Selasa, 13 Maret 2012

AJI SUAP (premanisme DPR)


Sajan, ru…….
200 jute nyuap
ulian kursi pemrentahan
mimih…menek ia dadi ketua partai
baan mata nelik, kijap-kijap nakeh bati

paparikane, ru…….
ngandelang proyek pacang nampi
pacekang gumine dadi sugih baan korupsi

Senin, 12 Maret 2012

PAKSI NGEDIL


Ngedil mekeber tegeh mentangin langit lan tegehan pasih
ngelepak kampidne nyujuh langit
receh angine ngaukin ujan
nekepin sunia di galang kangin
tegeh ngindang di duur gunung
nambung makeber nyerit mesbes keneh
ngangsur ungkah-angkih
ngurung lawatne sang paksi kateteh masunar matanai
uli useran yeh pasihe nganti nyat
uluh matanai lan sang paksi metinggah
nguluh warsa
maksa keneh puyung mamung gumine
ujug-ujug ngetelang keneh
nombaang abetne tastas telah aas sekabesik
maboya-boya nantangin gumi mentangin selat pasih
buka kampid matatu gelah paksi ngedil
mangenan
makeber
buung

CAMAR RESAH IV menuju persimpangan rumahmu


Camar lintasan langit membidik bulan
lima hitungan
jejak kosong sejak memburu-buru angin
menawar kesangsian latah
begitu jauhnya gelora laut biru
suatu hari punya jarak menjanjikan mimpi mimpi
                        kata hari esok nuansa lingkari
                        bening
kekosongan jiwa retak menyangsi
                        gugatan waktu
                        getaran matahari
kita lewat persimpangan, lewat tahun depan
bercakap-cakap di langit tak berhingga
                        sambil menggembalakan gelora

Camar lintasan laut bermata tak membidik
tajam
matahari tak usah memburu sayap sayap
patahan senyap
kalau dalam kelenggangan hasrat
sendiri,
            menatap gelombang tinggi menjulur julur
            tubuhmu
            dari sapuan bianglala

Camar begitu melintas
            terpaku resahku
lima bilangan waktu menghadang kabar
riak sesalan diri


Kamis, 01 Maret 2012

NOLAPAKHYANA PARWA (53)


Adalah seorang Raja, di negeri Nishadha, bernama Nala, putra raja Wirasena. Raja Nala adalah seorang yang kuat dan gagah berani. Beliau sangat akhli mengemudikan kereta. Dalam bidang itu tak seorang pun dapat menandinginya. Beliau adalah seorang raja yang sangat disegani oleh Raja-Raja lainnya. Mempunyai cukup pengetahuan atas isi Weda. Seorang pahlawan perang yang agung. Beliau tidak pernah berdusta, mempunyai bala tentara yang kuat, tetapi sayangnya bahwa beliau amat gemar bermain dadu. Beliau merupakan tokoh yang dicintai dan dipuja oleh pria dan wanita.
            Di negeri lain, yaitu di Widharba ada pula seorang Raja yang sama utamanya dengan Raja Nala, bernama Bhima. Beliau ini tidak berputera. Segala usaha sudah dijalankannya untuk mendapat keturunan, tetapi belum berhasil.
            Pada suatu hari datanglah seorang Brahma Rihsi pada beliau, Damana namanya. Rishi Damana dihaturi makanan yang lezat citarasanya dan dilayani dengan sopan santun oleh Raja dan permaisurinya. Atas jasa itu Raja diberi anugerah, bahwa beliau akan memperoleh anugerah keturunan. Kemudian Raja Bhima berputera empat orang yakni: (1) Damayanti (perempuan), (2) Dama, (3) Danta, dan (4) Damana (semuanya lelaki). Dewi Damayanti sangat cantik parasnya dan termashur kemana-mana serta menjadi pujaan lelaki di seluruh dunia.
            Raja Nala dan Dewi Damayanti telah sama mendengar keutamaan pribudinya satu sama lain. Tanpa diinsyafinya, maka tumbuhlah cinta – bakti pada diri mereka masing-masing, cinta yang kian hari kian subur, meskipun paras- muka dari pujaannya itu belum pernah dilihatnya. Raja Nala tidak dapat menahan rindu hatinya. Cinta hatinya menggelora dalam kalbunya, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskannya untuk bertamasya dalam tamannya agar terhibur hatinya yang rindu itu. Tiba-tiba ia melihat banyak angsa yang bulunya kuning keemas-emasan berkeliaran dalam tamannya. Seekor diantaranya berhasil ditangkapnya. Maka terjadilah sesuatu yang aneh. Angsa itu berbicara seperti manusia, katanya, “Wahai, paduka tuanku Raja, junjungan semesta alam. Paduka tuanku menangkap diri hamba pastilah bukan untuk disembelih. Ampunilah kiranya hamba ini. Hamba hendak mempersembahkan suatu jasa terhadap Paduka Tuanku. Sekiranya paduka tuanku dapat menyetujuinya, akan hamba ceritakan keutamaan prilaku dan kemuliaan paduka tuanku pada Dewi Damayanti, dengan cara yang demikian menarik hatinya, sehingga beliau tidak suka lagi mengindahkan orang lain, selain paduka tuanku sendiri”.
            Angsa itu kemudian dilepaskan oleh Raja Nala, lalu terbang bersama kawannya menuju Widharba. Angsa-angsa itu turun di taman Dewi Damayanti. Kebetulan sekali Dewi Damayanti tatkala itu bertamasya di dalam taman itu. Beliau lalu menyuruh dayang-dayangnya menangkap angsa itu, seekor angsa dikejar masing-masing oleh seorang dayang. Maka Dewi Damayanti tinggal seorang diri saja, karena ditinggalkan oleh semua dayang-dayangnya memburu angsa yang menarik hati itu. Seekor angsa masih tertinggal, dan angsa itu dengan mudah dapat ditangkap oleh Dewi Damayanti. Terjadilah pula suatu yang ajaib. Angsa itu berbicara seperti manusia, katanya,”Wahai Dewi Damayanti, hamba mengenal seorang raja di negeri Nishadha yang bernama Raja Nala. Kebagusan parasnya seperti Dewa Aswin, tiada manusia menandingi keelokan wajahnya itu. Bentuk perawakannya seperti Kandarpa. Jikalau paduka tuan putri menjadi permaisurinya, kehidupan dan kecantikan Paduka tuan putri akan berguna. Hamba banyak mengenal orang lain, misalnya : Gandharwa, Naga, Rakshasa, namun hamba belum pernah menjumpai orang seperti Raja Nala. Sebagaimana halnya paduka tuan putri laksana permata diantara para wanita, seperti itu pula halnya Raja Nala adalah adalah insan utama diantara para pria.”
(penulis, I Gusti Ngurah Ketut Sangka, Kerambitan 24 oktober 1964)

DI BALIK JENDELA, WAJAHMU(kah?)


Di balik kaca jendela, wajahmu
merah dadu bersemu bak kisah percintaan Romeo dan Juliet yang frustasi
mengatakan, cinta kita tak sampai hanya berbatas pagar reyot
dan hanya angin yang menyampaikan kabar
tidak, kau mengelak dan menolak
cinta kita ibarat sampek ingtay yang berburu bulan dalam percintaan tak sampai
serta menjadi kupu kupu yang mengisap asmara tak karuan
itu yang kau katakan dengan senyum mengembang menjanjikan
ah, engkau keliru dik,

Mari kita ciptakan cinta kasih asmara tidak seperti dalam novel percintaan, drama asmara
ataupun roman picisan yang membuat ikut-ikutan patah hati
serta tokohnya sengsara demikian menyayat mengakhiri kisahnya dalam airmata
di balik jendela, wajahmu menatap bayang bayang bulan yang memancar menembus malam
menjanjikan keanehan : janganlah menjadi Romeo, janganlah menjadi Sampek
jadilah bulan yang cahayanya memagari hatiku ketika tidak ada hati yang mau nangkring kemari
wahai, aku suka maumu
tahukah itu:
            diam diam
sepanjang malam aku memasuki jendela hatimu bersama cahaya yang
menyelusup dalam kegilaan,
            menyusun mimpi mimpimu yang akan aku terka
engkau berteriak kaget
            “bukan itu mauku!?”
aku tercengang
kupikir engkau sepasang Juliet dan Engtay yang diam-diam lesbi tak seronok
ah, hanya menduga
itupun dalam mimpimu tak jelas