Tibalah pada sebuah daerah baru. Sebuah daerah baru dalam imajiner kita jajagi buat arena perburuan, buat arti sebuah makna yang bertahun-tahun telah hilang termakan waktu oleh keterbatasan nalar buat mengambil apa yang telah diberikan. Mungkin terlalu pagi untuk berbicara soal imajinasi atau agak tergesa-gesa buat memanfaatkan, nyatanya kita hanya mampu mengelus-elus dada, mendehem kecil, celoteh tidak kejuntrungan, memaki-maki serta berteriak gombal dalam mulut manis. Luput mengamati makna selintas yang terlintas dan dibenak hanya ada keinginan tanpa mampu menguak keterbatasan perburuan sebuah imajinasi.
Telah ditantang lewat berbagai simbol-simbol bahasa kentara buat mengupas isi keseluruhan, atau sedikit demi sedikit, satu persatu, buat menilai segala eksistensi sebagai unjuk langkah buat memadati kata-kata. Agar kata mudah dipahami, dibaca, dihayati untuk dinikmati dalam pengertian yang gamblang. Mudah dicerna. Hanya sayangnya terlampau temperamental, usil serta sedikit rada-rada serakah mengangkangi apa sesungguhnya yang belum terlintas dalam imajinasi, sedangkan pikiran-pikiran untuk menyusun kata-kata tumpang tindih. Hanya tergores dalam keinginan pena nan dangkal. Hanya ada sedikit keinginan buat menoleh. Sekilas saja lalu nyengir, hoppss, belum ada terlahir sebuah kata, sederetan kalimat. Apakah gerangan yang mau ditulis? Puisikah? Cerpenkah? Catatan ringkas budaya atau featurekah? Ataukah hanya sekedar mengangankan ide-ide cemerlang penulisan rangkaian kalimat panjang sebuah novel?
Ah, apa yang telah diperoleh disana, hanya cerita masa lalu sebagai lompatan awal alam pikir manusia yang kekiniannya ditunjukkan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tingkah laku upaya pengalihan kesenjangan ketika dermaga belum jelas terbayang, membayang dipelupuk penglihatan. Dan mata kail belum memperoleh suatu hasil buat di santap, sampah-sampah dan segala kekotoran masa lalu yang patut dicuci dalam berbagai nasihat-nasihat suci. Hanya seonggok daging licin dangkal berupa belut, artinya hanya ada satu dalam genggaman tangan-tangan yang telah selama berhari-hari, berbulan-bulan bahkan mungkin bisa melewati masa yang akan datang yang belum terperangkap dalam jiwa buat memburu hari ini.
Hanya tertangkap dari segi luarnya melihat ia menggeliat-geliat tanpa ada kemampuan buat melawan. Tapi ini hanyalah tipuan sebuah penglihatan. Fatamorgana. Sedangkan inti kalimatnya, bagian terdalam sebagai makna intisari tetap sulit ditangkap bahkan mungkin licin, selicin belut dan seolah-olah kita berada pada hamparan padang tandus tanpa ujung pangkal yang jelas. Tanpa mengetahui tujuan yang sesungguhnya. Jelas dan nyata terbangun dari bingkahan sebuah kalimat yang indah, tak memaksakan diri mengernyitkan dahi buat membacanya. Sebangun dengan maksud pengarang dari rangkaian kalimat-kalimat yang dipaparkan untuk dapat dinikmati. Pada hakikatnya akan lebih baik lagi berdamai dalam diam ketika mengetahui ada sentuhan kalimat yang menusuk tajam. Rasanya sikap begini sungguh-sungguh diperlukan dan sangat bijaksana.
Mampukah kita mengolah daerah buruan itu sendiri untuk dijadikan sebagai akal budi daya dan nalar yang maha tinggi dengan melampaui kejenuhan sementara untuk mengambil alih budaya-budaya esensiil dalam kesigapan yang matang sebagai sebuah proses pendewasaan imajinasi? Barangkali semuanya butuh penuntun, yakni lewat latihan-latihan terjadwal rutin hingga akan lebih peka mengenyam budaya autodidak.
Telah diberi olehnya akal untuk diplomasi terhadap bentangan itu. Segala perlengkapan telah ada, semuanya tinggal memanfaatkan saja. Akhirnya keseringan kita terkecoh oleh apa yang ada pada diri kita, seolah-olah segala akal menjadi dibuat tumpul. Maka beramai-ramai kita beralih buat mencari segala alat dengan segenap akal.
Agaknya apa yang ada di luar diri kita dapat dipakai sebagai sebuah pemanfaatan pengolahan, kadangkala menggunakan sedikit napsu serakah, bejat bahkan sedikit membunuh, cara sadis dengan sedikit melakukan penyiksaan buat memperoleh kepastian yang hasilnya memang benar-benar penuh sensasi sebagai karya besar dan laku. Menyimpang terlalu jauh sebagai sebuah rasa intuisi bathin kita yang bergelut dalam kenikmatan karya-karya sastra yang besar dan melegenda.
Kita dan daerah sebagai perburuan makna, dihadapkan pada kenyataan paling pahit, dilematis dengan segala upaya yang ditunjukkan, kita dikuasai untuk selanjutnya menyiksa dan membabat habis-habisan tanpa ampas yang masih tertinggal atau sebaliknya kita menguasai dengan segala kebijaksanaan. Pada akhirnya kita ditantang buat berlaksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar