Sebuah novel
DG Kumarsana
Hukumlah dia Tuhan. Hukum dia lewat kemaha bengisan yang ada pada malaikatMu....” Rina bersuara lirih melupakan sesak sesaat. Sesak yang lama mengganjal di dada. Akhirnya menangis.
Menangislah ia sejadi-jadinya.
Sekeras-kerasnya.
Setelah puas menangis, kembalilah ia pada sebuah pemahaman bio energi di ashram untuk pendekatan jiwa melalui meditasi.
Proses awal meditasi dengan cara yang sangat simple ini yakni pertama dengan menyebut kata-kata tersebut di atas secara berulang-ulang, bukan semata-mata dengan membaca-baca mantra dan sekaligus untuk belajar fokus dengan bantuan sederhana melihat foto sang Ratu Bagus terpampang besar di tembok. Mula-mula fokus pada foto beliau. Terkadang juga ditambahkan dengan bantuan pengucapan kata-kata ” Ida Betara Lingsir” secara berulang-ulang dengan menggerakkan anggota tubuh seperti tangan sambil belajar olah napas, hirup napas dalam-dalam dikumpulkan di dalam perut di tahan sekuat-kuatnya dengan mengembungkan isi perut. Disaat perut terasa penuh dengan sendirinya pecah ketawa tanpa mampu di tahan, keluar begitu saja.
Untuk ketawa lepas ini ternyata tidak mudah namun kalau dikatakan sulit juga tidak. Ketawa disini tidak seperti yang dia bayangkan kendati ketawa memang tidak membutuhkan cara. Tertawa lepas dengan tertawa yang dipaksakan itu berbeda hasilnya, karena akan memungkinkan seluruh tubuh bergetar atau memang diajarkan untuk menggetarkan tubuh secara perlahan lewat ketawa itu. Itu terjadi ketika Rina sudah mampu fokus dan berhasil. Dan itu pula yang disarankan di ashram Ratu Bagus ini.
Sudah dua hari Rina tinggal disana terasa mulai ada perubahan. Lokasi ashram letaknya sangat terpencil jauh dari jangkauan jalan utama. Sangat jauh dari keramaian hiruk pikuk kendaraan. Untuk sampai di pesraman ini saja mesti menempuh 10 km dari jalur tumpangan umum. Itupun baru berpapasan dengan satu-dua kendaraan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Dia menyewa sebuah kamar apartemen diantara beberapa pasien yang rata-rata berasal dari luar Indonesia. Diantaranya dari Belanda, Inggris, Jerman bahkan ada yang dari Australia. Mereka cukup lama tinggal disana bahkan ada yang sampai berbulan-bulan. Banyak juga yang tidur di lantai wantilan. Mereka ini tidak dipungut biaya apa-apa. Hanya keikhlasan Ratu Bagus menyediakan tempat bagi mereka yang ekonominya kurang mampu selama menjalani pengobatan. Lain halnya dengan Rina karena menyewa kamar apartemen dibebankan biaya sewa kamar dan sedikit ada kebebasan dalam memilih dan menentukan jadwal makan minum yang berbeda dengan para pasien yang tidur di wantilan tanpa menyewa kamar. Namun pada saat pengobatan semua dapat perlakuan yang sama. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Apakah itu para pasien yang berasal dari luar Indonesia ataupun pasien lokal yang berasal dari Bali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar