Rabu, 08 Februari 2012

HEADIKUR DAN PEDIKUR SUDAH SINERGIS?


Sudahkah terjadi hubungan yang sinergis antara hedikur dan pedikur? Kalau kita gambarkan disini secara bahasa plesetan atau bahasa prokem untuk istilah anak-anak muda, Headikur kita gambarkan sebagai sebuah kepala, seorang pemimpin atau dalam struktur organisasi suatu perusahaan, headikur adalah seorang Manager. Sedangkan Pedikur kita gambarkan sebagai kaki, bawahan atau dalam struktur organisasi, pedikur adalah beberapa buruh atau istilah kerennya karyawan. Apakah sudah terjadi hubungan yang sinergis atau sudahkah terjadi suatu simbiose mutualisme antara headikur dengan pedikur yang nantinya akan bermuara pada abdomenikur?
            Kepala tidak akan mungkin berjalan tanpa kaki dan sebaliknya kakipun tidak akan mungkin berjalan tanpa kepala. Itu semua akan serasi kalau hubungan antara kepala dan kaki searah. Artinya kepala yang memiliki visi dan misi yang jelas akan menjadi sempurna buat kaki yang melangkah dengan mantap dan pasti untuk mencapai suatu tujuan. Seorang manager suatu perusahaan yang baik dan bijaksana adalah seorang headikur yang mampu mengayomi dan memberikan pembinaan bisnis serta moralitas yang baik buat staf dan jajaran para karyawan binaannya. Pertanyaannya adalah sudahkah anda menjadi seorang manager yang baik buat bawahan anda? Dan apakah anda sudah menjadi bawahan yang baik buat atasan anda?
            Ini adalah sebuah gambaran potret buram seorang pemimpin dalam bisnis usaha  yang mana headikurnya sendiri masih kental dengan karakter individu menyala-nyala dalam bahasa yang kurang kondusif terdengar di telinga. Seorang pedikur yang berharap akan memperoleh sebuah petunjuk dan bimbingan bagaimana kesulitannya menghadapi relasi dan rekan sejawat pada akhirnya berbalik arah tanpa mendapatkan suatu solusi dan keluar dari ruang headikur dengan wajah muram. Timbul sebuah pemikiran penuh tanda tanya untuk melangkah, Bagaimana harus menghadapi costumer sementara headikur tidak mampu atau jarang menyediakan waktu untuk hal-hal itu.
            Sekiranya terjadi demikian, headikur akan menjadi pintar sendiri dengan diplomatisnya menjawab, ”kita harus mampu dan jangan pernah menolak pelanggan, apapun yang dibutuhkan dan jangan lupa berikan kepuasan kepada setiap orang”. Namun terkadang tidak ada salahnya seorang headikur ikut terjun sekali-sekali menemani pedikur jalan-jalan untuk enterteint pelanggan atau user untuk memberi motivasi dan menunjukkan: Ini lho Kimia Farma (kalau diumpamakan apotek Kimia Farma), bukan hanya sekumpulan pedikur saja. Tapi headikurnyapun ikut jalan, turun tangan bahkan bergerilya mengejar omzet. Saya kerja lho ini. Bukan hanya ada di belakang meja selaku penanggung jawab. Saya sapa semua pedikur saya bahwa mereka sudah bekerja dengan baik. Saya sapa semua rekan-rekan dokter bahwa saya atas nama perusahaan mengucapkan terimakasih atas resep-resepnya yang berlimpah ruah memenuhi ruang peracikan apotek, sampai arsip-arsip resep tidak muat di gudang saking banyaknya yang harus disimpan. Dan bila mana diperlukan saya sapa semua pelanggan, pasien-pasien karena mereka semua memberikan kami uang. Karena sesungguhnya orang sakitlah yang meng-gaji- saya. ”Memang benar, tidak semuanya mampu kita puaskan tapi letak kepuasan yang benar adalah tidak ada salahnya bila kita mendengar apa keluhan pedikur dan bagaimana mensiasati costumer yang tidak puas terhadap pelayanan kita.
            Hanya sayangnya manakala headikur tertimpa temperamen yang tinggi dan hanya mendengar sepihak atau terlalu percaya pada omongan salah satu stafnya yang menjadi tangan kanannya dan spontan marah-marah lewat ponsel genggamnya pada pedikur yang menjadi bawahan dengan membuang segala logika keilmuannya yang dicapai setinggi langit pada sebuah perguruan tinggi. Dan jadilah headikur yang marah-marah memercikan petir di langit melampiaskan segala emosi membara, yang sebetulnya lebih bijaksana kemarahan itu disimpan di rongga langit-langit hati, tetap berperilaku mendengar apa yang menjadi kata-kata staff  kepercayaannya dengan memanggil baik secara lisan ataupun secara kedinasan pedikur yang bersangkutan untuk selanjutnya diajak duduk dalam ruangan dan menanyakan secara arif dan penuh suasana kesabaran memberikan kesejukan kata-kata yang nyaman di pendengaran. Kemarahan tidak akan selesai lewat komunikasi jarak jauh. Seorang pemimpin yang marah-marah pada bawahan lewat telepon tidak akan menyelesaikan permasalahan. Dan pedikur akan menilai dan berkomentar : ”wah, pimpinanku di-gaji hanya untuk  marah-marah saja pada bawahan!”
            Bisa dibayangkan kalau terjadi perlakuan demikian seluruh pedikur mandeg aktifitas dan tidak tekun bekerja bahkan pada mogok kerja? Kita tidak tahu apa yang akan dikerjakan hedikur kalau sampai demikian. Kepala tidak akan bisa bekerja tanpa kaki Dan kaki-pun tanpa kepala akan bingung harus melangkah kemana. Demikian halnya Bisnis manager tidak akan bisa bekerja tanpa adanya aktifitas outlet-outlet. Pimpinan tidak bisa bekerja sendiri tanpa bawahan. Outlet-outlet ataupun bawahan tidak akan bisa bekerja tanpa adanya bisnis manager sebagai perpanjangan tangan dari pusat Dan memang harus terjadi sinkronisasi yang bagus. Apa yang diinginkan headikur pada pedikur dan pedikur juga mengerti apa yang menjadi keinginannya terhadap headikur. Yang terjadi adalah sikap saling melayani dalam sebuah bahasa : ”bagaimana menunjukkan kerjasama yang baik terhadap costumer intern kita”. Headikur melayani pedikur dan pedikurpun melayani hedikur dalam perlakuan yang sama. Sebuah team-work yang solid. Seorang headikur yang berpengalaman, beberapa kali tugas keliling daerah nusantara, yang banyak tahu ragam adat budaya-bahasa dan karakter masing-masing pedikurnya yang bahkan pernah mengikuti kegiatan outbond-pun akan sangat paham, apa tujuannya kolaborasi.
Jadi jangan ada anggapan pedikur yang mengenyam pendidikan lebih rendah dari headikur, pedikur yang hanya menguasai bahasa setempat, belum sempat merantau kemana-mana muncul pemikiran, Wah, headikur ini ibarat membangun kerajaan kecil yang bergaya aristokrat dengan susunan menteri-menteri yang gampang manggut-manggut.
Mudah-mudahan tidak demikian. Kalaupun terjadi demikian memang patut disayangkan. Itu namanya headikurnya yang arogant dan pedikurnya berperilaku dengan menghambakan diri sebagai budak. (dgk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar