Barangkali saja kita perlu sedikit beradaptasi, berbaur dan menghayati tentang keindahan. Suatu aspek kehidupan yang bukan hanya terlihat melalui pandangan mata saja untuk keindahan yang dihadirkan. Selain daripada itu diciptakannya keindahan ini untuk kita jaga bersama dengan melatih intuisi seni kita secara terus menerus tiada henti, itupun terkadang sedikit melakukan tahapan perombakan dalam jiwa. Sebuah pertanyaan terlontar: perlukah keindahan itu? Siapa yang menampilkan keindahan? Keindahan ditampilkan untuk siapa? Serta berbagai pertanyaan yang keluar akan merumuskan sebuah kalimat bagaimana memaparkan sebuah seni, sebagai salah satu bentuk nuansa jiwa yang masih tetap mencari. Dan terus mencari. Sekali lagi sebuah pertanyaan, perlukah keindahan itu bagi kita?
Keindahan menyangkut banyak hal dari cara kita mengamati sebuah lukisan, membaca kalimat demi kalimat yang panjang dibalik sebuah cerita pendek maupun novel, menyangkut suasana hati manakala menatap ketinggian gunung, hamparan sawah, laut, danau ataupun keindahan dalam bentuk obyek penciptaan yang maha karya dari kemahakuasaan Tuhan pada sosok manusia yang ditampilkan dalam berbagai pesona penampilannya dan seterusnya.
Keindahan itu banyak hal dan berbagai hal yang tersangkut dan tersimpan di dalamnya. Alam ini demikian luasnya. Kita hayati keindahan-keindahan yang tersembunyi. Di balik mata memandang dari semua yang kita perhatikan dengan seksama, jelas tergurat suatu tata seni goresan tangan seni yang maha agung. Demikian sempurna. Demikian agungnya. Kita hanya tinggal menikmati. Sebagian dari kita melotot untuk memaknai arti keindahan dan apa yang tersembunyi di baliknya. Sebagian dari kita punya andil untuk merusak. Lalu pernahkan kita berpikir untuk dapat berbuat sesempurna itu? Jelas tidak mungkin. Kita berusaha mencapai titik untuk mencapai kesempurnaan yang tak sempurna. Kita tak pernah sempurna. Ciptaan beliau tak tertandingi manusia. Karena manusia hanyalah bagian terkecil dari debu ciptaan beliau. Kita hanya mampu memandang terbatas waktu, menghayati dalam kekerdilan, memuji kebesaran itu lewat kilau cahaya yang memenuhi ruang. Kita hanya mampu mengomentari dan berdecak kagum. Apa yang sedang kita geluti saat ini hanya sebagian kecil saja dari pesona keindahan itu. Kita memvisualisasikan (terkadang) terlampau berlebihan. Namun memang harus kita mengagungkan dengan kalimat tebal “Maha”. Satu sisi orang berkomentar atas apa yang kita hasilkan, satu sisi terkadang orang tidak mengerti. Keindahan sebuah sajak? Ah, entah bagian yang mana. Keindahan seni lukis abstrak? Ah, aku tidak terlalu menyukai lukisan. Keindahan di balik kalimat sebuah cerita pendek atau novel? Ah, sungguh sebuah kalimat panjang yang menjenuhkan dan aku tak suka membaca. Nah, kalau sudah demikian sasaran untuk memaparkan arti keindahan tidak nyampai. Penonton ataupun pembaca tidak nyambung dengan maksud yang dipaparkan pencipta karya itu, atau sebaliknya. Dan kalaupun tangan kita, pikiran-pikiran kita yang tertuang dalam sebuah karya belum mampu berbuat sejauh sebagaimana kebesaran tangan seni, buah pikiran-pikiran seni Yang Maha Kuasa yang demikian mudah menciptakan suatu keindahan tanpa waktu dan suasana yang jelas. Artinya daya cipta maha seni Yang Maha Kuasa tidak mampu kita siasati dengan kemampuan kita yang tidak seberapa untuk menyaingi keindahanNYA. Kita justru bagian dari keindahan itu sendiri. Memang demikian adanya. Tangan kita punya batas. Dan sangat terbatas! Kita akan banyak dihadapkan pada batasan-batasan. Pada akhirnya memang kemampuan kita diukur, sejauh mana punya batas. Sejauh mana punya nilai. Manusia menilai secara langsung dan gamblang. Tuhan menilai secara diam-diam tanpa kita ketahui.
Sebuah dalil tentang keindahan demikian rapi dan sempurna tercetus dari pemikiran seorang seniman. Hasil karya ciptanya demikian indah ketika orang menyukai. Sehingga tak jarang ia memiliki satu style akan bentuk karya yang ditampilkan. Dan ia menampilkan karakter seorang seniman dengan gaya hidup seniman yang terkesan nyentrik. Bentuk manusia seni yang khas. Ia mencapai karakter itu sebagai pedoman untuk karyanya yang akan diciptakan. Ia mengekpresikan dirinya lewat kacamata pembaca, dan ketika ia menulis rangkaian sebuah cerita seakan pembacanya terbius dengan apa yang dipaparkan. Karyanya dianggap bagus bagi penggemarnya. Ia memiliki satu wadah dalam kotak penggemar, kotak tenung yang membuat warna karyanya memiliki roh. Karenanya tak segan-segan ia mengadakan pengambilan bentuk lewat imajinasinya, pengabaian waktu bahkan sedikit ekstrem malah merelakan jasmaninya tanpa bentuk dan terkesan tak terurus. Ia segera melarikan jiwanya pada sebuah bentuk yang sesempurna mungkin. Kalaupun ia seorang penulis, jiwanya akan demikian akrab dengan bayang-bayang emosional untuk sekadar melebihi karakter karyanya. Karena kesempurnaan hasil sebuah karya seni tentu lebih memiliki nilai untuk dijadikan suatu ukuran tertentu penikmatnya. Perubahan-perubahan makna yang dikehendaki penikmatnya adalah pengaruh emosional yang telah menyatu antara pencipta dan penikmat karya itu. Lahirlah sebuah timbal balik yang dapat melangsungkan suatu kehidupan pencipta dari prosesi ketergantungan. Dan itu dapat sedikit demi sedikit menghalau kesejatian bersikap yang biasanya disangkutkan dengan kesejatian sosok pencipta untuk membagi keindahan yang dimiliki. Hanya saja perlu sedikit adaptasi gejala emosi yang ada pencipta. Karena emosi yang dihambur-hamburkan, jangan-jangan nanti akan melahirkan sebuah karya yang dangkal.
Kenikmatan suatu hasil karya seni yang tidak dinilai sebagai sebuah hiburan semata, akan dapat dianggap sebagai suguhan santapan bathin yang tidak sesaat memberikan kepuasan. Proses kreatif dalam memaparkan karya tidak terlalu perlu bagi penikmat. Penikmat hanya memenuhi keinginannya akan kepuasan membaca suatu hasil karya seni. Akan terbentang dua media antara pembaca yang bercermin terhadap bacaan dan pembaca yang menganalisa secara mendalam kalimat demi kalimat yang disampaikan untuk akhirnya dinilai sebagai sebuah keindahan yang absolut.
Batasan umum yang sering kita perhatikan karena adanya unsur penikmat yang direntangkan pada intuisinya yang tergerak untuk membaca, melampaui kreatifitas yang dihasilkan sang pencipta. Bagaimanapun kelenggangan terhadap batasan imajinasi yang komplek berada di lingkungan sang karya cipta seni, ketika pencipta mampu melukiskan dalam paparan yang menarik akan terbaca sebagai sebuah keindahan. Itulah rohnya seni yang sedang berada pada situasi ‘trance’ dalam sebuah karya cipta. Sebuah peluang pencipta untuk menguraikan kadar inderawinya yang dianggap imajinatif. Dengan demikian ekpresi karya hanya ledakan-ledakan emosi yang dalam dengan greget roh menguasai ciptaannya. Kalau suatu kreatifitas murni keluar dari perasaan-perasaan yang kuat akan melahirkan karya-karya yang penuh pesona.
Satu sisi keindahan berbagi akan halnya ciri sebuah karya adalah dengan memaparkan segenap perasaan-perasaan yang berkecamuk lebih ekpresip tanpa mengabaikan karakter obyek yang selalu penuh nuansa dinamis agar tidak terlalu dangkal untuk dinikmati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar