Sebuah novel
DG Kumarsana
Ada empat kegiatan rutin yang Rina jalankan setiap hari selama ia berada di sana sesuai petunjuk Ratu Bagus. Acara pagi setelah sarapan dilakukan di aula meditasi sekitar pukul 08.00 waktu setempat, memasuki aula yang biasanya terlebih dahulu setiap pasien ditutuh. Cara tutuh dengan menggunakan spuit di dalamnya mengandung air tembakau dimasukkan ke dalam hidung kemudian disemprotkan. Rina sempat pusing ketika untuk pertama kali ditutuh. Kepalanya berkunang-kunang dan muntah. Yang dimuntahkan itu katanya racun-racun yang ada dalam tubuh adalah racun yang disebabkan oleh hal-hal yang baik maupun tidak baik karena adanya unsur gaib yang memasuki tubuh. Dan diajarkan cara meditasi bio-energi adalah pada akhirnya untuk mendapatkan kemurnian diri. Seandainya bisa lebih cepat dapat mengaktifkan makan segala tambahan jenis penyakit baik itu secara sekala (yang terlihat) maupun niskala (yang disebabkan oleh hal-hal yang gaib) tidak serta merta dapat masuk ke dalam tubuh, sebagaimana yang dialami Rina saat ini.
Sekitar pukul sebelas siang istirahat sejenak untuk jadwal makan siang. Rina biasanya mengambil makanan yang tersedia di sana dan di bawa masuk ke kamar sambil tidur-tiduran. Terkadang kelolosan tidur hingga sore yang semestinya jam dua sore hari itu acara dilanjutkan kembali di ruang meditasi bio-energi. Terkadang Rina absen mengikuti acara kedua ini. Meditasi berlangsung selama kurang lebih 2 hingga 3 jam yang biasanya secara rutin melakukan pembangkitan bio-energi dengan aktifitas tertawa lepas yang selepas-lepasnya memang tidak membuatnya tertarik lagi. Rina sudah hafal betul gerakan-gerakan yang dilakukan dan menurut pelatih Ratu Bagus yang ada disana, hanya dalam waktu dua hari saja Rina sudah mampu melakukan pembangkitan bio-energi. Tubuhnya kemarin sempat terguling-guling, terpental beberapa meter dengan kepala membentur kursi. Hingga siang ini rasa pusing di kepala belum hilang akibat benturan itu.
Acara yang kedua ini berakhir hingga jam empat sore hari dilanjutkan dengan mandi sore. Rina punya alasan tersendiri juga di samping sering kelolosan tidur pada jam ke dua. Proses tutuh yang dilakukan di ashram dalam sehari saja bisa dilakukan dua sampai tiga kali. Itu semuanya tergantung dari ketahanan tubuh masing-masing. Rina nggak usah ditanya, kalau soal tutuh bisa saja dia lari menghindar. Sehingga memilih jadwal ketiga setelah makan malam yang dimulai jam tujuh sampai dengan jam sepuluh malam. Dia hanya akan mengalami sekali tutuh untuk selanjutnya kembali melakukan meditasi sampai jam sepuluh malam.
Satu jam setelahnya dilanjutkan dengan melakukan kegiatan agni hotra mengelilingi api suci di antara kayu bakar dengan ritual membentuk lingkaran secara bergantian mengelilingi disertai nyanyian puja-puji untuk Dewi Agni. Agni hotra dilakukan di halaman luar ashram.
Agni hotra dilakukan setiap malam tujuannya untuk memuliakan Dewa Ciwa, memohon keselamatan, kekuatan beliau dengan meminta apa yang menjadi harapan-harapan ataupun keinginan-keinginan kita agar terkabul.
Malam hari, setiap agni hotra berlangsung hingga jam sebelas malam, Rina senantiasa memohon terkabulkan harapannya untuk dapat lepas dari pengaruh ilmu pelet yang telah memporak-porandakan dan menghilangkan rasa percaya pada siapapun. Rasa percaya pada suamipun telah hilang dibuatnya. Rina mohon atas kemuliaan Dewa Ciwa untuk dapat dikembalikan lagi hari-harinya dalam kebahagiaan hidup bersama keluarga.
”Ya, Dewa Ciwa, atas kemuliaanmu hamba memohon, kembalikanlah hidup hamba ke jalan yang benar dan jauhkan hamba dari segala perbuatan kotor. Kembalikan diri hamba pada keluarga hamba yang demikian mengasihi dan menyayangi hamba.....”
Dan Rina mengikuti prosesi agni hotra hingga larut malam berlanjut di dalam kamar ashram hingga tersungkur tidur bersama mimpi-mimpi dan harapan-harapannya yang pernah hilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar