Sebuah novel
DG Kumarsana
Pagi membuka kembali.
Suasana yang diawali oleh dinginnya hawa embun pagi Ashram Ratu Bagus.
Sesungguhnya Rina bukan tidak sengaja terdampar di tempat ini. Tindakannya tidak seenaknya seorang diri pergi begitu saja meninggalkan suami. Meninggalkan anak-anaknya yang masih butuh teman bercanda di kala penat usai melepas segala rutinitas. Meninggalkan rumah selama berhari-hari.
”Aku harus mencari jawaban dari semua kejadian-kejadian yang menimpa hidupku. Disini!” desisnya berulang-ulang, di kala rasa percaya dirinya yang hilang.
Rina merasakan kenyataan hidup masa remaja sebelumnya dan setelah beberapa tahun berumah tangga sangat jauh berbeda. Entah apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Rina hanya tersenyum kecut tidak percaya ketika suaminya mengatakan dirinya telah dipelet seseorang. Ah, cerita dari mana itu? Benarkah sampai separah itu? Masak sih Rina kena pelet? Apa benar masih ada yang suka bermain pelet dalam kehidupan yang sudah sangat modern ini?
”Ayolah dik, pulang! Ngapain lama-lama disana? Buang-buang waktu saja. Aku sangat merindukanmu,” berkali-kali lelaki itu menghubunginya lewat ponsel. Lagi-lagi haji Saidi. Suara cengeng laki-laki yang tak tahu malu. Edan! Suka-sukanya dan sangat kurang ajar punya niat tidak baik ingin merebut istri orang. Huh!
”Tidak bisa! Aku disini tidak ada yang memaksa. Siapapun tidak ada yang boleh mengatur hidupku dan mempertanyakan aku harus berada dimana. Semua yang aku lakukan atas kehendakku sendiri. Bukan kehendak siapa-siapa. Pak hajipun tidak berhak lagi mengatur hidupku” Rina menolak dengan kata-kata yang cukup tegas.
”Ayolah! Ikut aku dik. Segalanya akan kuberikan padamu” Haji Saidi memelas melepas janji setengah menangis penuh harap. Lelaki yang miskin kasih sayang. Lelaki yang kekurangan cinta. Lelaki yang sempurna dengan kerapuhannya.
”Terus kalau seandainya Aku harus memilih pak haji, apa yang akan kamu berikan padaku?” Rina memancing.
”Apa yang adik mau? Harta berupa rumah? tanah? Uang? Semuanya akan aku berikan.” Suara itu menjawab cepat.
Rina tersenyum sinis.
”Aku tidak minta itu!”
”Terus apa yang adik mau?”
”Aku hanya minta tiga hal. Apakah pak haji sanggup menyayangi, melindungi dan menghargaiku?”
”Oooo, kalau hanya itu yang adik minta mudah. Gampang itu. Sangat mudah ” suara yang terdengar di seberang demikian ringannya. Semakin membuat Rina tersenyum sinis. Lebih sinis dari biasanya kalau terlihat di hadapan lelaki itu. Tiga permintaannya itu dianggap mudah? Semudah apa? Inilah laki-laki yang terlalu gampang mengumbar janji. Rina tidak percaya kata-kata lelaki itu.
”Tidak mudah lho pak haji. Ini lebih berat dari harta berupa rumah, tanah ataupun uang yang kamu janjikan. Rina tidak yakin itu.”
”Kenapa?”
”Karena tiga permintaan yang aku ajukan itu sesungguhnya sangat susah untuk dilakukan. Tidak semudah menggeluarkan kata-kata.”
Terdengar suara mendehem. Suara yang biasa dia kenal. Tanpa makna sama sekali. Entah lagi berusaha menjampi-jampi. Seperti yang biasa dilakukan padanya sewaktu masih di bawah pengaruh ilmu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar