Cerpen : DG Kumarsana
Tinggal di rumah yang besar dan mewah dengan halaman yang luas ternyata tidak menyenangkan hatinya, sebagaimana bayangan orang-orang. Lebih-lebih dalam rumah besar hanya dia sendiri yang tinggal, pada saat-saat tertentu hampir menjelang malam barulah ayah dan ibunya pulang. Lili gadis mungil yang kini memiliki rumah boleh dikatakan ukurannya terlalu mewah, merasa kesepian. Ia begitu jarang mendengarkan obrolan orang tuanya.
“Ayah selalu sibuk di kantor. Lebih-lebih ibu. Sibuk ngurus organisasi, sibuk arisan, rapat inilah, itulah….ahhh!!!” kata Lili sedih di depan Arni dan Tuti sahabat karibnya.
“Itu semua ‘kan demi kamu,Li,” temannya berusaha menghibur kesedihannya.
“Demi aku?”
“Ya, berbahagialah kamu punya orangtua yang masih bisa memberikan segala-galanya. Masih bisa sekolah.”
“Apa..?” Lili sedikit berteriak tidak setuju. “ Kamu pikir aku sangat bahagia dengan keadaan begini?” Lili kian sewot. “ Coba pikir, pagi sebelum bangun tidur tidak sempat bertemu bapak dan ibu. Ketika sore pulang sekolah mereka kedapatan tidur. Dan aku tahu pasti sebentar juga akan siap-siap buat pergi lagi. Kadang sampai larut malam dengan alasan ada pertemuan. Lalu, kapan dapat ngomong-ngomong. Kapan?” suara Lili sedih. Matanya meredup. Ada airmata bergulir di pipi ranumnya. Dia memang membutuhkan teman yang dapat diajak ngobrol, bercanda untuk mengisi waktu luang.
Tiga bulan yang lalu, ibunya dengan kebanggaan yang sangat, membawakannya Poppy, seekor kucing yang manis, bulunya tebal kecoklat-coklatan. Persis kucing milik Fenny, hanya warnanya berbeda. Kucing Fenny berwarna hitam beludru dan agak kurus. Milik Lili jauh lebih gemuk. Setiap pulang sekolah Lili selalu bermain-main dengan Poppy kesayangannya disamping mengisi kesepian terhadap teman bermain.
“Punyaku lebih bagus, tuh! Matanya bundar, lebih gemuk dari punyamu,” seru Lili senang karena merasa menang sambil mengelus-elus Poppy kesayangannya. Fenny mendengus dari balik kaca jendela, lalu mewek. Lili senang menyaksikan Fenny dari balik jendela rumahnya.
“Wah, gitu-gitu mukamu persis lho, Fen,” seru Lili.
“Persis apa?”
“Persis kucing punyamu,” seru Lili semakin jadi.
“Ih….!” Pekik Fenny jengkel, lalu wajahnya menghilang di balik jendela. Lili sempat mendengar suara “Gedubrak” diiringi suara kucing mengeong kesakitan. Wah, pasti, pikir Lili. Apa lagi kalau bukan kucing Fenny dibanting habis-habisan karena ada yang mirip dirinya seperti kata Lili barusan. Lili ngikik senang sendirian di kamar dan menghampiri Poppy.
“Puuusss! Poppy maem, ya?”
Ngeooooooooong!
“O, kucingku. Kucingku manis.” Lili menimang-nimang Poppy kesayangannya. Cukup erat ia bergaul, seperti sahabat layaknya. Memang Poppy sahabat yang selalu setia menemani Lili belajar, sedikit melupakan kesedihan tentang orang tuanya, tentang ayah dan ibunya yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Dan setiap pulang sekolah, Lili selalu memberi makan, sorenya jalan-jalan ditemani Poppy. Suatu sore Lili ketemu Fenny di simpang jalan. Fenny keburu lari menjauh begitu melihat muka Lili. Lili belum sempat membuka mulut buat mengejek kembali. Lagi-lagi ia mengikik sendirian sambil menarik si-Poppy pulang.
Itu semua hanya bertahan sebulan, sebab pada hari-hari berikutnya, ia merasa kesepian lagi, selalu ingat kedua orang tuanya yang jarang di rumah. Kucingnya tak terurus. Dibiarkan mengeong kelaparan.
“Li, tuh si Poppy lapar,” ibunya berseru, merasa terganggu keributan suara kucing.
“Biarin!” Lili menyahut kesal.
“Lho, kok….?”
“Terserah! Mati, kek, maunya!”
Ibunya geleng-geleng kepala, lalu masuk kamar. Lili tercekat dadanya. Sakit, sungguh sakit. Kenapa Ibu memberi mainan seekor kucing yang menjadi sahabatnya, seolah memberi barang buangan belaka untuk dilimpahkan padanya sebagai pengisi kekosongan hati, sebagai penukar kasih sayang tak terurus? Aku butuh kasih sayang, aku butuh perhatian, pekik Lili dalam hati.
Dan itu sudah pasti, ibunya pergi lagi, katanya untuk urusan bisnis. Lili kembali merasa sendiri dan kesepian. Ibu sebentar aja kok, ntar ibu bawain Lili oleh-oleh dan…..entah omongan apa lagi. Lili sudah sebel. Sekali sebel tetap sebel. Uh, benci. Ingin ia lari dari rumah, lari dari segala kebencian yang mebebani hatinya, supaya seisi rumah tahu kalau ia lagi benci. Supaya seisi rumah mencari dirinya lalu memperhatikannya. Ya! Lili butuh perhatian, jerit hatinya.
Tiba-tiba ia teringat Rony, sahabat sekolahnya yang selalu memperhatikan dirinya. Ia beranjak ke kamar, diambilnya seluruh buku-buku di rak, boneka-boneka, pernak-pernik, entah mainan apa lagi jatuh berhamburan. Kamarnya sangat berantakan.
“Ini!” pekiknya sambil mengambil sebuah buku lusuh berisi kumpulan puisi, tulisan Rony, teman sekolahnya yang tinggal di dekat kali agak sedikit ke tepi. Mungkin karena terlalu seringnya ia main ke sana pernah ayah dan ibunya memarahi.
“Mau jadi apa kamu bersahabat dengan gembel itu?”
“Tapi itu teman Lili, pa.”
“Teman ya yang baik. Tidak macam gembel gitu, sikatan aja jarang!”
Ya Tuhan! Lili terpana. Beginikah orang tuanya menilai orang?
“Besok dan seterusnya Lili tidak boleh ke sana lago,” orang tuanya melarang.
Lili berontak. Secara diam-diam ia sering datang ke tempat Rony. Rony anak pendiam, tapi kepada yang cocok ia akan banyak bicaranya. Orangnya pintar. Lebih pintar dari Lili. Berbeda kehidupannya dengan Lili., Rony sepulang sekolah mesti mengembala ternak, mencarikan rumput dan memancing di kali. Itulah kehidupan yang dijalankan. Hasilnya lumayan, sungguh! Lili belajar banyak dari kehidupan Rony. Satu keahlian Rony yang menjadi kesukaan Lili yaitu, Rony sangat pintar membuat kata-kata indah. Merangkai kata-kata itu seperti merangkai bunga. Demikian indah dibaca. Lili senang membacanya.
“Ini namanya puisi,” Rony menjelaskan ketika Lili tanya apa tulisan-tulisan indah yang selalu dibuat sahabatnya . “Puisi itu menggambarkan keindahan gunung, pantai, sawah yang hijau dan macam-macam.”
“Bisa juga tentang kesepian, ya?” Lili bertanya.
Rony mengangguk.
Suatu kali pernah Lili ketahuan sering-sering main ke sana. Ia dikurung di kamar. Lili sedih. Tidak dapat lagi main-main ke rumah Rony menemani memancing ikan atau duduk-duduk di bawah pohon sambil menunggu ternaknya makan rumput. Sembari belajar menulis puisi. Esok harinya ia diijinkan keluar dengan janji untuk tidak main-main lagi ke sana. Lili hanya mengangguk dengan terpaksa, meski hatinya menolak, tidak setuju.
Dan kini ia melanggar. Ya, ia harus melanggar janjinya yang dipaksakan orang tuanya. Dengan catatan lusuh berisi kata-kata indah, Lili berlari-lari menyusuri pematang sawah, melewati hutan kecil. Biarlah Lili duhukum ayah dan ibu, pikirnya. Toh ia mendapat kegembiraan yang pasti bermain dengan sahabatnya, Rony.
“Hai, Rony!” Lili melambaikan tangan dari jauh saat melihat sosok tubuh Rony. Rony menoleh dan bangkit dari duduknya. Membiarkan alat-alat pancing semua berserakan.
“Wah, apa kabar Li? Tumben nggak dimarahin orang tuamu main kemari.”
“Biarin!” Lili menjawab kenes. Tangannya merogoh sesuatu dari saku dan menyodorkan di hadapan sobat karibnya.
“Asyik..! Ini baru kesukaanku. Wah, ternyata betapa mengertinya arti seorang sahabat di saat aku membutuhkan.” Rony menerima tanpa malu-malu, lalu memakan kue dadar pemberian Lili. Lahap sekali. Lili kasihan jadinya melihat keadaan itu. O, sahabat betapa pentingnya arti pemberianku yang tak seberapa, suara hatinya mengiba. Lili memang tahu makanan kesukaan sobat karibnya. Sering di kantin sekolah mereka jajan bersama. Selalu dan selalu Rony memilih kue dadar dibandingkan coklat atau makanan lain yang tersedia di sana. Lili tadi menyempatkan diri mampir untuk membeli kue kesukaan Rony di warung Bik Derah, di trotoar samping IGD Rumah Sakit. Mereka makan bersama. Air kali mengalir tenang. Kadang sedikit bergelombang. Mungkin ada buayanya. Tapi Lili ngeri kalau membayangkan buaya, jadi biarlah air itu mengalir tenang. Biar tidak ada buayanya. Pokoknya Lili tidak mau berkhayal di kali besar dekat rumah Rony ada buaya yang ganas. Angin pun terasa sejuk dan damai. Lili merasa lebih sejuk di udara terbuka begini daripada di dalam kamarnya yang dingin oleh dengungan membosankan yang ditimbulkan suara AC. Tidak! Di sini jauh lebih damai. Sangat damai dan sungguh damai sekali buat hati Lili. Banyak juga ikan yang diperoleh Rony hari ini.
“Boleh aku tidur di rumahmu, Rony?” Polos sekali Lili berkata. Sangat tiba-tiba. Membuat Rony tersentak kaget.
“Heh????”
“Ya, aku lagi malas sendirian di rumah. Sekalian buatin aku puisi. Puisi tentang seorang anak yang kesepian. Boleh ‘kan?”
“Lagi Ngambek, ya?” Tanya Rony berkelakar memancing tawa gadis kecil itu sambil mengemasi alat-alat pancingnya.
“lagi ingin belajar nulis puisi.”
“Tapi rumahku jelek, tidak seperti rumahmu yang bagus. Ada tempat duduk, ada meja belajar, ada tempat tidur,ada mobil, ada gambar wayang di dinding. Lantainya bersih dengan karfet yang berwarna sangat bagus dan nyaman. Ada kotak kayu yang gambarnya kadang-kadang bergerak yang eh…apa namanya?”
“Teve,” jawab Lili geli.
“Hm..ya dan kamu punya kamar sendiri dengan mainan yang sangat banyak. Tapi di rumahku tidak seperti itu. Kamu tidak akan suka.”
“Rony, jangan bicara begitu! Aku justru tidak suka semua itu. Barang-barang mewah yang ada di rumahku sering membuat aku keki,jengkel dan manja. Tidak! Aku perlu kamu, sahabat yang diajak ngobrol dan cerita-cerita yang menyenangkan tentang puisi. Janganlah ikut-ikutan seperti ayahku atau ibuku. Boleh ‘kan Rony?” Lili meminta. Suaranya mengiba. Matanya menatap dalam kepolosan yang penuh dengan permohonan.. Rony tidak mengiyakan ataupun menggeleng.
Mereka melangkah menuju gubuk tua, gubuk yang menjadi impian Lili sepanjang malam. Gubuk reyot yang memberikan kebahagian lahir dan bathin.
Demikianlah, dua sahabat yang begitu lama tak bertemu karena terhalang liburan sekolah yang panjang, kini menumpahkan segala kerinduannya. Bermain bersama-sama dari pagi hingga sore. Sudah demikian gembiranya hati Lili dapat melupakan segala kesepiannya. Disinilah seorang sahabat sangat berarti, memberi arti, memiliki pengertian yang dalam baginya. Sebagai pengganti orang tuanya yang selalu sibuk. Hingga suatu ketika, terjadilah suatu bencana yang menimpa diri Lili saat dia mandi di kali sendirian karena jenuh menunggu Rony sedari tadi jongkok dengan kailnya. Lili merasa ditarik oleh arus air yang sangat kuat. Ia tak mampu untuk berpegangan. Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan.. Sayup-sayup masih didengar teriakan Rony, sahabatnya untuk selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika Lili sadar, ia mendapatkan dirinya tengah terbaring di sebuah ruangan yang bersih. Tidak di dalam ruangan gubuk reyot itu.. Dilihatnya para zuster lagi hilir mudik. Ayah dan ibunya berdiri di sisi ranjang rumah sakit. Mulanya Lili takut. Ayah dan ibunya akan marah. Ayahnya pasti akan mengurungnya ketika ingat kata-kata tak menyenangkan hati tentang Rony. Tapi, Oh….alangkah jauh beda tidak seperti apa yang ada dalam bayangannya. Lili merasa bersalah. Ia merasa kalau sedang melakukan sebuah kesalahan besar yang tidak ada kata maaf lagi. Tidak juga. Ayah dan ibunya memegang tangannya, masih terlihat sisa-sisa airmata yang menempel basah di kedua mata ayah dan ibunya.
“Beginilah kalau aku terlalu keras padamu,” Lili mendengar suara penyesalan keluar dari mulut ayahnya. Tidak! Jerit hati Lili. Tangannya berusaha membalas pegangan tangan ayahnya.
“Besok kita undang temanmu ke rumah bermain-main bersama-sama ibu ya, nak?” Ibunya meminta. Lili tak mampu bicara. Karena tidak percaya. Dalam hati ada gemuruh senang. O, Tuhan. Terimakasih atas semua ini……………………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar