus pencabulan bukan suatu berita heboh. Itu manusiawi. Kasus umum. Kasus yang tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Apalagi sampai melibatkan LSM, masyarakat bahkan melibatkan media massa. Ini kasus sederhana. Dan penanganannyapun mesti sesederhana mungkin. Tidak perlu rumit-rumit. Apalagi ada kesepakatan MOU antara PGRI dengan kepolisian yang mengatur tentang guru yang terlibat tindak pidana. Sudah ada pedoman yang mengatur.
            “Apa anehnya cu? Ini kan peristiwa biasa,’ aku meletakkan Koran itu di atas meja dengan rasa kurang begitu greget membaca sebuah berita. Kurang seru kupikir berita seorang guru.
            “Badaaaah, pekak ini ketinggalan jaman. Pekak rupanya tidak mengikuti kasus ini dari awal. Ini kasus tentang dugaan pencabulan guru pada siswinya namun yang oleh guru tersebut sama sekali tidak pernah merasa melakukan apa-apa. Makanya pekak rajin-rajinlah baca berita. Jangan hanya nonton sinetron saja.”
            Aku setengah terkekeh mendengar cucuku yang dulu sering aku gendong kini berbalik sudah bisa menguliahi aku. Entah kapan dewasanya sehingga tanpa aku sadari dia sudah demikain fasih bertutur tentang peristiwa sebuah berita dalam Koran.
            “Kalau saja hanya menyenggol seorang siwi kena vonis 5 tahun penjara berarti kalau meremas,memperkosa dan sejenisnya yang termasuk perbuatan biadab akan kena hukuman 5 kali lipat dong kak. Berarti akan 25 tahun mendekam di penjara. Kalau dakwaan yang dipaksa-paksa para saksi dan kenyataannya sendiri saksi korban sendiri malah meragukan tindakan guru ini, atau ragu-ragu memberi kesaksian kalau sesungguhnya yang dianggap korban tidak memperoleh perlakuan amoral dari gurunya. Berarti kesaksian ini berdasar hanya cerita yang dikarang-karang sendiri alias rekayasa kak. Aku heran pekak. Yang direkayasa bukti dan saksi macam begini bisa kena hukuman 5 tahun. BAP dari kepolisian jauh berbeda dengan keterangan saksi dan hakim begitu saja memvonis 5 tahun. Ini hukuman macam apa kak? Berdasarkan hanya kesaksian sebuah cerita yang belum jelas datanya dan bukti yang demikian lemah mampu membuat hakim ketok palu menjatuhkan hukuman. Dimana letak keadilan itu kak?”
            “Hush! Jangan terlalu mendalami sebuah berita cu, Anak kecil belum pantas bicara soal keadilan” aku mengingatkan.
            “Sekarang coba kita maknai arti kata-kata menyenggol itu sendiri. Menyenggol itu kalau kita artikan sebagai sebuah benturan yang tidak sengaja. Beberapa ibu-ibu di pasar menjerit kaget karena ‘tersenggol’ ibu-ibu yang lain di lokasi pasar yang berdesak-desakan itu. Nah ibu yang menjerit itupun tak terima karena kena senggol, akhirnya melaporkan ibu yang menyenggol itu ke kantor polisi. Hahahaha kalau hanya kasus menyenggol saja di laporkan ke polisi dan di mejahijaukan, akan berapa banyak kasus-kasus serupa kak. Betapa bingungnya pengadilan menangani kasus senggol-menyenggol? Apalagi kalau pelapor tidak disertai dengan bukti dan saksi yang kuat, maka mulailah dia mengupayakan alur media massa, membuat opini serupa kasus mantan guru SDN ini sebagai sebuah pembenaran pencabulan. Lalu mengerahkan massa dan pake acara menyusun kekuatan lewat LSM dan beberapa pejabat penting di kota ini. Wow…wow..wow…menggelikan kak.” Seperti tidak mampu direm cucuku semakin nyeroscos saja. Kalau sudah demikian aku jadi teringat mendiang ibunya sebagai calon pengacara yang sedang sibuk-sibuk menyiapkan disertasi pengajuan dengan mengklaim beberapa peristiwa hukum. Bila perlu yang sulit diklaimpun akan di’peristiwakan’ sehingga menjadi sebuah pertimbangan untuk meraih gelar doktoral yang terhormat di mata khalayak. Sepertinya semangat yang berapi-api dari sosok ibu itu mengalir pada jiwa anak ini.
            Aku geleng-geleng kepala. Demikian tajamnya dia merunut sebuah pemberitaan sebuah media massa di usianya yang masih demikian belia. Tak habis pikir aku mendengar kata-katanya yang bagai peluru kendali keluar tanpa kendali sembari nyiprat-nyiprat berbaur dengan air liurnya. Sebagian ada membasahi wajahku yang peyot.
            “Iya…iya terus apa yang kamu peroleh dari berita itu cu?” akhirnya aku bertanya setelah lelah mendengar ocehannya.
            “Aku salut, mantan guru ini mau ajukan banding, pekak,” ujarnya dengan mata berpijar.
            “Terus?”
            “Ya semoga saja keadilan berpihak padanya, kalau sesungguhnya apa yang dituduhkan padanya itu sesungguhnya tidak pernah dia lakukan. Aneh kan tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan dipaksa untuk mengakui. Coba pekak baca nih, apa kata guru itu, Ia merasa demikian shock. Kasihan dia. Masak di vonis bersalah atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Hukum macam apa ini?”
            “iya…iya terus?”
            “Iya pekak aku mendapatkan inspirasi sebuah puisi dari peristiwa ini.”
            “Hmmmm…”, aku hanya berdehem. Kulihat cucuku kian bersemangat. Sepertinya semangatnya susah untuk dipadamkan.
            “Pekak ndak pingin tahu apa puisi saya itu?”
            Aku menggeleng.
            “Sama sekali pekak tidak tertarik dengan puisi saya ini?”
            “Apa?”
            “Pekak ndak pingin tahu judul puisi saya ini, puisi yang saya tulis semalaman, pekak?”
            Kulihat cucuku menyodorkan sebuah kertas tulisan tangannya sendiri, tulisan yang demikian indah kulihat sepintas lalu. Hmmm cucuku pintar menulis puisi.
            “Apa judulnya,cu?” akhirnya aku bertanya. Semoga seusai menanyakan ini, dia mau menutup pembicaraan ini, karena aku sudah ngantuk berat mendengar ocehannya yang tidak karuan.
            “Ini menyiratkan tentang ketidak adilan pekak. Tentang hukum yang tidak pernah mau berpihak pada rakyat kecil. Hukum telah jadi komoditi dan di perdagangkan. Pasal-pasal bisa menjadi sebuah tender dalam sebuah proyek. Dan pasal dalam hukum itu bisa dimistik maknanya. Hukum hanya milik penguasa, kaum berduit dan orang-orang terkenal. Keadilan dalam hukum bukan milik rakyat kecil, pekak karena….”
\           “Iya apa judulnya?!!” aku memotong omongannya yang kian berapi-api.
            “Judulnya KEADILAN MALU-MALU MAUNYA MANDUL….”
            “…..!!!???”
            Pekaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk!!!!!!