Rabu, 08 Februari 2012

AKU BUKAN PELACUR (11)


“Jaman sekarang tidak ada yang mempermasalahkan soal keperawanan, Win. Kamu percayalah pada bapak.” Lelaki itu seolah membaca pikirannya dan kata-katanya sedikit menghibur.
“tapi…….”
“Percayalah Win, tidak akan ada laki-laki yang mempersoalkan” Pak Wijaya mengelus punggung Wina lembut dan berusaha menghibur dengan kata-kata yang bikin hatinya sejuk.
“Iya tapi…..”
“Sudahlah, sayang, sudahlah! Apa yang kamu minta akan bapak berikan semuanya. Kamu minta apa sayang? Rumah? Mobil? Uang yang banyak? Atau……” Pak Wijaya memotong ucapan Wina dengan lembut. Namun di balik kelembutan ada ketegasan akan apa yang menjadi janjinya. Tidak muluk-muluk memang. Tidak terlampau muluk. Namun sulit untuk menolaknya.
Lelaki itu telah memberikan banyak uang untuk kebutuhannya selama ini. Lelaki itu demikian royal sekali terhadapnya. Dan ketika pak Wijaya mengajaknya ke suatu tempat dengan mengatakan ingin diwawancara untuk keperluan interview terkait dengan lamaran kerja yang telah dijanjikan sebelumnya oleh laki-laki ini. Wina mengikuti saja dengan penuh semangat. Dengan penuh harapan untuk memperoleh pekerjaan tanpa bantuan orang tuanya. Wina memang mau terlihat mandiri di hadapan orang tuanya. Wina bukan tipe gadis yang cengeng, mudah menyerah dan segala sesuatu selalu harus menggantungkan pada orang tua. Bukan. Ia benci sifat-sifat seperti itu. Dari kecil ia sudah terdidik untuk tegar dan mandiri. Itu ingin ia buktikan pada orang tuanya. Ia ingin memperoleh pekerjaan tanpa campur tangan orang tuanya, khususnya bapak. Itu akan ia tunjukkan. Maka ketika Pak Wijaya menjanjikan dia pekerjaan, betapa gembiranya. Dan karena itu ia berharap sekali akan memperoleh pekerjaan dari bapak ini.
“Pak…..”
“Apalagi?”
“Ngggggg……” Wina tidak jadi mengeluarkan ucapan. Bibirnya serasa terkunci.
Wina diminta mempersiapkan berkas lamaran yang disatukan dalam map. Dan map berkas lamaran kerja itu senantiasa tetap dibawa setiap dia nanti pergi bersama dengan pak Wijaya. Dalam rangkaian mencari kerja di tempat lain selain hotelnya, karena bapak itu banyak koleganya yang berprofesi sebagai pengusaha. Juga map itu dibawa serta untuk setiap ada wawancara yang sifatnya dadakan. Salah satunya juga ada dia titipkan berkas surat pada pak Wijaya. Lelaki yang sangat dia percaya, yang akan membantu dengan sungguh-sungguh. Dan kemana-mana map itu selalu menyertainya. Beberapa kali bepergian ke berbagai kantor menemani lelaki itu selalu juga ada map berkas lamaran kerja di kempit di ketiaknya. Alasannya nanti siapa tahu bisa buat bahan rekomendasi di kenalan-kenalannya yang lain, selain harapannya yang utama untuk pekerjaan di hotel yang dia kelola. Banyak juga kenalan pak Wijaya. Orangnya memang benar-benar sangat berpengaruh.

tiga
Dan ini wawancara awal Wina di sebuah hotel kawasan nusa dua. Interview yang eksklusif menurut istilah lelaki itu. Wina tak mengerti apa maksud dari kata-kata lelaki itu.
“Eksklusif apaan tuh pak?” Wina bertanya polos.
“Yah, semacam wawancara sekelas birokrat atau sederhananya miri artis lah,” jawab lelaki itu sambil memegang setir pelan tanpa melepas pandangan ke depan. Jalan raya terlihat ramai di siang yang panas itu.
“Wah, kayak artis aja pak?” Wina mesem-mesem malu.
“Hmm..iya..” Lelaki itu tetap tak mengalihkan pandangan ke depan. Di by pass keluar jalur menuju arah luar kota, melewati bandara Ngurah Rai kendaraan melaju kencang.
“Kita kemana, pak?” Wina memberanikan diri bertanya sambil melirik ke samping. Lelaki itu terlihat tengah berpikir, entah apa yang dipikirkan.
“Menemui seseorang untuk wawancara”
“Wawancara untuk kerja di hotel itu pak?”
“Hmm, iya. Nanti tunjukkan kesetiaanmu ya?”
Wina tidak mengerti maksud kata-kata setia. Setia? Setia terhadap apa? Setia terhadap siapa? Setia yang bagaimana? Apakah kesetian seperti seekor anjing pada tuannya? Wina punya anjing ponky pudel lucu, apakah kesetian ponky padanya yang setiap keluar rumah selalu menyalak pun sebaliknya ketika pulang sambil mengibas-ngibas ekornya. Ponky yang selalu tidur di bawah dipannya menunggunya sampai malam berlalu. Apakah kesetiaan macam itu?
“Setia ? Maksud bapak setia yang bagaimana?”
“Hm iya..ya setia, ya setia terhadap…partai,” lelaki itu seperti berusaha mencari jawaban

Tidak ada komentar:

Posting Komentar