Minggu, 18 November 2012

PRANI



Kalau aku diberikan hak untuk menentukan pilihan maka aku lebih baik tidak memilih untuk kecewa, maka aku tidak akan memilih untuk sedih, maka aku tidak akan memilih untuk sakit, aku tidak akan memilih untuk benci, maka aku tidak akan memilih untuk susah dan akupun tidak akan memilih untuk menangis. Terkadang menangis itu memang perlu, di saat-saat mana untuk meluapkan bentuk kesedihan ataupun rasa gembira tak terkira.
            Kalau dalam hidup tidak perlu ada cinta akupun tidak akan pernah belajar mengenal cinta, karena kata kekasihku waktu itu; demikian dekat jarak antara cinta dan benci, hanya terhalang seutas benang tipis yang sewaktu-waktu akan mudah putus, rengat dan menyakitkan. Dan kalau aku ada karena benih-benih cinta, kalau aku terlahir hanya karena benih-benih asmara kasih sayang maka aku tidak akan dihadapkan pada kekecewaan, maka aku akan mengutuk habis-habis cinta kasih sayang sebagai sebuah kebohongan besar dan aku pasti akan  menyesalkan kelahiran ini. Dan pasti aku akan memaki orangtuaku kenapa mereka menanam benih benih cinta untuk melahirkanku. Benih yang tak beda jauh dengan kebohongan-kebohongan tentang cinta kasih. Dan akan betapa cengengnya kalau aku harus menderita karenanya. Itu tidak perlu terjadi.
            “Cukup sekali saja aku menangis dan tidak akan ada tangisan lagi,” katanya tegar.
            Aku tercenung, betapa tidak sempurnanya hidup ini. Aku harus siap menghadapi pilihan ini.”Aku hanya takut terlalu lama hidup bersamamu. Hidup ini terlalu banyak bohongnya,” seperti suara lirih yang menyuarakan kekecewaan.
            “Dulu akupun berpikir demikian, betapa terikatnya sampai-sampai aku bertanya pada diriku sendiri pada suatu malam yang terlalu banyak menyisakan airmata, kenapa aku begitu sangat mencintaimu dan di saat kesakitan-kesakitan ini kau berikan padaku. Aku menangis dan bertanya; dimana hatiku kamu simpan, pada bagian sebelah mana?di lekukkan sebelah mana? Kalau memang ada kamu simpan, tolong kembalikan hatiku dan di malam-malam kesendirian dalam kesedihan itu aku memohon padaNya, Tuhan tolong kembalikan hatiku yang telah diambil, jangan berikan aku cinta, itu terlalu menyakitkan dalam keterikatanku dengannya,”
            Aku tercenung mendengar kejujuran kata-katanya.
            ”Dan aku telah berhasil. doaku terkabul..............”
            Berulang-ulang putaran lagu I Can’t Stop Loving You di kuping yang terdengar justru hanya suara sumbang lagu jeritan nada-nada cinta yang menyayat kalbu tentang perjalanan seorang wanita menanti kekasihnya dari medan perang yang telah lama terjerumus dalam ikatan cinta. Sebuah penantian dalam kelelahan perjanjian yang terikat oleh cincin pertunangan. Larut aku dibuat dalam nada-nada lagu itu. Seolah-olah mengisyaratkan sebuah pertentangan hati. Kamu tidak akan pernah sanggup untuk mengerti, kamu tidak akan pernah untuk berpaling sekejappun. Aku terperangah malu, seakan sebuah kebohongan yang terbaca, seakan sebuah rahasia yang berusaha untuk disembunyikan pada setiap lekuk-lekuk rangkaian kata per-kata catatan harian yang panjang dengan deretan kalimat-kalimat yang dibuat sedemikian indahnya namun dibalik semua itu ternyata hanyalah sebuah kamuflase bagi siapa saja yang sempat membaca catatan harianku. Eh, ini catatan pribadi, tak seorangpun boleh membaca. Kenapa kamu iseng membaca, padahal kamu suka ingin mengetahui isi hatiku yang aku tuang dalam catatanku? Kupikir jarang ada orang yang mau menyodorkan rahasia hatinya untuk diceritakan ataupun seperti sebuah perbuatan yang sangat bodoh untuk memperlihatkan catatan harian yang terlalu pribadi sekali sifatnya.
            ”Maksudnya doa itu sudah mampu melepaskan ikatan cinta diantara kita?” aku mengejar.
            Dia mengangguk.
            Tidak kudengar lagi alunan lagu itu di telinga sepertinya pendengaranku sudah mulai tertutup menikmati letak sendi-sendi pada sebuah keindahan irama lagu. Tidak kudengar lagi apa yang menjadi kekecewaannya dan mulai saat itu aku mulai belajar untuk memahami sikapnya yang selalu diam, tidak tersentuh pancingan untuk menimpali dialog. Aku tahu betul wataknya kalau dia sudah bersikap demikian. Aku merasa egois oleh sikap-sikap keangkuhannya, entah ini dibuat-buat, hanya untuk mengurangi beban yang ada di dalam dada. Tidak pernah kulihat dia berubah seperti ini. Apakah ini artinya dia tengah menanamkan benih-benih baru di rahimnya untuk mengawali sebuah perdebatan baru? Benih yang namanya sebuah kebencian tidak mendasar? Ataukah benih kasih sayang yang diam-diam dipendam dalam seribu dendam yang senantiasa tidak berkesudahan? Akhirnya berharap sebagai sebuah lahirnya karma yang baru?
            ”Hush! Anak kecil ndak usah mendengarkan pembicaraan orang dewasa,” dia melambaikan tangan ke arah pintu yang sedikit terbuka. Sosok bayangan kecil terlihat menjauh dalam langkah kaki yang lapat-lapat terdengar melemah. Langkah kanak-kanak yang demikian ringan tertangkap telinga. Keponakanku yang nomor dua memang selalu demikian. Tidak pernah tenang mendengar suara bisikan-bisikan bersahutan yang muncul dari orang dewasa dengan aksen sedikit kadang kadang tegas tak mau dibantah. Dia mewarisi sifat ibunya yang selalu ingin tahu urusan orang ataupun urusan pamannya, apalagi sesuatu pertengkaran yang pernah demikian hebat terjadi pada adik iparku. Aku mendehem halus, semakin membuat pintu itu tidak tersentuh bayangan. Aku tahu keempat orang ponakanku lagi asyik membuat kesibukan yang tak  begitu berarti di ruang tengah.
            ”Apa warna yang bagus untuk batang pohonnya?” Keponakanku yang paling kecil nyelonong masuk kamar sambil menyodorkan buku gambarnya.
            ”Pakai warna coklat agak tua, sayang.” Aku menjawab sambil memperhatikan gambar yang sedang dia tunjukkan ke arah ibunya. Sebuah gambar pemandangan berlatar belakang gunung dengan hamparan sawah dan danau.
            “Yang mana warna coklat?”
            Kalau sudah demikian biasanya adikku akan menggendong menuju ruang tengah dan membimbing disertai dongeng-dongeng menarik. Tetangga rumah sebelah kami seorang janda dengan aksen khas bataknya. Sudah terlalu lama merantau. Dan biasanya adikku manakala mendongeng di hadapan empat anak-anak selalu disertai aksen khas bataknya sehingga membuat mereka pada ketawa terpingkal-pingkal. Anak-anak menyukai gaya bercerita ibunya.
            ”Lagi ma...lagi mendongeng,”  anak-anak mulai mengerubungi ibunya. Ketahuan sudah kecolongan dengan gaya menarik dari pertengkaran itu untuk dibuat istirahat sejenak dengan memancing anak yang paling kecil untuk menggiring ibunya keluar kamar. Mereka membentuk sebuah lingkaran dengan masing-masing menelungkupkan badan dan serempak dengan kedua tangan berpangku pada sisi dagu sebelah kanan dan kiri.
            Sejenak tiada perdebatan.
            Terlihat yang paling manja selalu yang terkecil dengan menarik-narik tangan ibunya sembari menyodorkan buku gambar.
            “Hush, adik. Kita dengar mama mendongeng dulu ya. Tuh ma, tentang sang kancil dan buaya....”
            “Nggak. Nenek lampir aja ma!” yang lain menyerukan dengan mengangkat nakal kakinya ke atas badan kakaknya yang tengah menelungkup.
            Demikian terus terdengar gelak canda anak-anak. Rumah yang riuh suara-suara membahagiakan. Ada yang menyanyi-nyanyi kecil. Ada yang merengek-rengek diselingi suara bentakan kecil salah satu kakaknya yang merasa dewasa.
Rumah yang sederhana.
”Entah benih ini milik siapa? Kenapa begitu kerasan berada dalam rahimku? Ataukah dia tengah meminjam rahimku untuk sementara waktu agar dapat berdalih ketika pada saatnya harus lahir nanti?” katanya beberapa hari kemudian. Wajahnya penuh ketakmengertian yang dalam. Penuh ketakberdayaan yang terasa semakin mempertebal bentuk kulitnya.
”Engkau mengadung benih yang salah,” kataku spontan.
”Mungkin.” jawabnya ringan tanpa beban.
”Benih yang bernama sebuah kebencian...”
”Dan benih kecelakaan!” lebih ringan ia menjawab, lebih-lebih tanpa beban.
”khilaf yang mengada-ada”
”Tapi bukan karena terpaksa!” ia sedikit sewot setengah melotot
”Iya, berwujud darah dendam yang membara. Suatu ketika kalau lahir, ia akan menjadi gumpalan-gumpalan darah yang tak wajar. Gumpalan-gumpalan yang mengandung beban dosa orangtuanya”
”Harus bagaimana lagi?”
”Engkau tak patut mengandung bibit karma yang tak jelas dalam rahimmu.”
”Tapi segalanya sudah terjadi”
Ia mengangguk-angguk. Diam sesaat. Seperti melihat ratusan korawa lahir dari ketakberdayaan drestarata.
”Aku tidak pernah ada keinginan untuk menghakimi takdir. Aku tak pernah menyesali segala sesuatu yang pernah terjadi antara kita. Namun setiap dosa yang kita yakini dan jelas-jelas kita lakukan bersama sepertinya kita tidak ingin ada karma turut andil dalam setiap kekhilafan yang kita lakukan.”
Aku terhenyak. Aku merasa benar-benar telah berada dalam lingkaran dosa. Aku merasa seperti ada yang diam-diam mengharapkan semua itu terjadi. Perbuatanku atas dorongan kemaksiatan setan telah mengubah jalan hidupku. Diam-diam seperti ada yang menguping dengar pembicaraan itu. Aku gemetar. Badanku penuh bulir-bulir yang bergulir berebutan diantara rongga pembuluh kulit terluar. Mengelupas menjadi darah. Darah yang menyudutkan pikiranku. Aku merasa ketakutan-ketakutan ini semakin nyata. Ketakutan-ketakutan ini terasa tak wajar. Ketakutan yang membentuk logika terbungkus kecemasan-kecemasan akan tuntutan karma nyata.
”Engkaulah yang paling bertanggung jawab terhadap semua kejadian yang telah menimpa diriku. Kalau dalam sidang di pengadilan nanti ada pengusutan lebih lanjut, maka engkaulah yang paling merasa punya beban, kendati engkau nanti bisa menutupi dosa-dosa yang telah terjadi tanpa dia mengetahui apa sesungguhnya yang telah terjadi. Kendati engkau bohongi dia secara terus menerus, kendati engkau bohongi semua keluargamu, semua saudara-saudaramu,semua tetangga dan para teman-teman dekatmu. Kamu bisa berbohong terhadap hakim, terhadap jaksa yang menuntutmu nanti. Tapi engkau tidak mampu membohongi nuranimu sendiri. Kamu tak akan pernah mampu membohongi Tuhanmu sendiri, pada siapa sejak kecil engkau telah diperkenalkan moralitas, dogma-dogma beragama yang benar.” katanya.
Aku gemetar.
”Seandainya dia tahu...........”
Aku semakin gemetar

Narmada,Maret 2011


Prosa kematian



Tak kulihat lagi lelaki itu menantang nafkah sehari-hari
peristiwa  telah menutupnya dalam lembaran hitam
tubuh yang tak mampu teriak. Tidak!  Aku tak mengundang kematian itu datang
tak kulihat hari ini kehidupan memberi makna baru memburu perjalanan panjang
tiba kabar duka
“kau tak pulang lagi, sayang?” suara istrinya mengemas duka yang pelan
sepasang mata bening berlarian menjemputmu
dengan sayap mengembang diam-diam membawanya pulang ke istana langit

PURNAMAMU LURUH DENPASAR



Purnama di atas ketinggian Catur muka
meluruh dalam waktu tak berbatas waktu
angin berpasang pasang memainkan tarian sepasang
bercengkerama dalam asap habis terbakar nyala diammu
ketinggian
bukan waktu yang tepat dalam kecemasan
dan prasangka
bukan sesuatu yang kita pahami sebagai rasa
menghuni jiwa
serta keinginan
bukan penghabisan untuk meresapi doa
            sekali waktu melintas dokar tanpa penumpang

purnama luruh di atas kotamu, warna warni indah
dalam keriuhan cahaya menghujam asap asap dupa
beterbangan
            : masih ada Jagatnatha, masih ada karmaphala diniatkan
denting genta sesaat merayapi pendengaran
rimba di sela sela kegelapan pephononan beton meretas cahaya
menikam daun daun jatuh
berguguran
purnama luruh di kotamu, di sekujur ranting ranting berbeton
lelap dalam riuh jalanan bergelayut bagai kera-kera lapar
tertelan dalam berbagai cahaya neonsign reklame dan plank plank
tak ubah plankton warna warni menjamur pada setiap sudut trotoar

purnamamu luruh Denpasar
matamu lesu
            sekali waktu wanita wanita malam bergelayut
            bergantung napasmu, jalan jalan sepanjang pasar membuka pagi
mengerak aspal ditindih asap knalpot
waktu menghitam dalam semalam tak memberi jarak matahari
singgahi atas tanahku
kotaku

purnamamu luruh Denpasar
sinar menghambat dedaunan, terhambat akar akar pohon berbeton
bias cahaya
bayang bayangnya jatuh ke tanah mengganti pohon pohon yang mulai hilang bentuk
dan di siang yang panas, cuaca bergantung pada satu peristiwa
mengikuti hiruk kota yang lebih bising dari riuhnya cahaya di malam hari
pelatuk ditarik
tidak ada jam yang tidur

denpasar, 28 maret 2012

Jumat, 16 November 2012

MANGROVE TAHURA SUWUNG KAUH



Satu korban
Gendo, beberapa luka kecil buatmu mampu mengembalikan hutan ini
Mengembalikan akar-akar mengutas habitatnya, jaringan pohon-pohon yang masih dengarkan
Suara burung-burung, mengembalikan akar-akar ini menahan perut bumi
Segelintir manusia pemangsa yang rapuh memamah moral
Mengelupas hingga mudah lepuh
Jangan hirau, Gendo, maju terus
Satu luka kecil hanya sayatan meninggalkan bekas yang memarnya nanti mampu
Mengembalikan gemersik dedaunan di hutan yang dianggap mati
Slang-slang kapitalis mulai merobeknya, kuku-kuku penguasa berbasis investor atas nama perubahan negeri, atas nama rakyat namun tetap memonopoli pengangguran, atas nama keranuman kota, atas nama keindahan dan atas nama pengelolaan
Gendo, satu luka kecil jangan membuatmu mundur
Hanya dua preman yang melicinkan pohon-pohon beton menumbuhi hutan mangrove
Sekali lagi, jangan membuat keder!
Hutan ini milik kita yang akan tetap menyelamatkan ancaman kerapuhan
Namun siapa yang lebih terancam, rangsangan perubahan ataukah godaan yang mengubah akar-akar pohonnya jadi lembaran mata uang
Akar pohonnya bakal menjerat jadi setan-setan tak punya mata hati
Akar pohonnya bakal menghasilkan sampah-sampah maksiat
Mangrove taman hutan raya ngurah Rai suwung
Dijelang taman hutan bakal perhelatan huru-hara

PEREMPUAN



Perempuan itu sering berjalan menyusuri sawah menghabiskan waktu dengan diam. Mata yang mengaca bening tak meninggalkan gurat menua. Separuh waktu berjalan dengan pikiran-pikirannya selebihnya mendahului waktu-waktu yang tidak berhenti untuk menahan pikirannya sendiri. Sepanjang jalan telah dilalui. Sepanjang sungai tak pernah lepas dalam susuran. Perempuan itu tak pernah punya cita-cita, tak pernah ada yang bertanya, entah berapa keturunannya hingga kini, entah berapa yang pernah terlahir dari rahimnya. Tak pernah ada yang tahu ataupun tak pernah bertanya. Bau amis keluar dari mulutku, katanya suatu ketika. Entah berapa ikan yang keluar dari rahim, barangkali kali ini melengkapi sirip untuk mengajarkannya berenang. Bulan jatuh pada hari kesembilan tepat memantul pada air yang bergerak pelan, sepanjang sungai yang telah berganti menyusurinya melahirkan anak-anak kembali. Air itu berubah bening, sebening matanya yang tak pernah diam mengalirkan misteri. Tepat pada purnama ke sepuluh, waktu menjaganya untuk terlahir hingga dia merasakan bau amis di mulutnya tak terasakan lagi.


lereng pengsong 15 nop 2012