Jumat, 03 Februari 2012

AKU BUKAN PELACUR (10)


“Bapak sudah merusak hidup saya,” Wina terbata-bata sambil menatap sprei tempat tidur itu. Ada rasa penyesalan bermain-main di hatinya yang terpancar keluar lewat sudut matanya. Ada rasa kekalahan dalam hidupnya.
            “Sttt….., sudahlah, Wina. Sudahlah…., bapak mau kok bertanggung jawab untuk kejadian ini. Bapak siap karena bapak menyukai kamu,” Lelaki itu menghibur dalam berbagai harapan apabila Wina menginginkan hal itu. Bentuk tanggung jawab itu.
            Wina termangu.

dua
            Semula yang ada dalam pikirannya dia akan memperoleh kemudahan dalam hidup. Kedekatan hubungannya atau perhatian yang begitu besar dari laki-laki ini akan membuat martabatnya terangkat. Sebab pekerjaan adalah hal yang utama selepas dari sekolah. Disamping itu ikut organisasi ini juga untuk mengangkat citra ayahnya sebagai salah satu tokoh ABRI selain statusnya belum jelas karena menganggur.
            Pengangguran merupakan momok yang menakutkan baginya dan Wina tidak mau terus menerus menjadi benalu bagi orang tuanya. Pak Wijaya, seorang lelaki yang merupakan tokoh pembina sebuah partai politik tempat Wina turut beraktifitas karena harus turut serta jadi kontribusi untuk kelangsungan predikat ayahnya. Secara tidak langsung memang ikut memberi andil. Wina akhirnya aktif di kegiatan forum pemudanya, ranting dari partai besar itu.
            Rupanya sudah sejak lama pak Wijaya mengincar dirinya secara diam-diam. Wina baru mengetahui. Dari sejak pengukuhan dirinya dan kawan-kawan organisasi di kepengurusan. Mula-mula berupaya akrab dengan membahas pekerjaannya. Wina seolah-olah mendapat angin segar buat masa depannya, karena sudah lelah bergayut dengan orang tuanya. Malu juga. Wayan Suambara, saat itu sebagai ketua forum pemuda yang dipimpinnya sering menyampaikan pesan pak Wijaya kepada Wina.
            “Win, kamu mau dicarikan pekerjaan sama bapak,” ujar Wayan Suambara waktu itu. Wiwin seolah tak percaya. Karenanya dia semakin sering aktif terlihat di forum kepemudaan itu. Ternyata bapak pembinanya telah lama meliriknya dengan menjanjikan suatu pekerjaan.
            “Masak begitu katanya, pak?” Wina bertanya seolah tak percaya.
            “Kamu dijanjikan pekerjaan di hotelnya”  Wow, Wina terpekik senang. Ternyata pembinanya di FKPPI selain berpengaruh juga memiliki hotel. Benar-benar kaya orangnya.
            “Pak Wijaya berkata begitu? “ Seolah tak percaya Wina bertanya. Rupanya diam-diam Bapak itu memperhatikan dirinya.
            “Iya,” Wayan Suambara menegaskan.
            Wina lama bengong teringat akan perkataan ketua organisasinya di forum kepemudaan itu. Lama juga apa yang pernah dikatakan dan terngiang di telinganya. Pak Wijaya ini kedudukannya selaku Pembina di FKPPI dan di keanggotaan DPRD duduk dalam dua komisi.
            “Kenapa bengong, sayang?” Pak Wijaya membuyarkan lamunannya. Suaranya demikian dekat di telinga. Wina menatap lelaki yang badannya masih penuh keringat itu dengan pandangan kosong. Terasa hampa hidupnya kini. Namun apa mau dikata, segalanya telah terjadi.
”Nanti tidak ada laki-laki yang mau sama saya, pak! Laki-laki mana yang akan mau sama saya, kalau mengetahui keadaan saya sudah begini?” Wina berkata lugu menggambarkan kesedihan di matanya dan hatinya sangat putus asa. Hatinya terasa hancur sekali. Tapi mau bilang apa lagi.
“Nggak mungkin,Win. Bodoh namanya kalau laki-laki itu sampai menolak kamu. “
“Iya, tapi bapak sudah merusak hidup saya. Saya sudah…..” Wina tidak mampu meneruskan kata-katanya. Hatinya sudah merasa hancur. Siapa yang akan mau padanya? Laki-laki pasti akan mempermasalahkan soal keperawanan, walau nanti di bibirnya mengatakan cinta, mengatakan sayang dengan setulus-tulusnya. Itu hanya bohong belaka begitu mengetahui dirinya sudah bolong. Lelaki hanya pintar mengambil hati, penuh dengan kepura-puraan. Lelaki itu pemain sandiwara paling ulung. Banyak bohongnya. Setelah puas mengisap sari-sarinya yang melekat di tubuh, maka terbanglah ia dengan sesuka hati. Pergi meninggalkan kenangan manis. Dan berceritalah dia dengan kebanggaan akan wanita-wanita yang pernah dinikmatinya. Terkadang wanita merasa tidak adil sekali dalam hal ini. Coba saja kalau bicara soal laki-laki. Uh! Mana ada yang menyinggung-nyinggung soal keperjakaan laki-laki. Dalam status pernikahan hanya keperawanan yang menjadi soal. Tidak adil. Sangat tidak adil !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar