Selasa, 07 Februari 2012

KHARMAPALA DAN PRALAYA


Prasade sarwa dukhanam
            Hanir asyo pajayate
            Prasanna cetaso hyasu
            Buddhi paryawatisthate
            (dan dalam jiwa yang tenang, akan lenyapnya segala penderitaan, karena fikiran orang bijaksana yang tenang itu, akan menjadi teguh)*Bhagawadgita II(65)

            Konflik bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) kembali terasakan di Lampung. Puluhan rumah warga transmigran dihancurkan oleh serbuan massa yang konon jumlahnya mencapai ribuan. Peristiwa itu, seperti yang diberitakan media, dipicu oleh hal sepele, yakni percekcokan antara dua pemuda di areal parkir. Percekcokan inilah yang akhirnya berbuntut besar yang membuat dua kelompok desa yang bertetangga terlibat konflik. Kita jelas-jelas menyayangkan peristiwa ini karena seharusnya tidak terjadi di negara yang memang secara kodrati dilahirkan di atas berbagai etnik. Bisa kita bayangkan, betapa menyedihkannya kalau hasil jerih payah bertahun-tahun tiba-tiba ludes hanya dalam hitungan jam. Seperti yang terlihat di gambar-gambar media, rumah penduduk yang diserang rata dengan tanah dan peralatannya ludes dimakan api.
            Satu yang membuat rasa optimis dari penyelesaian konflik itu adalah adanya pernyataan tidak akan membalas penyerangan tersebut. Mereka yang jadi korban, yang sebagian besar kaum transmigran asal Bali, melalui tokoh-tokohnya telah menyatakan tidak akan melakukan balas dendam. Mungkin mereka merasa peristiwa ini musibah dan telah menjadi takdir yang menimpa dirinya.
            Demikian sebuah tajuk rencana gambaran peristiwa yang terjadi di Sidowaluyo Lampung yang dimuat Bali Post 27 jan 2012 baru-baru ini. Keprihatinan yang menimpa saudara-saudara kita di daerah transmigrasi patut juga berbangga, bahwa mereka tidak melupakan begitu saja akan kepercayaan hukum karmaphala yang selama ini kita pegang secara teguh. Bukan semata mata hanya ada dalam kata-kata kiasan belaka. Dalam kerendahan hati berucap: memang karena sebuah takdir, akan apa yang kita miliki selama ini, kendati dengan perjuangan yang demikian keras harus punah begitu saja. Entah mungkin pada karma karma sebelumnya atas laku kita, yang tanpa disadari sehingga harus kita terima saat ini, dalam sebuah musibah yang siapapun tidak menghendaki perisitiwa ini terjadi. Dan memang, cukup sekali ini saja. Kita mohon jangan sampai terulang lagi, tentunya pihak pihak lain tidak ikut untuk mengeruhkan suasana.
            Agama Hindhu adalah agama yang damai, tanpa maksud menyinggung agama lain yang sesungguhnya pasti pula mengajarkan kedamaian dan kerukunan sesama umat. Apapun yang terjadi, bagi umat Hindhu akan selalu dikait-kaitkan dengan hukum Karmaphala. Dan ini adalah sesuatu yang mutlak adanya. Kelahiran ini adalah sebuah karma, bagaimana karma kita pada kehidupan yang sebelumnya, seperti itulah yang akan kita jalani, entah pada anak, pada cucu entah pada cicit hingga generasi seterusnya dalam suatu rangkaian samsara-phunarbawa yang selalu menjadi rantai selanjutnya dalam kehidupan. Dan apapun yang telah terjadi (terlanjur sudah terjadi yang dalam ajaran Karma kita kait-kaitan dengan yadnya- karena telah menjadi korban daripadanya berupa harta benda-) maka segala peristiwa ini tidak perlu dikait-kaitkan dengan SARA. Ini hanyalah salah satu sebab: ketika kita bawa dalam salah satu pemikiran:
            Raga dwesa wiyuktais tu,
            wisayan indriyais caran,
            atmawasyair widheyatma,
            prasadam adhigacchati,
            demikian kurang lebih bahwa “sesungguhnya ia yang hidup di tengah tengah benda duniawi dengan tetap menguasai pikirannya dari suka dan benci dengan menguasai diri, dengan dikendalikannya diri itu mencapai kedamaian”
            Artinya memang karena karma, kita mengikhlaskan, meski secara bertahun-tahun harta itu kita kumpulan dengan segenap tenaga dan pikiran. Suatu musibah yang tidak mampu kita tolak memang sedang berkehendak lain,. Kita sebut saja Tuhan sedang tidak berpihak pada diri kita dengan menentukan yadnya harta sebagai pengorbanannya.
            Akhir-akhir ini juga memang hampir sebagian orang mudah dilanda emosi hanya satu sebab yang sangat sepele. Orang mudah panas, hatinya mudah terbakar. Perkelahian antar kampung, pembakaran kantor seperti yang terjadi baru baru ini di daerah Bima, penyerangan terhadap intitusi seperti penyerangan polsek yang terjadi di wilayah hukum Lombok Barat, kasus peemrkosaan, pembunuhan, perampokan dan berbagai peristiwa yang membuat hati kita miris. Orang-orang mudah terprovokasi untuk melakukan sesuatu dalam tindakan anarkhis, berbuat sesuatu berdasarkan naluri saat itu (emosi) tanpa memikirkan akibat dari perbuatan yang telah dilakukan itu. Penalaran-penalaran di bidang therapy ke agamaan dalam sebuah personal approach, pasti telah dilakukan para tokoh tokoh agama.
            Namun kalau kita tilik lebih jauh lagi selain sisi hukum Karmaphala yang utama dari berbagai peristiwa demi peristiwa yang terjadi adalah sejatinya merupakan gerbang pralaya. Pralaya dalam pengertian fisik. Bangunan-bangunan yang terbakar yang merupakan akhir dari ruang beraktifitas. Kalau dalam wana parwa ada disebutkan pada jaman berakhirnya (kali) yuga itu, hari-hari demikian cepat perputarannya, binatang-binatang sangat pesat berkembang biak. Manakala itu, semua alam semesta ini terserap kembali ke asalnya. Masuk kembali ke dalam diri sang maha penciptanya. Disebutkan dalam kali yuga hanya seperempat bagian dari kebajikan yang tertinggal, lembaga-lembaga, kebajikan yadnya (kurban), upacara/upakara, hal yang menjalankan agama yang telah ditetapkan, jatuh ke dalam lembah kehinaan (kemiskinan). Merajalela Iti (enam hal yang tidak baik bagi tanaman yang dibudi dayakan: Hujan yang melampaui batas, kemarau yang berkepanjangan, hama tikus, hama belalang, burung, penguasa negeri yang bermusuhan dengan negeri tetangga dan berkecamuk segala jenis penyakit, kelelahan, kemarahan, bentuk cacat dan salah, bencana alam, dan cemas serta takut akan kekurangan sesuatu (harta brana).
            Oleh karena yuga ini surut, maka pudarlah segala kebajikan itu. Karena kebajikan menjadi lemah maka merosotlah derajat ahlak manusia. Dan karena ahlak manusia merosot, maka alamnya ambruk. Dan kegiatan yang bersifat keagamaan yang diperbuat pada susutnya yuga membuahkan hasil yang terbalik.
            Apakah seperti itu yang kita rasakan di amsa masa sekarang ini?
            Sahayajnah prajah sristwa
            Puro waca prajapatih,
            Anena prasawisya dhiwam
            Esa wo stwista kamadhuk

            Sebagai penutup tulisan dan sebagai puncak kebanggan penulis terhadap saudara saudaraku yang tengah tertimpa musibah di Sidowaluyo, Lampung. Sebagai rasa bangga tak terkira pula atas kekuatan jiwa saudara saudaraku umat Hindhu Dharma dalam menghadapi cobaan ini dengan kebesaran hati tidak menjadikan sebuah dendam berkepanjangan, maka jalan kedamaian adalah jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup, kuciptakan sebuah sajak:
SEBUAH KAMPUNG YANG TERBAKAR
 Sidowaluyo Lampung : cahaya temaram duka

Kami menghuni rumah ini, bawah langit
yang diberkahi moyang kami menghendaki
sudah terpacak jalan :
                                    nama tergurat di atas tanah
pertiwi sejati
barangkali saja Tuhan tidak sedang berpihak
asap asap menggulung langit menyisakan puing puing
tanah hitam
langit hitam
dalam jiwa terlunta
            (burung burung sarat Karma terbang mengitari perkampungan dengan sayapnya patah, menjatuhkan airmata)
Entah karma kami sebelumnya untuk datang menggoda serta merta menimbun luka

Kami menghuni rumah ini, bawah langit
dari ketinggian kampung kampung hilang wajah, luluh lantak
tapi jangan ganggu Pura kami, tempat kami mengembalikan doa yang belum sampai
tempat kami mengadu
tempat kami menyejukan angan
tempat kami bersila
tempat kami bersimpuh
tempat kami berdamai
            (jangan ganggu tempat kami bersembah)

Kami menghuni rumah ini, bawah langit
kendati telah berubah
kami masih punya langit
yang masih menyisakan ribuan bahkan jutaan angan

Kami menghuni rumah ini, bawah langit
hanya engkau yang punya
dan engkau pula yang akan memberikan

Kami menghuni rumah ini, bawah langit
engkau yang punya semangat kami
untuk tetap bertahan
                        Tuhan: beri kami punyaMu
                                    Beribu ribu jiwa tak patah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar