Wina menatap sprei tempat tidur. Kamar hotel berbintang di kawasan nusa dua. Berulangkali ditatapnya sprei itu. Tidak berubah warna. Kain putih bersih yang meninggalkan kekusutan membekas pergumulan yang tadi sempat berlangsung. Tanpa mampu ditahan airmatanya menitik jatuh satu-satu. Dengan perasaan tak percaya dia menatap sekali lagi sprei yang meninggalkan bercak merah. Kemudian menatap pak Wijaya. Menunduk sesaat.
“Kamu datang bulan, Win?” pak Wijaya tadi sempat kaget.
“Ndak tahu,” Wina menjawab dengan rasa melompong. Seingat Wina belum saatnya datang bulan. Lelaki itu mengerti keragu-raguan Wina. Ada kesan terkejut terlihat dari bening polos matanya.
“Bener, Win?” pak Wijaya merasa kurang yakin dengan penglihatannya.
“Iya, pak tapi, hmmm lupa Win, kayaknya sih belum waktunya pak” Wina berusaha mengingat-ingat. Dahinya berkerut. Kayaknya sih memang belum. Oh, Tuhan. Kenapa bisa sampai begini? Berulang-ulang Wina mengumpat dirinya.
“Kamu masih perawan, Win?” Lagi-lagi pak wijaya seperti setengah teriak yang direndahkan suaranya dalam keheranan.” Kamu masih perawan…” Demikian mudahnya lelaki itu menyimpulkan, semudah keinginannya untuk melakukan kebebasan. Tangannya memukul-mukul kepalanya sendiri. Memukul-mukul tembok kamar hotel. Seperti ada penyesalan dalam perbuatannya yang telah ia lakukan pada Wina. Seperti ada sebuah kepedulian yang salah dalam tingkahnya. Barangkali dia ingat anaknya di rumah, anak perempuan yang suatu saat akan menjadi gadis, seperti Wina. Entahlah, apakah ini hanya sekadar sandiwara, Wina tak mengerti. Tapi Wina merasakan betul bentuk-bentuk pelampiasan penyesalan dalam kesenangan. Atau bisa juga bersenang-senang dalam penyesalan. Wina menatap bengong ulah lelaki itu.
“Nggak mungkin pak. Masak sih? Tapi ngg…… nggak tahu juga sih pak. Dulu pernah nggg… tapi dengan kejadian dulu itu…Aaah, nggak tahu pak. Win nggak tahu…. …pokoknya Win nggak tahu dah. Jangan tanya-tanya itu lagi pak. Win nggak ngerti. Win nggak tahu…..” Wina teringat malam laknat di kamar hotel Yogya. Hal itu tak perlu untuk diingat-ingat lagi. Peristiwa menyakitkan. Sangat menyakitkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar