Pakar Komunikasi Fisipol UGM dan Fisipol UI, DR. Eduard Depari, MA, M.Sc pernah berbicara tentang eksistensi pers mahasiswa jangan mengharapkan seperti pers di tahun 1966 dalam situasi yang sudah jauh berbeda. Pesimisme yang tidak dapat dikatakan mengagumkan. Barangkali juga di jaman sekarang tidak lahir Adinegoro kedua atau hanya sekadar berminat menanamkan bakat seorang Adinegoro untuk dapat disebut sebagai sebuah sample keberhasilan. Atau belajar serta bercermin yang terbayang di mata Adinegoro (sebagai kebangkitan dunia pers) hanya untuk menggali pengalaman di tengah-tengah sarat dan sumpeknya SKS sebagai suatu dilema lulus jadi sarjana atau drop-out.
Menulis itu butuh minat. Minat yang tumbuh dari kemauan yang terus menerus untuk belajar guna menghasilkan sebuah tulisan atau hasil karya yang berbobot. Minat tidak begitu saja lahir ataupun jatuh dari langit. Minat adalah sebuah kesepahaman antara pikiran dan hati. Dalam upaya berkreatifitas tidak terkandung dari masing-masing personal, sekalipun itu kalangan intelektual, namun tidak dipungkiri mereka semua lahir dari kalangan kampus yang juga banyak melahirkan cendekiawan. Kampus itu merupakan wadah untuk berkreatifitas. Menulis dengan bahasa yang indah butuh pemahanan intuisi seni yang intens, yang terkadang hadir dalam perenungan-perenungan yang maha dalam. Siapakah yang boleh merenung? Sama halnya dengan menjawab kebebasan milik setiap orang yang berkreatifitas. Tidak ada larangan sama sekali. Kreatifitas menulis di kampus tidak boleh dibungkam sama halnya tidak boleh membungkam mahasiswa yang tengah membaca gejala-gejala sebuah ketimpangan yang terjadi di masyarakat; biarkan mereka murni bersuara. Itu kalau ingin melahirkan cendekiawan tulen dari kampus.
Adalah kepenulisan itu sendiri, terkadang perlu pendalaman juga. Baik itu berupa jenis penulisan menyangkut berita, penulisan feature atau juga upaya kreatifitas untuk melahirkan karya fiksi sejenis sastra tentang cerita pendek, sajak, novel dalam misi penyampaian pesan atas sebuah kejanggalan-kejanggalan berikut penyakit-penyakit yang terjadi di masyarakat. Ke semuanya itu masih dianggap jauh bahkan kalau diambil perbandingan antara kalangan mahasiswa yang bukan dari disiplin ilmunya, masih jauh mendominasi kepiawaian mereka dalam sebuah pengungkapan bahasa. Artinya kalangan dari berbagai disiplin ilmu harus punya anggapan bahwa menulis yang baik dan mengandung bobot tertentu merupakan akar dari jiwa seorang calon inteletual. Itu tidak bisa lepas sama sekali dalam keseharian sekalipun. Itu pula akan menjadi sedikit lebih cemerlang hasilnya terlebih lagi dengan adanya penunjang khusus, misalnya salah satu jadwal dalam mata kuliah yang mengisi bidang tentang pemahaman dunia tulis menulis. Penyampaian gagasan ke arah tulisan yang baik dan enak dibaca. Cara mengungkap gaya bahasa untuk bisa sampai pada nalar pembaca. Gaya bahasa serta cara menyampaikan buah pikiran.
Mata kuliah yang menyangkut tentang jurnalistik dalam tubuh publisistik yang ditegaskan dalam istilah kita menjadi suatu disiplin ilmu komunikasi yang merupakan pola dasar yang dimiliki setiap insan dalam mengemukakan, menyampaikan buah pikirannya. Komunikasi merupakan awal mula pengenalan seorang manusia dalam mengidentifikasikan diri, dalam memproyeksikan diri terhadap lingkungan sesamanya. Komunikasi yang diharapkan berlangsung secara timbal balik, antara komunikator dengan komunikan, demikian juga sebaliknya, yang kalau ditujukan kepada masyarakat selepas dari (istilah menara gading) adalah guna membangkitkan potensi-potensi dinamis yang ada di tengah tengah masyarakat. Tentunya potensi itu secara kreatifitas adalah merupakan sebuah proses, ide-ide yang dibutuhkan dalam pembangunan. Tentang komunikasi itu sendiri sudah jelas mengandung informasi, penyampaian suatu maksud dan lain sebagainya dalam hal ini sebuah komunikasi yang terjadi di kampus yang menyangkut dunia pers pada halaman media bernalar ini lewat berbagai bentuk aktifitasnya. ( atau kalau Jakob Oetama mengistilahkan sebagai komunikasi fungsional) yang merupakan bagian dari pada ilmu komunikasi massa. Adanya saran menarik dari ungkapan tersebut sekaligus pesimisme yang menggelitik setelah dihubungkan dengan disiplin mata kuliah. Secara target memang ada keharusan bagi mahasiswa untuk mengisi sistim kredit semester tersebut dengan menomorduakan pers. Memang tidak terlalu keliru.
Kita juga melihat bahwa, pada hakekatnya kepenulisan adalah semacam pola dasar. Sebuah pengalaman yang berharga sekali dengan tujuan sederhana untuk melatih daya nalar mahasiswa terhadap berbagai permasalahan yang tengah dihadapi, terlebih lagi untuk kesiapan bekal menghadapi problema sebenarnya selepas dari dunia kampus dengan gelarnya yang terhormat. Bahkan kalau mungkin, mampu menggali segala sesuatu yang ada di luar lingkungannya sebagai sebuah perbandingan terhadap disiplin ilmunya. Maka itulah yang sering didengung-dengungkan sebagai sebuah kreatifitas. Kita tentu tidak ingin tercetus sebuah anggapan mahasiswa klasifikasi kacang goreng kalau pengalaman di dunia terpelajar yang berhasil (dianggap) melahirkan salah satu bentuk keterampilan yang sangat bermanfaat untuk mendorong ke arah masa depan yang pasti. Tentu saja kalau mau dianggap sebagai mata pencaharian alternatif untuk menunjang pekerjaan/keahlian pokok. Sekali lagi, upaya kreatif akan selalu memberi nalar dalam menjalankan hidup selanjutnya setelah berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat.
Namun bagaimanapun ilmiahnya suatu pers kampus akan tetap nantinya membawa kesegaran baru dalam bernalar di lingkungan studi yang menggejala pada bentuk rumours kecil sekaligus menjadi sebuah celoteh bernuansakan ilmiah terhadap batas intelektualitas mahasiswa yang mampu menangkap gejala-gejala sampingan terhadap keseriusan bahan yang disajikan. Dapat kita lihat minat menulis pada sebuah penulisan artikel yang menyangkut kehidupan mahasiswa secara umum.(dgk)
Sekilas tentang adinegoro:
Adinegoro yang lahir di Talawi Sumatera Barat (1904) dengan salah satu bukunya yang terkenal “melawat ke barat” yang diterbitkan Balai Pustaka, adalah tokoh wartawanyang telah memprakarsai berdirinya Fakultas Publisitik dan Jurnalistik di Universitas Pajajaran Bandung. Bersama sama tokoh masyarakat lainnya pula mendirikan Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta. Djamaluddin Adinegoro yang lebih di kenal nama samarannya ketimbang nama sebenarnya merupakan wartawan yang pernah menolak tawaran Bung Karno untuk menjadi duta besar. Sebenarnya Univ Pajajaran akan menganugerahkan gelar Doktor HC bidang publisitik kepada Adinegoro yang ahli dalam ilmu kartografi yang dipelajari di Wuerzburg. Selain mempelajari publisitik di jerman pada tahun 1926, tercatat dalam sejarah pada waktu itu hanya baru 3 orang pemuda Indonesia yang menuntut ilmu jurnalistik di benua Eropa ( M Tabrani menuntut ilmu di universitas Berlin dan Keln, serta Jahja Jakub).
Teori yang dianjurkan Adinegoro pada wartawan muda yakni “ Jika anda menjadi wartawan, jangan hendaknya menjadi wartawan thok. Anda musti menjadi pengarang juga,”
Teori yang dipraktekkan sendiri dengan berbagai bukunya yang telah ditulis. Tidak kurang dari 25 buku berupa novel, atlas, ilmu karang-mengarang, ilmu reklame tentang perang dunia, ensiklopedi Indonesia tentang publisistik dan Jurnalistik dll.
Empat tahun setelah wafat, Djamaluddin Adinegoro dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia.*
*jagat wartawan Indonesia, Ilham Notodidjojo,Soebagijo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar