Kamis, 12 Januari 2012

PEMBELAJARAN KARYA SASTRA SEBAGAI PEMULA


Suatu ide terkonsep bisa melahirkan karya yang penuh argumentasi dan eksistensinya bisa dipertahankan, berani dipertahankan dibandingkan kita melihat pada sisi lain. Suatu pembicaraan sekedar hanya pada waktu itu, sebagai pelepas dahaga akan kata-kata yang kering buat diungkap minimal sebuah karya sastra, keberartian terhadap kemandegan kalimat. Eksistensinya ternyata bisa berubah menjadi lain. Acuan hanya sekedar omongan belaka. Lepas landas. Tanpa persiapan yang sekaligus kehadirannya tidak buat dikaji. Bahwa bisa jadi bentuk klimaksnya adalah kalimat-kalimat tak memberi makna jelas. Tidak sesuai dengan ide awal. Mudah saling tumpang tindih mempengaruhi antara ide satu dengan ide lainnya yang tidak berhubungan sama sekali. Penalaran ide sebuah karya pada akhirnya sebuah karya dalam bentuk gurauan kecil. Mengacu pada pembicaraan lepas, tidak lekang lewat kendali melampaui keberadaan pengarang terkenal seperti Pak Putu Wijaya, Pak Putu Bawa Samar Gantang, Pak Aryantha Soethama, Pak Dharma Palguna, Pak Goenawan Mohamad atau pula Pak Ashadi Siregar dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Saya banyak belajar dari karya-karya mereka yang sangat kesohor bahkan sampai ada yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.
            Seperti gaya pengungkapan Pak Putu Wijaya dalam dialog-dialog novelnya yang berjudul Semar serta aktifitasnya yang tak pernah pupus dalam kepenulisan. Kita bisa membaca edisi mingguan yang diterbitkan media Tokoh dalam pelakonan dialog yang secara rutin terus menghiasi halaman tersebut. Pak Samar Gantang saya suka membaca karya-karya sastranya yang selalu berhubungan dengan suasana magis Bali dalam cerita-cerita leak yang beliau suka paparkan. Pak Dharma Palguna sekarang ini secara beruntun sambung menyambung tiada pernah bosan-bosannya menghiasi edisi balipost mingguan dalam lumut-lumut watu lumbangnya. Banyak hal yang beliau sampaikan disana. Halaman yang dipaparkan dalam edisi mingguan bali post tersebut hampir menghabiskan halaman buat para generasi sastra muda yang sesungguhnya ingin berkiprah juga. Hanya saja semua itu tergantung di tangan sang redakturnya. Kita khususnya saya selaku penulis pemula hanya bisa melongo saja setiap membuka halaman Bali Post yang penuh dengan kreatifitas sastranya. Ini pula merupakan sebuah proses pembelajaran bagi pemula seperti saya ini. Penulis pemula untuk terus belajar memahami ceruk-ceruknya sastra. Kenapa dan apa bisa saya lakukan seperti mereka-mereka yang sudah kesohor malang melintang di dunia tulis menulis. Ada perasaan cemburu melihat kelebihan mereka. Dan begitu kuatnya keinginan untuk lebih memahami proses kreatif mereka dan rahasia kepenulisan hingga menjadi seorang penulis nan hebat dan sangat terkenal.
            Berbicara soal proses kreatif sebagai seorang pengarang, saya cenderung sebagaimana penulis-penulis pemula lainnya, pasti memiliki satu kebanggaan terhadap tokohnya. Taruhlah saya yang terkadang begitu kental dengan warna warna lokal. Ada kecenderungan pada diri saya untuk lebih memilih dan menghayati tokoh-tokoh besar yang ada dalam wilayah kehidupan saya. Saya lebih suka mengumpulkan karya karya penulis Putu Wijaya yang sekalipun saya nilai dari sudut kedaerahan Balinya sebagai orang Bali yang telah lama melanglang di kota-kota besar. Putu Wijaya yang sejak sekolah SMA dulu di Singaraja yang ukurannya sangat menggandrungi karya-karya William Saroyan dan karya besar Karl May, semasa masih SMA terlihat sudah mulai menulis naskah drama. Dua naskah drama yang beliau buat sendiri berjudul si Bungsu dan Si Mata kerbau, yang menurut pak Putu tidak pernah dimainkan sama sekali sebagai sebuah hasil karya yang menurut beliau sangatlah buruk sekali. Bagaimanapun ukuran usia beliau pada masa itu dibandingkan dengan usia saya saat ini kalau diukur dalam masa-masa remaja SMA, ternyata saya masih banyak harus belajar pada beliau.
            Pada akhirnya memang saya harus banyak melakoni gaya-gaya berkhayal Pak Putu Wijaya sebelum menjadi seorang pengarang yang berambisi dalam menuntaskan buah pikiran yang menyelimuti keinginan-keinginan saya untuk selalu belajar menulis. Secara teratur tanpa pernah berhenti pula mempelajari karya-karya besar pengarang yang telah lama malang melintang sebagai seorang pendekar pena.
            Itu awal mulanya yang muncul ketika sebagai pemula

Tidak ada komentar:

Posting Komentar