Sajak : DG.Kumarsana
Sepanjang jalan-jalan melintas
masa lalu pernah singgah sebelum sawah-sawah ini berubah
jadi rumah persinggahan rindu
lintasan oplet dan kuda berpedati berseliweran
menuju rumahmu
dimana hari hariku terjaga menjaga pintu yang senantiasa terkuak
perempuan desa menawarkan keramahan dengan gincu tebalnya
Wahai perempuan desaku, rambut terurai memanjang memajang mainan angin
menata bulan tersingkap di wajah
menerpa rindu tak tumbuh tumbuh di batas usia
dan selalu kau pelajari jalannya bintang
di langit
melayari setiap penantian yang berlabuh di mata
entah pada arah mana sembunyinya hati
dan bentangkan denyarnya pada setiap percumbuan angin
cinta ini
terisak berhari-hari
di bilangan waktu
mimpimu
Lintasan jalur sepanjang gerung yang panas
wajahmu merona disiram cahaya dari balik rambut
kemerah-merahan menyimpan gincu di hati
betapa sangsi kerinduan ini
tak selalu bertepi
pada sebuah penantian
Tawun, jan’09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar