Di jaman sekarang ini boleh dikatakan telah terjadi pergeseran nilai-nilai moral pada manusia. Ini tidak dapat dipungkiri dengan terjadinya berbagai tindak kejahatan yang pernah berlangsung selama ini. Contohnya dalam kasus kelam yang pernah menimpa dalam berbagai kerusuhan di kota Jakarta, sebagai manusia kita sudah tidak berpihak pada pikiran yang sehat dan sebagian sifat-sifat manusiawi telah jauh ditinggalkan hanya karena keberingasan sesaat. Menjarah toko-toko, melempari gedung-gedung serta membakar mobil. Ada mahasiswa yang tertembak saat demontrasi, sesama manusia saling bunuh bahkan berita-berita pemerkosaan yang tiada habisnya. Baru-baru ini di sebuah sekolah di Denpasar terjadi pemerkosaan siswa di bawah umur. Dan juga kasus bom bunuh diri. Sungguh perbuatan yang sangat biadab.
Terasa sekali kegelapan (timira) tengah menyelimuti sebagian besar kehidupan manusia. Inilah dalam hindhu kita sebut sebagai masa transisi kali yuga dengan tanda-tanda adanya berbagai gejolak bencana alam seperti gempa bumi, tabrakan beruntun, banjir besar disertai gelombang dan badai yang maha dahsyat, kemarau yang berkepanjangan, meteor yang menembus gravitasi menyentuh bumi membentuk kubangan bencana.
Pernah kita dikejutkan juga dengan tragedi berdarah di Banyuwangi dengan rangkaian pembunuhan bermotif dukun santet.
Yang perlu disampaikan dalam tulisan ini, bahwa betapa mudahnya dan ringan tangannya kita yang disebut sebagai manusia dengan huruf capital M, yang kedudukan sosialnya jauh lebih terhormat dari hewan, tega melakukan kebrutalan-kebrutalan di luar batas prikemanusiaan serta pikiran sehat selaku sumber dari ajaran tri kaya parisudha, tat twam asi dan ahimsa.
Menyikapi hal tersebut di atas, apakah benar kita ini tengah memasuki atau berada dalam suatu proses kali yuga? Suatu proses manakala alam semesta beserta isinya terserap kembali kepada asalnya, yaitu masuk ke dalam kemahakuasaan sang penciptanya atau pralaya (kiamat)?
Pada saat kali yuga berakhir (berumur seribu tahun, masa awal dan akhirnya melingkupi jangka waktu seratus tahun) pada umumnya manusia mempunyai sifat tidak jujur. Upacara, dana punia dan brata-brata tidak patuh lagi dijalankan. Brahmana tidak melakukan kewajiban sebagai seorang brahmana. Kalangan Sudra berprilaku sebaliknya. Banyak keterikatan terhadap materi, mengejar harta dengan lobhanya. Ksatria malah sebaliknya lebih banyak melakukan kegiatan dalam bidang agama yang justru seharusnya merupakan kewajiban dari kalangan brahmana. Sementara brahmana kebanyakan malah jadi juru kunci politik di bidang ke tatanegaraan. Menjadi menteri, perdana menteri, gubernur bahkan sibuk berkampanye dalam jajaran elit politik. Brahmana tidak lagi menyelenggarakan upacara keagamaan dan tidak mempelajari weda. Perjalanan dunia (adat istiadat/kebiasaan dalam tingkah laku etika beragama) nampaknya terbalik. Dan itu merupakan suatu ciri atau bayangan dari tibanya pralaya/kiamat (tirthayatra parwa bab VII bait 148)
Dalam kali yuga hanya seperempat bagian dari kebajikan yang tertinggal. Pada masa jaman besi ini Hyang Narayana berbusana hitam. Weda-weda, lembaga-lembaga, kewajiban yadnya (kurban), upacara/upakarta, hal yang menjalankan agama telah ditetapkan jatuh ke dalam lembah kehinaan (kemiskinan). Dan merajalelanya ‘iti’ (enam hal yang tidak baik bagi tanaman yang dibudidayakan) diantaranya: hujan yang melampaui batas, kemarau yang berkepanjangan, hama tikus, hama belalang dll, disertai dengan merajalelanya segala jenis penyakit Dari penyakit yang aneh-aneh dan angker terdengar dengan harga obat-obatan yang sulit tersentuh kaum yang lemah. Tragis. Segala bentuk kelelahan, kemarahan, bentuk cacat dan salah, bencana alam dan cemas datang silih berganti atas dasar rasa ketakutan-ketakutan karena harga yang terus melambung. Karena yuga ini surut, maka pudarlah nyala kebajikan itu. Karena kebajikan menjadi lemah, maka merosotlah derajat akhlak mahluk, sehingga mudah sekali melakukan berbagai tindak kejahatan seperti; pembunuhan antar sesama manusia, melempar bahkan melakukan penjarahan toko-toko yang bukan menjadi hak miliknya, melakukan pemerkosaan, segala bentuk kegiatan prostitusi dan segala kegiatan maksiat lainnya, telah terjadi suatu rasa saling kurang mempercayai atau menghargai satu sama lainnya. Karena akhlak mahluk sudah merosot, maka alamnya dapat menjadi ambruk. Segala kegiatan yang bersifat keagamaan yang diperbuat, pada surutnya yuga membuahkan hasil yang terbalik.
Inilah yang disebut sebagai kali yuga dimana semua mahluk hidup dalam tatanan status sosialnya yang lebih tinggi dan boleh dikatakan hampir mendekati sempurna telah memudar segala nyala kebajikannya. Memang kalau dihitung kurun waktu antara krita yuga, traita yuga, dwapara yuga dan kali yuga pada masa-masa perhitungan perputaran dari penciptaan alam, awal mulanya dunia ini tercipta sampai pralaya atau kiamat adalah 10.000 tahun dengan masa awal dan akhir melingkupi 1000 tahun. Apakah kita sudah berada pada perhitungan titik-titik kulminasi akhir sebuah masa dwapara menuju gerbang kali yuga? Pada hakekatnya karakter setiap mahluk telah menunjukan gejala-gejala benih permulaan masa kali yuga. Pada setiap manusia yang mengalami kegelapan bathin dalam melakukan tindakan di luar tatanan berseberangan dengan budi pekerti berlandaskan agama nan adiluhung itu sendirilah sesungguhnya telah mendahului memasuki masa kali yuga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar