Sabtu, 04 Februari 2012

CAMAR LINTAS ( 1 )


Sosok bayang camar melintas bukit bebatuan
            punah membakar kabar tak sampai, menakar jiwaku, membelah langit
alur senyap bayangmu aliri angan menyapa setiap kematian yang akan tiba
tempatku pijakan tanah mati dan selalu tersingkir dalam kekalahan, seolah membaca kegaiban, tanda-tanda Tuhan memberi keajaiban
cinta yang sia-sia, tengadah aku mengharap berkahmu
menantang matahari tak henti henti membakar sayapnya
            kelepaknya  rontokkan daun-daun berguguran
            hidup diantara reruntuhan angan manakala belajar pada burung
                         tak letih letih kepakan sayap, patahkan masalah dalam hidup
ternyata, cinta masih terlalu mudah diperdebatkan dalam recehan uang logam
cinta yang tak mengenal kemiskinan terbayar dalam janji tak jelas
kesendirian ini belum mampu melahirkan perkawinan dalam perjanjian tak pasti
dan keangkuhan ini koyak dalam kesendirian yang sunyi.
Kita butuh anak-anak
yang akan menjaga masa tua dari belenggu panti jompo
ajal yang telah dipersiapkan menghitung hitung usia demi usia reyot
            kita pungut kelepaknya, suatu hari nanti
            tidak perlu mempersiapkan selimut lalu siapa yang melahirkan anak anak kelak?
                                    ketika kentara dalam usia kian rontoknya asmara hati
rheumatik serta asam urat dan simpan saja ketakutan itu dalam rontokkan sayapmu           
ketika kita semakin tua dalam usia yang trenyuh menatap hari
ketika kenangan ini telah meninggalkan kita sebagai masa depan yang jelas terbaca
camar berjubah menantang angin,rentangnya musim
penuh duri serta masa depan hanyalah uap tak berbekas
            pada daging menganga, luka terbalut sunyi
            yang menawarkan keburaman,kebisuan,ketakutan
                                                luka berbalut sunyi dalam kehampaan
Rindu ini menunda kita mengenang petualang
                                                -atau mengakhiri percintaan
                        yang penat melintas ketakutan dalam ketakutan
bergulir di penghujung bukit, lepas mengarungi
senyap                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar