”Jangan menunda waktu lagi, mbak Rin” itu kata-katanya mbak Widia yang tidak mau dibantah.
Rina akhirnya mengikuti saran temannya setelah beberapa hari kemudian keponakannya lahir. Lepas sudah satu beban tanggung jawab dalam hidupnya. Pertama-tama ia disarankan untuk membersihkan diri ke pantai sebelum melakukan perjalanan ke ashram yang dimaksud. Tidak ingat betul apakah ini saran mbak Widia ataukah dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan pembersihan diri ke pantai. Yang hanya masih bisa ia ingat ketika malam-malam menghaturkan canang mohon ke hadapan Hyang Baruna selaku penguasa laut, entah darimana tiba-tiba datang ombak yang besar seakan-akan hendak menggulung tubuhnya. Rina masih bertahan bersimpuh dengan tangan tercakup menghadap samudera lepas. Hantaman ombak kedua membuat tubuhnya terguling-guling. Rina pasrah melepas hidupnya saat itu pada kekuatan yang Maha Agung sebagai penguasa samudera. Kendati cakupan tangannya sudah lepas dari posisi semula, pada hantaman ombak yang ke tiga membuat matanya terasa perih luar biasa. Rina merasakan matanya berair.
Tiba-tiba laut tenang kembali. Baru menyadari kalau malam itu bulan mati. Tidak ada cahaya bulan yang menyinari bumi. Langit hitam. Tidak ada bintang-bintang menghias langit. Langit di atas laut sangat gelap. Rina melihat sepercik cahaya di tengah laut yang gelap. Dari cahaya yang muncul di tengah laut terlihat beberapa titik-titik nyala kecil yang kian lama kian membesar. Dari cahaya yang muncul di tengah laut terlihat samar-samar beberapa wajah yang pernah ia kenal, beberapa wajah yang tidak jelas ia hafal. Semuanya tersenyum dan melambaikan tangan terayun-ayun mengikuti gerakan ombak seolah-olah menunggu kedatangannya di seberang lautan. Wajah-wajah leluhur dari suaminya. Ayah mertuanya, bibi mertuanya, paman suaminya, kakeknya yang jadi mangku dan banyak lagi yang ia tidak kenal betul bagaikan anak-anak wayang tergantung terayun-ayun pada seutas tali. Memanjang terbentuk horison dari ujung ke ujung arah mata memandang.
Rina berusaha berdiri dibantu anaknya yang besar. Mengibas-ngibas kain kebaya yang basah oleh hantaman demi hantaman gelombang air laut tadi. Tidak mampu berlama-lama bengong dan sudah merupakan isyarat untuk segera pulang. Malam ini juga. Bergegas ia menuju kendaraan ditemani anaknya, yang sejak peristiwa tadi berlangsung hanya bengong menyaksikan keanehan-keanehan yang terjadi dan lebih aneh lagi ketika melihat tingkah ibunya. Nyoman tidak ikut menemaninya, karena saat tadi dia tinggalkan suami dan anak-anaknya yang lain lagi melakukan persembahyangan di rumah. Terngiang kembali ucapan mbak Widia di telinganya. Kian jelas terdengar.
”Mbak Rin, malam ini juga harus pulang ke Bali dan mohon petunjuk pengobatan. Kejadian yang menimpa diri mbak sudah sangat parah sekali.”
Malam itu juga ia minta suaminya mengantar sampai ke pelabuhan. Nyoman menghubungi adiknya yang berada di Bali dan sudah berulang kali menceritakan permasalahan yang menimpa kakak iparnya. Nyoman menyarankan adiknya untuk tidak menceritakan aib ini pada saudara-saudara yang lain, terutama sekali ibunya di rumah. Nyoman tidak ingin ibunya sakit karena mendengar berita ini.
Rina tercenung. Suara anak-anak riuh rendah baru pulang dari jemputan kendaraan yang khusus disediakan Ratu Bagus di halaman depan ashram tak mengusik pendengarannya. Gambaran peristiwa yang sangat mengerikan mulai mengelopak dalam ingatan. Membayang jelas. Satu persatu melintas. Kejadian demi kejadian mewarnai kehidupan rumah tangganya. Kian jelas tergambar. Berhamburan silih berganti merongga pikirannya. Terkotak-kotak dalam satu sekat musibah yang begitu tragis. Tak mampu untuk dihindari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar