Cerpen : DG. Kumarsana
MARAHKAH Ibu kalau mengetahui siapa pacarku sebenarnya? Entah. Barangkali ibu akan banyak diam tanpa komentar apa-apa seperti kebiasaannya selama ini. Aku berpikir begitu karena ibuku cantik sehingga aku mesti berpikir dua kali untuk mengajak gadis yang tidak secantik ibu untuk datang ke rumah.
Ibuku memang cantik. Aku tidak mau kalah dengan pilihan hati ayah. Ayah saja bisa memberikan aku seorang ibu yang cantik, pintar memasak, serta memiliki keahlian menari. Kalau ada kegiatan upacara adat di kampung dengan tari-tariannya yang mengundang decak kagum masyarakat, pastilah ada ibu diantara mereka. Dan aku harus dapatkan seorang gadis seperti ibu, segalanya seperti ibu. Kalau bisa melebihi kemampuan dan kepintaran ibu.
Kalau aku katakan pacarku cantik dan pintar, namun sebaliknya teman-teman mengatakan jelek. Barangkali aku tidak terlalu terpengaruh dengan omongan mereka. Bagaimana kalau seandainya ayah ikut-ikutan dengan omongan teman-teman dengan mengatakan, ” Dar, pacarmu cantik, tapi tidak adakah selain itu? Cara duduknya ayah kurang senang atau bicaranya terlalu tinggi. Sangat jauh dari ukuran keluarga kita, atau.....” dan biasanya ibu akan menimpali pendapat ayah dengan anggukan kepala.
Ah, ibu. Lagi-lagi tidak memberikan reaksi apa-apa, ketika pernah kuajak Ruli kencan ke rumah, hanya untuk memperkenalkan pada seisi keluarga, terutama untuk memancing bagaimana sebenarnya reaksi ibu. Benar, ibu tidak bergeming sedikitpun. Kalaupun bereaksi, lebih banyak menatap ayah dan ayah akan terjun serta menjadi penerjemah isi hati ibu. Padahal aku berharap ibu berucap sekalipun hanya dengan mengatakan, ”Dar, kamu selesaikan dulu kuliahmu baru mengurus soal wanita, ” atau kata-kata yang menopang semangat, seperti ” ibu tahu kamu orang muda, punya pilihan hati, butuh teman yang bukan hanya sekadar teman biasa.” Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut ibu. Tidak akan pernah. Hampir tidak terdengar sama sekali. Padahal di saat-saat seperti itu aku sangat merindukan suara hati kecil ibu yang sebenarnya tentang kaum jenisnya.
Pernah juga seorang gadis yang jelas-jelas tidak akan berkenan di hati ibu kuperkenalkan ke rumah hanya karena ingin sekali memancing reaksi ibu. Setidak-tidaknya ibu bisa marah. Namun hal yang sama terulang lagi. Berkali-kali. Sampai aku muak oleh perlakuan ibu. Temanku jelek, sengaja kucari yang paling jelek, tidak memenuhi ukuran serta selera orang muda seperti aku.
”Tapi aku menyukai,” sergahku cepat ketika ayah mulai lagi dengan uraiannya yang terkesan merendahkan.
”Masih ada yang lebih baik dari itu, Dar. Coba kamu hitung di kota ini berapa banyak perbandingan antara jumlah wanita dengan pria, kalau kamu hanya terpaku pada satu wajah. Lihat juga sisi lainnya. Coba lihat ibumu.”
Ibu masih tetap tersenyum sebagaimana biasa. Seolah-olah tidak ada yang lebih bijaksana selain tersenyum atau mengangguk atau hanya mengatakan “ya”. Bicaralah ibu! Katakan saja, “Dar, bagaimana wajarnya menurut kamu sajalah. Ibu suka itu, tapi utamakan kuliahmu dulu. Itu masa depanmu.” Itu saja. Aku akan cukup puas, lebih puas daripada harus melihat ibu tersenyum atau mengangguk atausekadar mengatakan ”ya”. Dan akan aku pilihkan yang terbaik buat ibu sebagaimana pilihan terbaik seorang ayah terhadap anaknya dengan memberikan seorang ibu yang sesuai dengan pilihanku.
Akhirnya Ruli menjadi topik yang menarik dalam keluarga, namun hal ini tidak sanggup untuk memancing kemarahan ibu.Rasanya aku menangkap gelagat aneh pada diri ibu. Apa maunya yang sebenarnya, kalaupun mereka mau bertanya apa sebenarnya kemauanku tentang seorang wanita. Tapi tidak ada pertanyaan yang muncul. Padahal banyak orangtua yang menganggap dirinya bijaksana, begitu bangga dengan pilihan hati anak-anaknya. Andy, teman kuliahku, ketika mengajak Mirna ke rumahnya, orangtuanya setuju-setuju saja, artinya tidak mengingkari hubungan itu berlanjut. Toh, demi kebahagiaan mereka juga. Buktinya sampai saat ini jarang aku dengar mereka bertengkar soal itu. Mereka berjalan biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan mengenai hubungan mereka. Toh, Andy dan Mirna sama-sama saling mencintai. Agus dan pacarnya yang ayu juga memiliki kesan yang sama, bahkan ada kabar bulan depan mereka akan meresmikan pertunangannya. Tanpa halangan yang berarti dan juga percintaan dedi dengan Tuti dan yang lain-lainnya. Seolah-olah bagi mereka, percintaan ini sesuatu hal yang wajar dan harus dijalankan seperti biasa, tanpa ada kesulitan dengan keluarga di rumah.
”Aku hanya coba-coba memancing pendapat ibu, apa dan bagaimana sebenarnya penilaiannya terhadap wanita, ” aku berterus terang pada Wawan, karena kurasa ia yang paling dekat dengan keluargaku.
”Barangkali ibumu punya pikiran lain.”
”Nah, itu yang ingin kuketahui, Wan. Bagaimana harus memulai sesuatu kalau ternyata ibu tidak pernah memberikan reaksi apa-apa. Kalaupun beliau punya pilihan lain, katakanlah masih ada hubungan famili. Jika memang benar demikian barangkali dapat aku pertimbangkan, karena aku menghormatinya. Tapi selama ini belum pernah aku dengar hal itu, malah lebih banyak ayah yang turun bicara.”
”Bisa jadi karena mengingat kuliahmu yang belum rampung. Pembicaraan yang seserius itu tentu akan dapat menghambat studimu.”
Wawan benar. Ada sesuatu yang ingin ibu ungkapkan dengan sikapnya itu. Entah , mungkin hanya menunggu waktu saja
---------------------------------
Minggu ini Weny kuajak jalan-jalan ke pegunungan. Gadis yang baru kukenal di kampus itu banyak bicaranya. Beberapa pejabat penting ia kenal. Ia banyak cerita padaku tentang kehidupan pribadinya, tentang organisasi dan terlebih lagi tentang kota besar dengan gemerlap kelicikan yang tersembunyi.
“Karenanya jangan heran Dar, segala sesuatu di kota ini dapat berubah tiba-tiba,” katanya. Kami menghindar kerumunan anak-anak muda di persimpangan jalan. Demontrasi sedang marak-maraknya di kota ini. Kami memang tidak mau terlibat. Lagi-lagi mereka mengungkap ketidak-adilan. Dengung demokrasi rupanya jadi impian setiap orang. Entah barangkali juga semacam hura-hura politik. Aku tidak tahu.
Weny tersenyum masam. Aku memaksakan diri untuk tersenyum, seolah-olah pandangan hidupnya adalah merupakan bagian dari kehidupan kota ini.
“Dar, kamu memiliki perhatian yang sangat dalam terhadap wanita. Seharusnya kamu tidak memilih aku.”
Aku tersenyum.
“Banyak laki-laki mengejar aku, banyak yang bersimpuh oleh ucapanku. Seluruh keutuhan diriku telah mereka peroleh. Sebetulnya mereka semua laki-laki yang lemah,” ungkapnya sombong. Aku terdiam dalam seribu satu bahasa.
“Pada akhirnya mereka sebetulnya orang-orang belakang meja yang gagal. Gagal berkeluarga serta berbohong terhadap istrinya. Aku tak ubahnya menjadi peranan penting dari pengkhianatan keluarga mereka. Tapi entah kenapa aku justru tertarik padamu, Dar! Celakanya aku malah mencintaimu.”
Ringan sekali dia mengatakan itu, entah bermain-main dengan ketulusan dari dasar hatinya. Entah benar, entah tidak. Aku tidak tahu perasaan wanita.
Bulan berikutnya ia memberikan aku alternatif tentang manusia dewasa. Bagaimana manusia itu tercipta kalau hanya habis dengan komunikasi belaka. Bagaimana membentuk kehidupan manusia yang baru, menjamah bintang-bintang di langit, menggapai rembulan dan bermain-main dengan mega angkasa.
Tahun berikutnya menjadi peredaran serius. Menjadi rutinitas. Aku dan Weny telah hidup di angkasa. Tidak ber-Tuhan sama sekali. Tidak beragama. Tidak memiliki doa. Lupa dimana lingkaran moral itu bersembunyi.
Sulit membahasakan Weny dalam catatan harian. Ia tak ubahnya telah menjadi kata sifat yang harus dilafalkan dengan kalimat tanya sekaligus tanda petik besar-besar. Lalu apa kata ibu nanti jika mengetahui siapa tanda petik yang aku rahasiakan itu?
Hampir setahun bahkan lebih rahasia ini tersimpan. Sampai suatu malam ibu memasuki kamarku, bicara sangat hati-hati, penuh keseriusan.
”Om Yan bakal datang. Itu lho sepupu ibu yang sejak kecil merantau di Jakarta akan pindah kemari karena telah memasuki masa pension. Sedangkan anaknya, ponakan ibu sudah lebih dahulu berada di kota ini. Katanya kuliah sambil bekerja. Entah dimana, ibu tidak tahu. Barangkali ponakan ibu sekarang sudah jadi gadis remaja. Ibu ingin sekali melihatnya, nak.” Nah, ketahuan sudah maksudnya. Rupanya ini yang menjadi batu penghalang kebisuan selama ini. Pertanyaan-pertanyaanku yang sebelumnya menggumpal kini mulai membentuk jawaban.
”Ibu senang kalau kamu dekat dengan adikmu. Itupun kalau kamu suka,” ibu meyakinkan kata-katanya. Yakin kalau aku akan memenuhi kemauannya.
Aku diam. Ucapan ibu terlalu klise untuk dapat diterjemahkan. Rasanya aku kembali seperti anak-anak. Ucapan itu tak mungkin dibantah. Terlalu risi untuk menyakiti perasaannya, karena ibu cantik. Ibu menyatakan ini mungkin karena aku tidak pernah iseng lagi mengajak teman gadis kencan ke rumah, terlebih hubunganku dengan Weny sudah sangat serius. Tanpa sepengetahuan ibu.
--------------------
Hari ini Om Yan akan datang dari Jakarta. Hari-hari pensiunnya akan dihabiskan di kota ini. Memperkenalkan gadis yang dimaksud ibu serta menjodohkannya? Oh ibu, ternyata dikau sudah mulai memberikan alternatif terhadap kebisuannya selama ini tentang seorang gadis. Tapi, eh, nanti dulu! Apakah sang gadis metropolitan yang modern akan kembali ke zaman dimana ibu masih meniru Siti Nurbaya muda? Barangkali aku terlalu jauh memberikan jarak terhadap arah pikiran ibu. Akhirnya aku memilih pergi daripada harus menemani obrolan mereka. Memang kami tidak pernah bertemu dengan gadis yang diceritakan ibu. Ada gurat kekecewaan yang dalam di mata ibu. Aku pun sudah melupakan peristiwa itu, kalau tidak dengan tiba-tiba Weny menangis bercerita padaku. Seperti biasa ia bicara banyak.
”aku akan menemukan jodohku,” katanya.
”Bisa jadi. Kita tinggal meresmikan saja. Lagi pula............”
”Orangtuaku telah menjodohkan aku dengan sepupuku yang tinggal di kota ini. Aku sendiri belum pernah bertemu.Tapi sudah kesepakatan keluarga, harus bialng apa?” Weny terlihat putus asa. Ternyata sejauh ini dia bisa menangis untuk sebuah perpisahan. Aku senang, ternyata ada wanita yang mau menangis untukku.
”Terima saja. Toh, sewaktu-waktu kita dapat bertemu,” sahutku berkelakar. Hidup ini memang banyak kelakarnya, terkadang aku menganggap hubunganku dengan Weny hanya sebuah kelakar kecil saja. Namun sejak percakapan terakhir itu jarang aku melihat bayangannya. Bahkan dia banyak menghindar. Perlahan tapi pasti hubungan ini menjadi renggang, boleh dikatakan bukan merupakan suatu kebutuhan lagi untuk bertemu.
Lagi-lagi ibu mengajak bicara. Nadanya serius, memilah-milah pikiranku tentang sosok wanita. Aku mulai kagum pada ibu. Ibu manggut-manggut. Ibuku yang biasanya bisu, kali ini pintar mengupas tentang hakikat seorang wanita, satu mata kuliah yang tidak pernah aku temukan di kampus. Aku benar-benar kagum pada ibu. Karena ibu wanita..
”Ternyata sepupumu begitu cantik dan sopan. Cara duduknya ibu suka, begitu menghargai keanggunan seorang wanita. Bicaranya sangat merendah, itupun kalau ibu tanya. Ibu mohon kamu mau menemuinya. Hari ini kita janji untuk berkunjung kesana.”
”Kita?”
Ibu mengangguk.
Aku menatap wajah ibu. Wajahnya penuh harap. Aku trenyuh. Pandangan itu sangat memohon. Hatiku terusik. Kupikir. Kupikir tidak ada salahnya memenuhi permintaan ibu. Toh, ini demi kebahagiaan ibu. Lagipula hubunganku dengan Weny sudah tidak karuan lagi.
Aku mengangguk setuju. Kulihat binar bahagia di mata ibu, terasa mengalir di sekujur tubuhku.
Dalam perjalanan ke rumah Om Yan , kulihat betapa cerianya ibu. Kubayangkan bagaimana kalau seandainya keinginannya dapat terlaksana, paling tidak aku puas telah dapat membahagiakan hati ibu. Setidak-tidaknya dalam pandangan mereka aku anak yang patuh pada orangtua.
Rumah yang kami masuki sangat sederhana. Memang Om Yan baru beberapa bulan ini menjalani masa pension. Tidak terlalu banyak kekayaan yang dibawa semasa tugas dulu, karena Om Yan bukan type manusia yang maniak dengan kemewahan. Ibu pernah cerita itu, bagaimana susahnya hidup di Jakarta. Dan memang inilah kenyataannya. Rumah di atas tanah kecil dengan bangunan sangat sederhana nampak dikelilingi kembang-kembang yang asri. Seorang gadis nampak merunduk merawat tanaman di kebun, begitu suntuk. Inikah gadis sepupuku yang dimaksud ibu? Eh, nanti dulu. Bentuk tubuhnya tidak mampu berbohong. Aku kenal betul itu. Aku sudah memahami setiap lekuk-lekuk tubuhnya. Tidak ada yang pernah disembunyikan dariku. Semuanya. Ya, aku kenal betul!
Gadis itu menoleh. Sepintas aku terperanjat. Tidak percaya akan apa yang kulihat.” Itu lho sepupumu, Dar,” ibu berbisik sambil mencubit tanganku. Aku terkejut, bukan karena cubitan ibu.
”Weny?” desisku hampir tak percaya.
Ayah dan ibu senyum-senyum, sesekali berkelakar. Om Yan memang mirip ibu. Cara bicaranya, duduknya, santun sekali. Sesekali aku memandang Weny yang duduk di sebelahnya. Entah dosa apa yang telah kami lakukan. Gadis ini adikku, saudara sepupuku sendiri. Gadis yang kenal hubungan luas dengan orang-orang besar . Gadis yang dimiliki secara diam-diam oleh orang penting di kota ini Orang yang bisa membuat jalan ini beraspal atau tidak. Orang yang bisa mempropagandakan satu partai, apalagi organisasi kecil yang dihimpun Weny. Pendeknya orang yang mampu membuat suhu kota ini jadi panas membara. Dan Weny selama ini selalu menghindar, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Ingin rasanya menghujamkan dengan seribu macam pertanyaan. Tapi mulutku terkunci. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu dan tatapan matanya tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Di sela-sela pembicaraan, Weny pamit ke belakang. Tidak muncul lagi, sampai kami pulang.
Besok dan seterusnya ibu kelihatan banyak senyum, apa yang diangankan telah tercapai. Besok dan seterusnya ibu kelihatan banyak tertawa, padahal aku tidak pernah mengajak tertawa atau menawarkan bahan pembicaraan yang berbau konyol. Besok dan seterusnya ibu berlaku sangat ramah padaku, menawarkan apa yang belum aku inginkan, lebih mengutamakan kepentinganku ketimbang kepentingan ayah. Besok dan seterusnya ibu banyak berkomentar tentang kehidupan seorang gadis, banyak berkomentar tentang Weny, padahal aku tidak pernah membicarakan, padahal ibu tidak tahu apakah aku telah menyetujui segala keinginannya, padahal aku belum memutuskan apa-apa, padahal………
Besok dan seterusnya Weny tidak pernah muncul lagi di hadapanku. Weny tidak pernah muncul lagi dalam kehidupanku. Karena ia sepupuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar