Sabtu, 25 Mei 2013

SAJAK KECIL



Umbu Landu Paranggi

I
dengan mencintai
puisi-puisi ini
sukma dari sukmaku
terbukalah medan laga
sekali gus kubu
hidup takkan pernah aman
kapan dan di mana pun
selamanya terancam bahaya
dan kebenaran sunyi itu
penawar duka bersahaja
selalu risau mengembara
mustahil seperti misteri
bayang-bayang rahasia
bayang-bayang bersilangan
bayang lintas bayang
pelintasanku

II
dengan mempercayai
kata kata kata
yang kutulis ini
jiwa dan jiwaku
jadilah raja diraja
sekali gus budak belian
sebuah kerajaan
purbani
lebih dari napasku
bernama senantiasa
nasibmu
umbu landu paranggi

pusara, No1 Th 43 Januari 1970


 

Kamis, 09 Mei 2013

STASIUN GAMBIR JAKARTA MENANTI PAGI SEMPURNA



Umbu Landu Paranggi


Kabut terakhir,
            pelahan  surut ke arah barat
merecikkan sosok sunyi,
            di bangku tunggu yang berangin
sejauh itu jua percakapan,
            meresonansi di rahang ruang sendat
stasiun di mana kota jantungmu di mana
            menjanjikan segala pertarungan
bersiap-siaplah, berdamai dengan hati
            masuk suaramu, tebaran mega biru
memburu fajar di mana,
            pelintasan membayangi pelintasan
pergumulan akan dimulai lagi,
            segera padang Kristal gemuruh adegan
sekian cerita, kenangan dan gigi waktu
            memahat-mahat siang malammu segera
terjaring langkahmu dalam pusaran jakarta

Jakarta, oktober 1969
Pelopor Yogya, 22 februari 1970
 

SAJAK DALAM ANGIN



Umbu Landu Paranggi


Sebelum sayap senja
(daun-daun musim)
Sebelum hening telaga
(burung-burung malam)
Sebelum gunung ungu
(bisik suara alam)
Sebelum puncak sayu
(napas rindu dendam)
Sebelum langkah pengembara
(hati buruan cakrawala)
Sebelum selaksa kata
(sesaji upacara duka)
Sebelum cinta itu bernama
(sukma menguji cahaya)
Sebelum keningmu mama
(kembang-kembang telah bunga)
Sebelum bayang atau pintumu
(bahasa berdarah kenangan maya)
Kabut itu dikirimkan hutan
Gerimis itu ke padang perburuan
Gema yang itu dari gua purbani
Merendah: dingin, kelu dan sendiri
Namaku memanggil-manggil manamu
Lapar dahaga menghimbau
Dukamu kan jadi baka sempurna
Dan dukaku senantiasa fana

Yogya, 1968
Pelopor Yogya, 26 april 1970