6. bukan rentenir konyol
Sahatun bergerak dalam dunia pendidikan. Ya, Sahatun yang bergerak sebagai tenaga pengajar di sebuah dusun kecil. Jauh dari gemerlap cahaya kota. Tenaga pengajar yang pada jamannya sibuk mencari siswa. Mengejar-ngejar siswa untuk dapat mengenyam pendidikan bermutu. Sampai ke pelosok desa dia kejar anak-anak buta huruf.
Sahatun ditawari program. Program buat mengentaskan angka-angka buta huruf di desa-desa nun jauh terpencil. Namanya program keaksaraan fungsional. Kalau istilah sekarang di kota dalam konotasi: Program Pengentasan Buta Huruf yang didefinisikan sebagai: obyek pelengkap penderita, yakni sang penyandang buta huruf itu sendiri dan satunya lagi sebagai obyek buat ngobyek .
Disamping itu Sahatun sangat akrab dengan para petani. Pada mereka saling berbagi bahan kulakan. Tajam dalam berbisnis. Terkadang juga membunga-bungakan uang kepada setiap pedagang di pasar. Setiap minggu sepulang mengajar senantiasa menyisir pasar demi pasar. Mencatat-catat nama setiap peminjam.
Membenahi cara menjual dan membeli. Memperkenalkan teori dagang. Istilahnya, manajemen dalam berbisnis, kendati sebuah bisnis kecil-kecilan. Yang jelas sasarannya kena. Ibarat iklan; secuil mengeluarkan energi dan otak namun hasilnya benar-benar dahsyat. Dan setiap pedagang yang dikunjungi tentu akan jelas dan paham apa maksud kedatangan Sahatun.
Dagang gendong yang sarat muatan semangat hidup tinggi menggebu-gebu. Dan Sahatun menerapkan teori manajemen itu. Memberi modal kepada setiap dagang gendong yang melintas di rumah-rumah penduduk. Hidup sinergis dalam hawa desa yang mutualis berwarna kepolosan saling tolong menolong sesama mahluk hidup. Membentuk rantai kecil memanjang yang saling membutuhkan. Saling menguntungkan satu sama lain.
Kebutuhan yang kalau salah satu dihilangkan, salah satu ditunda, salah satu diabaikan akan membuat rantai kehidupan jadi berjalan tidak normal. Dan senantiasa mencatat-catat setiap kebutuhan, diselingi daftar nama-nama yang membutuhkan. Tapi bukan sebagai rentenir konyol.
Bukan! Ini hanyalah komunikasi sesama teman dalam bersosialisasi untuk mencapai proses beraktifitas. Karena kalau kredit ke bank mereka berpikir lebih terganjal dan seperti terkendala dalam jalinan kendali birokrasi nan ruwet. Penuh wara-wiri. Dan kawan-kawan di desa lebih menyukai cara praktis. Tanpa banyak cingcong negosiasi dengan solusi gamblang dan praktis. Tanpa membutuhkan pertanyaan menyebalkan tentang status sosial. Mengabaikan rangkaian pertanyaan menjengkelkan tentang surat-surat jaminan. Tanpa perlu menjelaskan omzet hasil usaha dalam angka-angka yang memusingkan kepala.
Prosa liris:
ROMANSA SAIDI
kisah asmara sang SENIOR (senang istri orang)
titian kembir
Karya
DG Kumarsana
CETAKAN PERTAMA
Romansa Saidi
Prosa liris
DG KUMARSANA
PENERBIT
PUSTAKA EKSPRESI
Jl. Diwang Dangin No. 54
Br. Lodalang, Kukuh, Marga, Tabanan
Bali. Telp. (0361) 7849103
E-mail : Pustaka_ekspresi@yahoo.com
Editor : Mohammad Ismail
sampul
Lukisan : Mohammad Ismail
Tata letak : I Made Sugianto
cetakan Pertama : nopember 2012
Percetakan : Ekspresi Printing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar