Kata terlahir dari hakekat hidup dan mati. Melewati barisan panjang alam pikir, bersambung, sambung menyambung menjadi satu dalam mengungkit makna-makna yang dikandung sang pemeram ide itu sendiri. Hakikat untuk menggurui dan memberi istilah. Sampailah kita di padang-padang gersang, tanah nan tandus kering matair, tanah tanah pecah bongkahan kemelaratan. Langit runtuh menyerukan ketakberdayaan akan kata yang tertinggal dan ia meninggal. Ajalnya diburu di belantara sunyi. Napasnya yang satu-satu digendong, sikapnya pasrah. Ditunggangi dia balas menunggang. Digendong, berbalik naik ke kepala, di ujung rambut lalu nyembur lari ke arah langit terang benderang. Orang-orang tengadah. Aku silau, kian kemari menyambut satu-satu. Tak menyangka, jatuhlah ia menimpa ubun-ubun masuk kea lam pikir dan bathin. Dan ia tampil dengan seragam baru, memberikan kehidupan lepas dari sisa-sisa kematiannya. Hiduplah kata dari rahim yang sama. Bermaknalah kata manakala diberi pengertian yang sama, gerak terpampang memberikan kisah airmata di balik kata nan terjungkir-balikkan. Ia menangis dalam hakikat kita menyurutkan medan buat jumput makna selintas satu persatu. Lalu kita memungutnya dalam sebuah pengertian yang dimaknai pembaca budiman untuk selanjutnya berhenti untuk menciderai.
Bayi yang lahir dari rahim seorang ibu mempersiapkan kehadirannya untuk lahir secara berulang-ulang dan ia tersentuh, lidahnya menggigil, matanya nanar teriak satu kata, mulutnya berbuih. Kejang dan kaku. Timbul dalam pikirannya untuk melarutkan kesengsaraan bersama kenikmatan semu yang dengan kain dekil dan belum siap bertaruh, ditontonkan beramai-ramai. Kesengsaraan adalah upaya pelarian. Tidak ada waktu buat menikmati senggama di bawah tindihan kekotoran-kekotoran segala debu, asap jalanan dan embun pagi. Demikian elok menyapa sinar surya menembus relung kata yang dipersiapkan buat memaknai sebuah peristiwa rutinitas dalam panggung dunia yang selalu sama. Sebab hanya sempat bergerak kian kemari dalam lingkup yang kian dibatasi oleh orang yang menyebutkan pembatasan-pembatasan moral yang menjauhkan segala maksiat. Aku jadi malu sendiri.
Bayi polos lahir dari suara-suara bisu memberikan tempat baru baginya buat berlabuh dan mulailah dalam kehidupan nol bersama perkembangan bayi itu sendiri. Kata berubah menjadi bayi total yang menuntun bersama jalannya waktu sampai menemukan kamus yang berarti lalu bergaul dengan kawan-kawan seperjalanan yang telah lama lahir dan akan mati meninggalkan raganya, bergaul dengan darah dan denyut nadi.
Entah kapan kata akan menjadi mati?
Sepertinya memang tidak akan pernah mati. Ketika lidah kita sudah tidak mampu berucap, ketika badan halus kita pergi meninggalkan raga, hakekat kata yang terucap manakala bersentuhan dalam pola komunikasi pada reinkarnasi generasi kita (pada keyakinan umat Hindhu ada istilah bertanya pada ‘leluhur’ atau sang yang telah menjadi betara lewat media seseorang yang pintar spt: dasaran). Jadi dapat disimpulkan bahwa masih ada komunikasi sang kata.
Entah dapat disimpulkan bahwa, kematiannya adalah kehidupan kedua melanjutkan totalitas kematian semula. Berhenti sejenak di halte sunyi, parkir dalam bentangan cakrawala barat untuk terbit kembali dari porosnya menanti tangan yang menggugat, sebab merasa tidak terikat untuk digugat. Senyumnya elastic, selentur karet dan menyatu antara kedua ujung. Elastisitas kata sarat sarkasme. Benihnya kian memperpanjang menabur warna putih, membirahikan kekenyalan kulit. O, elastisnya menyembunyikan tulang-tulang otot, di celah-celah paha, di lembah vital. Rapat dan padat. Halus dan lembut. Berselimut tebal. Berkain penutup. Tidak ada yang tahu.
Kata-kata bisu dituntun masuk ke dalam pada dasar yang tidak kelihatan, tanpa bentuk, tanpa pegangan yang kadangkala kehilangan arah. Masuklah dan buka dengan kehati-hatian yang lembut, secara estetis bisu perlahan ia akan keluar kembali berteriak sekuat-kuatnya membelah langit. Pekiknya membelah padang. Sambutlah kehadirannya, akan diperkaya kita olehnya. Biarkan bergaul sesukanya, sebab ia suka dimana orang-orang pada datang menyambut kedatangannya., orang-orang rindu akan kehadirannya. Sebab kehadirannya pelebur luapan rasa yang menggebu-gebu, tahulah dan semakin yakin kata bukan milik lidah semata.
Hidup adalah kata-kata berangkai dalam khalayan pikiran-pikiran yang termediasi dalam tindakan. Kata adalah kehidupan yang memberi warna pada bathin menemani segala gejolak samsara.
Karena kata, sobatku tiba-tiba berubah jadi seorang penyair yang bertahta di atas segala kemenangan hasrat. Karena kata, lintasan segala waktu tergilas menghilang, kian terlupa. Karena kata, kenikmatan memberi makna. Karena kata, kita menjadi kawan dan dalam bedah kata nan berbeda lewat interpretasi, kata menjadi kehilangan makna. Mungkin begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar